Media Sosial Jadi Senjata Bangun Rasa Cinta Kain Tradisional

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 24/10/2019 11:12 WIB
Media Sosial Jadi Senjata Bangun Rasa Cinta Kain Tradisional Ilustrasi. Kreativitas dan media sosial jadi cara paling ampuh untuk bangun rasa cinta terhadap kain tradisional Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama ini, kain tradisional identik dengan kesan kuno dan ketinggalan jaman. Pemakaiannya pun terbatas pada hari-hari tertentu. Kain tradisional Indonesia seolah semakin tertinggal dengan industri fast fashion.

Padahal, wastra Nusantara juga memiliki nilai, kualitas, dan potensi untuk bisa dikenakan sehari-hari dalam berbagai kegiatan. Ada batik, lurik, tenun, ikat, dan berbagai metode serta bahan lainnya yang berkembang di seluruh Indonesia.

Kreativitas dan penggunaan media sosial dinilai jadi cara yang paling ampuh untuk menumbuhkan cinta pada kain tradisional Indonesia. Rasa cinta bisa membuat kain tradisional mendapat tempat di dalam negeri hingga mendunia.


"Studi menunjukkan, kaum milenial itu dekat dengan media sosial. Media sosial sangat penting bagi mereka. Jadi, kalau mau menyebarkan kecintaan terhadap kain Nusantara, cara yang paling tepat adalah lewat media sosial," kata desainer Christina Pangaribuan dalam talkshow di Jakarta Fashion Week 2020 (JFW), Rabu (23/10).

Christina, yang juga merupakan pengajar mode di ESMOD, mengaku sudah mulai mengenalkan kain tradisional kepada anak didiknya, calon desainer masa depan. Menurut Christina, selama ini banyak anak muda yang tak terlalu mengenal kain tradisional. Pemahaman seperti nilai, makna, dan cara pembuatan cenderung nihil di kalangan anak muda.

Namun, setelah diberi pemahaman, banyak dari muridnya mulai mencintai kain tradisional dan memasukkannya dalam setiap karya mereka.

"Banyak murid saya jatuh cinta setelah dikenalkan dengan wastra melalui media sosial, website, dan lomba. Jadi, memang harus ada stimulasinya kalau untuk anak muda," ungkap Christina.

Selain media sosial, para desainer juga ditantang untuk bisa mengolah kain tradisional menjadi busana siap pakai dengan desain yang kreatif.

"Desainer bisa membuat desain yang edgy dan tidak membosankan dengan beragam warna agar anak muda tertarik," kata Monique Hardjoko dari Komunitas Perempuan Pelestari Budaya Indonesia dan Pecinta Wastra Nusantara, dalam kesempatan serupa.

Kain tradisional yang dimiliki Indonesia lebih dari sekadar motif dan warna yang terlihat. Di balik kain itu terdapat cerita dan nilai yang merupakan bentuk komunikasi dan ekspresi masyarakat pada zaman dahulu.

Saat ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menetapkan 39 jenis kain tradisional Indonesia. Yang terbaru di antaranya adalah Ikat Silungkang sari Sumatra Barat.

"Ini masih dari jenis kain, belum motif dan corak serta bahan yang digunakan. Tidak hanya kapas, tapi juga dari kulit kayu," kata Kepala Seksi Pengelolaan Warisan Budaya Tak Benda Kemendikbud, Hartanti Maya Krishna.

[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)