Sepenggal Semangat Kaum Disabilitas Taklukkan Catwalk

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 23/10/2019 18:52 WIB
Sepenggal Semangat Kaum Disabilitas Taklukkan Catwalk Sejumlah model disabilitas dilibatkan dalam peragaan busana Cotton Ink x Intoart dalam gelaran Jakarta Fashion Week 2020. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bunda, aku gugup, penontonnya banyak banget. Pesan singkat itu dikirimkan Namira Zania Siregar kepada sang ibu, Nini Andrini pada satu waktu. Namira gugup, ratusan pasang mata akan menatapnya saat melenggang sebagai model disabilitas di atas catwalk.

Sekilas, Namira tak ubahnya model-model lain. Dia melenggang di atas catwalk dengan percaya diri. Namun, siapa yang sangka jika Namira merupakan anak dengan down syndrome (ADS).

"Saya balas, 'Semangat, Dek. Pasti bisa. Bismillah'," ujar Nini mengenang masa-masa awal si buah hati melangkah menjadi seorang model saat ditemui CNNIndonesia.com di Schaffer Studio, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (21/10).

Tergabung dalam Gigi Art Dance seharusnya membuat Namira tak asing lagi dengan dunia pertunjukan. Namun, Nini maklum dengan rasa gugup yang dialami Namira.

Salah satu pasalnya, menjadi model menuntut Namira untuk melenggang seorang diri di atas panggung. Berbeda dengan menari yang memungkinkannya tampil bersama kelompok.

Bahagia, Namira berhasil melawan rasa gugup dan melenggang cantik dalam balutan busana dari label Teatum Jones dan Sheila.

"Harus bisa, kak!" tukas Namira bersemangat saat ditanya soal aksi panggungnya tahun lalu.

Persiapan show kolaborasi antara Cotton Ink x Intoart yang digawangi British Council untuk Jakarta Fashion Week 2020 melibatkan sejumlah model dan seniman disabilitas. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)

Saat ditanya keinginannya untuk terus menjadi seorang model, sang ibu berseloroh. Nini mengatakan kalau Namira begitu senang tampil, apalagi jika ada kamera yang membidiknya.

"Dia mah banci tampil. Dulu waktu di sekolah (SLB), dia pernah ngotot mau tampil padahal enggak pernah latihan. Gurunya bilang biarin aja. Eh, dia tampil nari lagunya Cherrybelle," kata Nini disusul tawa.

Namira menjadi salah satu model disabilitas yang dilibatkan dalam pertunjukan kolaborasi antara label Cotton Ink dan studio desain seni asal Inggris Intoart dalam gelaran Jakarta Fashion Week 2020 pada Kamis (24/10).

Namira tak sendiri. Selain Namira, pertunjukan juga bakal melibatkan model disabilitas. Pada tahun 2018 lalu, mereka bersama-sama membawakan busana label Teatum Jones dan Sean Sheila.

Tengok saja Echi Prawitasari. Baginya, tantangan menjadi seorang model hanya terletak pada ruang makeup. Bukan apa-apa, sebagai seorang tunadaksa, Echi membutuhkan ruang yang lebih luas yang memudahkannya untuk bergerak ke mana-mana dengan kursi roda.

"Ke depan, pengin, sih, ditekuni. Saya belajar hal baru dengan menjadi model," kata Echi, ditemui dalam kesempatan yang sama. Dia bahkan berharap, ke depan dapat membuat wadah bagi kaum disabilitas untuk mengembangkan diri.

Pelibatan penyandang disabilitas ini menjadi bentuk kampanye British Council yang telah dimulai sejak tiga tahun lalu. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)

Berbeda dengan Echi, Fila Inayah sempat malu karena merasa memiliki kondisi berbeda. Fila hanya memiliki satu tangan kanan.

Tak pernah terpikirkan oleh Fila untuk melenggang sebagai seorang model. Apalagi ibu satu anak ini dituntut untuk bisa mengenakan sepatu hak tinggi.

Selama beberapa hari jelang pertunjukan, Fila terus berlatih berjalan dengan sepatu hak tinggi. Dukungan keluarga, terutama dari suami dan anak, membuat rasa takutnya sirna.

"Jadi model, bikin saya menambah percaya diri," kata Fila.

Beda disabilitas, beda pula tantangan yang dihadapi. Febby Widya Putri dan Martha Hardy, misalnya. Ketidakmampuan telinga untuk mendengar membuat keduanya kesulitan dalam menyesuaikan langkah dengan ritme musik.

Mereka harus mengikuti dan menyesuaikan langkah dengan melihat gerakan model lain.

"Ngikutin itu susah. Makanya harus ada juru bahasa isyarat (JBI). Kalau enggak, bisa kacau," kata Febby dalam bahasa isyarat.

Febby yang terbiasa bergaya di depan kamera sejak 2015 juga merasa gugup jelang pentas. Semua mata penonton tertuju padanya. Jantung, kata Febby, rasanya seperti mau copot.

Berbeda lagi dengan Martha. Martha merasa tak percaya diri jika disandingkan dengan model-model lainnya. Apalagi mengingat tubuhnya yang kecil. Berada di tengah model dengan tubuh tinggi semampai membuatnya tak percaya diri.

Pelibatan penyandang disabilitas dalam dunia seni di Indonesia dinilai masih belum banyak mendapatkan perhatian. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)

Kemunculan model-model disabilitas memberikan bukti bahwa dunia fesyen terbuka untuk berbagai kalangan. British Council jadi salah satu lembaga yang memberikan kesempatan bagi kaum disabilitas. Tahun 2019 menjadi tahun kedua digelarnya kampanye mereka soal inklusivitas melalui peragaan busana.

Head of Art and Creative Industry British Council, Camelia Harahap mengatakan, pihaknya memprioritaskan untuk mengangkat isu disabilitas. Kampenye sendiri telah digelar sejak tiga tahun lalu.

"Di Inggris sendiri disabilitas di sektor seni mendapat perhatian lebih, sedangkan di Indonesia belum berkembang. Disabilitas masih dilihat sebatas amal [charity], bukan karyanya," pungkas Camelia.

[Gambas:Video CNN]


(els/asr)