Lorong Waktu Empat Desainer di Panggung 'Masa' JFW 2020

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 24/10/2019 18:17 WIB
Lorong Waktu Empat Desainer di Panggung 'Masa' JFW 2020 Friederich Herman, Ari Seputra dengan label Major Minor, dan Sean Sheila X Byo berbagi runway dalam panggung 'Masa' di ajang Jakarta Fashion Week (JFW) 2020 di Senayan City, Jakarta, Rabu (23/10). (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perjalanan fesyen dari waktu ke waktu terekam dalam panggung 'Masa' di Jakarta Fashion Week 2020. Panggung ini memperagakan hasil perjalanan empat desainer dan label ikonik Friederich Herman, Major Minor, dan Sean Sheila X Byo.

Empat desainer ini tampil di hari kedua gelaran JFW di bawah naungan Senayan City, Rabu (23/10).

Panggung Masa dibuka dengan nuansa vintage dari Friederich Herman untuk Spring/Summer 2020. Rona hijau, ungu muda, putih, dan abu sontak 'menenangkan' panggung.


Dalam 18 look yang ditampilkan, Friederich mengeksplor jahitan dan detail yang praktis. Tengok saja munculnya banyak layering dalam koleksi kali ini. Bahan katun dan organza tampak saling mengisi.

Friederich juga memadupadankan atasan dan rok yang dapat dipakai berlapis. Muncul pula ragam atasan geometris yang ditambah dengan detail organik di beberapa tempat.

Ada pula koleksi seragam dengan sentuhan rebel. Luaran dengan potongan tegas dan oversized juga saling dipadankan. Koleksi Friederich ini pertama kali dipamerkan di Paris Fashion Week 2020.

Friederich Herman mengambil nuansa vintage dalam koleksi busana teranyarnya yang dipamerkan di Jakarta Fashion Week (JFW) 2020 di Senayan City, Jakarta, Rabu (23/10). (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)

Menyusul koleksi Friederich, desainer Ari Seputra lewat label Major Minor menampilkan koleksi yang terinspirasi dari layang-layang.

"Layang-layang mencerminkan rasa senang karena bisa melanglang buana terbang sana-sini," kata Ari.

Nuansa bahagia itu tampak dari koleksi Major Minor yang didominasi warna-warna cerah tapi tak membosankan. Tone lembut putih, hijau, kuning, dan biru terbang kesana kemari di atas panggung.

Seperti layang-layang, koleksi Major Minor kali ini diperuntukkan bagi perempuan feminim yang ingin bebas bergerak. Koleksi ini dipamerkan dalam ajang Jakarta Fashion Week (JFW) 2020 di Senayan City, Jakarta, Rabu (23/10). (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)

Seperti layang-layang, koleksi ini sengaja dirancang untuk perempuan feminim yang ingin bebas bergerak. Kebebasan ini terlihat dari potongan yang longgar.

Katun dan crepe jadi bahan utama yang digunakan. Bahan ini membuat pemakainya tetap nyaman beraktivitas.

Hasilnya, sekitar 20 look berupa berupa padu padan gaun, atasan, bawahan, dan luaran yang asimetris meniru komponen pada layang-layang pun tersaji di atas panggung 'Masa' Jakarta Fashion Week 2020.

Panggung Masa ditutup dengan peragaan kolaborasi Sean Sheila X Byo. Desainer Sean Loh dan Sheila Agatha menerjemahkan Masa menjadi busana-busana dengan bahan yang awet dan tahan lama agar tetap bisa dipakai dari masa ke masa.

"Kami melihat saat ini masyarakat sudah overconsume. Oleh karena itu, kami menggunakan garmen yang awet," kata Sean.

Di koleksi ini, Sean Sheila menampilkan dekonstruksi lembut dengan teknik patch. Aksen bordir juga terlihat di koleksi ini.

Koleksi ini terdiri dari atasan, jaket oversized, celana longgar, celana kargo, gaun yang dipadupadankan menjadi 12 look.

Setiap model membawa aksesori berupa aneka tas dari Byo, mulai dari clutch, tote bag, hingga sling bag.

Byo masih tetap membawa desain berupa susunan pola geometris dengan warna yang menyala. Bagi desainer Tommy Ambiyo, pola geometris menjadi pola yang akan terus bertahan dari masa ke masa.

"Menurut saya geometris itu timeless. Jadi tetap ada dari waktu ke waktu," ujar Tommy.

Sean Sheila berkolaborasi dengan BYO di atas panggung 'Masa' Jakarta Fashion Week (JFW) 2020 di Senayan City, Jakarta, Rabu (23/10). (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)

Pada koleksi kali ini, Tommy menggunakan tas-tas yang sudah tak lalu di pasar loak. Deretan tas itu diolah kembali menjadi pola-pola geometris.

"Saya mengeksplor bahan dari tas yang sudah tidak diminati, seperti tas second, saya lecahkan dan saya hidupkan lagi. Beberapa ada dari tas yang dibuat tahun 1975," ungkap Tommy.

General Manager Marketing Senayan City, Jacqueline Halim mengatakan, 'Masa' adalah perjalanan yang mengesankan dari apa yang sudah dilakukan, masa kini, dan masa depan.

"Kami bekerja sama dengan empat desainer ini dengan harapan karya mereka terus bisa dinikmati seiring berjalannya waktu," kata Jacqueline, jelang show 'Masa' Jakarta Fashion Week 2020.

[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)