Meski tersebar di banyak kota, namun keaslian rasa Sop Ayam Pak Min tak berubah. Fiki mengungkapkan hal itu memang merupakan tradisi yang dipertahankan, selain selalu menggunakan bahan-bahan segar yang didatangkan setiap hari.
"Pak Min sendiri mulai berjualan sekitar tahun 1960 dari kampung ke kampung, kemudian akhirnya dapat tempat usaha di pasar. Pada tahun 2009, saya bertemu dengan keluarga Pak Min, membuka cabang di Jogja," tutur Fiki, mengenang awal perjalanan bersama Pak Min.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Best seller di warung kita namanya Sop Ayam Biasa, atau dikenal Sop Ayam Campur. Campuran daging, kita kasih bihun khusus yang [dibuat secara[ tradisional, tidak menggunakan mesin. Dari dulu memang kita tidak ada taburan kentang, wortel," kata Fiki.
Ia kemudian mengungkapkan ramainya Sop Ayam Pak Min Klaten di kedai yang dimiliki tak terlepas dari peran Grab. Fiki berharap bisa terus menjadi mitra merchant GrabFood yang kerap memesan sopnya.
Dalam kesempatan berbeda, dua pelanggan Sop Ayam Pak Min Klaten, Adinindya Putri dan Izar Aan Anshari mengungkapkan alasan mereka setia bersantap di kedai milik Fiki. Izar merasa pas dengan seporsi sop ayam yang memiliki keunggulan di kekenyalan daging dan rasa kuah berkaldu, sementara Adinindya mengaku telah jatuh hati pada resep Pak Min.
"Dia lemaknya enggak terlalu banyak, dagingnya juga enggak over. Dia itu ngena di hati. Pingin makan terus saja di sini," kata Adinindya. (rea)