SURAT DARI RANTAU

'Akal-akalan' Seniman Haus Ilmu di California

Antonia Widodo, CNN Indonesia | Minggu, 01/12/2019 15:02 WIB
'Akal-akalan' Seniman Haus Ilmu di California Ilustrasi. (robarmstrong2/Pixabay)
California, CNN Indonesia -- Menuntut ilmu di negeri orang adalah mimpi banyak masyarakat Indonesia. Keinginan mencari pengalaman, memperluas wawasan, dan belajar hidup mandiri mendorong saya untuk menimba ilmu di Amerika Serikat.

Saya adalah pemimpi yang beruntung; selepas bangku SMA, saya bisa merantau ke Negeri Paman Sam. Foothill College, California, adalah perhentian pertama saya di Amerika Serikat, 2014.

Alasan lain saya memilih community college adalah biaya pendidikan yang jauh lebih murah dibandingkan universitas.


Community college juga memiliki persyaratan akademis yang cukup sederhana. Hanya berbekal skor 60/120 di tes bahasa Inggris TOEFL, pelajar bisa memulai studinya untuk memperoleh gelar pendidikan Associate degree (setara D3 di Indonesia).

Di jenjang ini, pelajar memperoleh pengetahuan dan keahlian teknis dasar sebelum lanjut ke pendidikan yang lebih tinggi ataupun langsung terjun ke dunia kerja.

Awalnya, saya belum mempunyai spesialisasi jurusan di Foothill College. Setelah setahun berada di bawah program Fine Arts, baru saya menyadari minat saya yang jatuh di bidang desain interior.

Saya pun memutuskan untuk transfer ke universitas. Ternyata biaya pendidikan di universitas mencapai empat kali lipatnya community college.

Dengan keadaan finansial keluarga yang sedang menurun, saya tidak melihat jalan selain mencari beasiswa.

Setelah aktif menggali informasi dan bertanya kepada teman-teman yang lebih berpengalaman, saya memulai pencarian beasiswa merit, beasiswa berdasarkan prestasi akademis dan portofolio.

Saya mencoba peruntungan ke beberapa sekolah seni, dan akhirnya menemukan keberuntungan itu di universitas ternama California College of the Arts - yang mungkin terbantu oleh kiriman 20 lembar portofolio dan artist's personal statement saya.

Saya mendapat beasiswa parsial sebesar US$15 ribu per tahun, menutup 1/3 dari total biaya pendidikan yang harus saya bayar. Sayangnya sebagai mahasiswa internasional, saya tidak dapat mengikuti program Financial Aid yang hanya ditujukan untuk warga negara Amerika. Padahal saya masih belum puas dengan beasiswa yang saya dapat.

Bayangkan: tersisa US$30,000 biaya kuliah per tahun, ditambah pembayaran asuransi kesehatan, ditambah rumah tinggal, ditambah biaya hidup di Silicon Valley! Pengeluaran dari dompet keluarga masih sangat besar. Saya tertantang untuk lebih kreatif lagi.

Pada akhir tahun 2015, saya mulai berpartisipasi dalam beberapa kompetisi arsitektur dan desain interior yang berhadiahkan beasiswa; The Ken Roberts Memorial Delineation Competition (2015), IIDA Competition (2016).

Sayangnya usaha itu belum membuahkan prestasi. Tapi gagal bukan berarti menyerah, melainkan justru dorongan untuk menjadi lebih baik lagi.

Pada tahun 2017, saya dipercaya untuk mewakili universitas saya dalam kompetisi desain interior yang diselenggarakan oleh Angelo Donghia Foundation.

Jajaran Interior Design Program California College of the Arts percaya bahwa proyek studio yang saya buat ketika di kampus bisa bersaing di sayembara nasional tersebut.

Saya diberi waktu satu bulan untuk menyempurnakan proyek komersial 'The Harbor', lalu mengirim tiga board ke New York untuk diseleksi. Angelo Donghia adalah desainer interior asal Amerika Serikat, terkenal karena inovasinya dalam menciptakan motif tekstil dan wallpaper.

Karya-karyanya memukau dunia internasional dan ia dianggap sebagai ikon desain kontemporer.

Sejak tahun 2002, Angelo Donghia Foundation memberikan bantuan finansial kepada mahasiswa/i desain interior di Amerika Serikat melalui kompetisi nasional. Di antara peserta-peserta dari berbagai state, 13 pemenang dipilih setiap tahunnya.

Pada tahun 2017, saya adalah salah satunya. Saya mendapat hak beasiswa sebesar US$30,000 - tepat sekali untuk menutup sisa biaya kuliah saya! Di tahun terakhir itu, saya bisa melunasi biaya kuliah tanpa membebani orang tua.

Dari pengamatan saya, banyak warga negara Amerika sendiri yang melewatkan kesempatan memperoleh beasiswa melalui kompetisi. Prosesnya memang lebih sulit dan butuh usaha ekstra, namun gagal atau berhasil, proses itu sendiri adalah suatu kebanggaan dan pencapaian.

Mendapat beasiswa untuk mimpi menyelesaikan studi di Amerika bukan hal mudah, tetapi bukan pula mustahil. Untuk kalian pemimpi yang ingin bersekolah ke luar negeri, jadilah jeli: ada banyak organisasi yang mempunyai misi membantu pelajar menjawab keterbatasan finansial.

Mereka mendukung anak muda yang ingin berkembang di bidangnya masing-masing tanpa mesti merogoh banyak student loan (pinjaman pelajar).

Sebagai pelajar internasional, biaya pendidikan bisa menjadi problema nomor satu, apalagi di negara yang pemerintahnya hanya menyediakan bantuan untuk warga negara aslinya.

Jangan sampai menyia-nyiakan beasiswa dari organisasi yang terbuka terhadap kompetitor asing untuk berpartisipasi dalam sayembara prestasi dan karya. Tip lanjutan untuk pelajar Indonesia yang merantau ke luar negeri: Magang! Ini modal penting jika ingin mencari pekerjaan di negara itu selepas kuliah.

Internship atau work-study job bisa membawa CV ke deretan atas, untuk kemudian masuk tahap wawancara di perusahaan.

Setelah kelulusan, saya sendiri mengalami bagaimana mencari pekerjaan adalah satu tantangan besar sebagai warga internasional.

Pengalaman magang dan prestasi kompetisi bukan hanya bertujuan untuk CV yang menonjol, tetapi juga membangun mental dan kegigihan.

Masa kuliah adalah masa belajar, kuliah di luar negeri adalah mimpi; Gunakanlah untuk membangun resume demi terus, terus, terus bermimpi dan menggapainya!

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com / ardita@cnnindonesia.com

[Gambas:Video CNN]

(ard)