Stasiun Mosul & Kenangan Bahagia Warga Irak yang Kini Nanar

CNN Indonesia | Rabu, 29/07/2020 16:08 WIB
Urusan menjemput kerabat, pergi liburan, atau menerima kargo menjadi kenangan terindah penduduk Irak di stasiun kereta Mosul yang kini hancur akibat perang. Bangkai kereta di stasiun kereta Mosul, Irak. (AFP/ZAID AL-OBEIDI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menceritakan kembali sejarah stasiun kereta Mosul di Irak, bak mengenang luka lama yang hanya membuat air mata mengembang.

Hampir seabad yang lalu, orang Irak dan Barat mengandalkan stasiun ini untuk menuju Berlin, Istanbul atau Venesia.

Saat ini, stasiun kereta Mosul hanya menyisakan rel berkarat dan dihiasi oleh gerbong kereta rusak.


Stasiun kereta Mosul awalnya berdiri megah, namun sanksi-sanksi terhadap rezim lama Saddam Hussein dan konflik-konflik bersenjata, membuat bangunan yang menjadi saksi bisu perjumpaan dan perpisahan itu kini hanya tinggal kenangan.

Kereta pertama melaju ke stasiun Mosul pada tahun 1940 dari Baghdad, kemudian melaju ke Istanbul untuk bergabung dengan Orient Express yang legendaris - membawa penumpang hingga ke Paris yang berjarak 4.400 kilometer jauhnya.

Pada tahun 1950-an, novelis Agatha Christie tiba di stasiun Mosul, yang kemudian menjadi salah satu inspirasi salah satu lokasi dalam kisah detektifnya.

Mosul adalah perhentian penting dalam sistem Kereta Api Republik Irak, yang selama beberapa dekade menghubungkan warga Baghdad ke 72 lokasi setiap harinya melalui 2.000 kilometer relnya.

"Setiap hari, pasti ada kereta penumpang atau kereta barang yang berhenti di sini," kenang Amer Abdallah (47) yang bekerja sebagai konduktor kereta di Mosul hingga satu dekade lalu, ketika kereta terakhir ditarik keluar kota.

Di stasiun yang kini hancur akibat perang, ayah dari lima anak itu mengusap lokomotif yang sudah karatan.

Seketika senyumnya mengembang lebar.

"Sayangku," katanya, nama panggilannya untuk mesin kereta itu.

Abdallah dan yang lainnya memiliki kenangan indah tentang perjalanan ke barat ke Suriah atau selatan ke Basra, menatap wajah orang-orang di dua kawasan yang kini saling menutup perbatasannya akibat konflik.

"Dengan hanya 1.000 atau 2.000 dinar (sekitar Rp12 ribu atau Rp24 ribu), kita bisa pergi ke Baghdad atau tempat lain di Irak," kata Ali Ogla, ayah dari tujuh anak yang biasa naik kereta api secara teratur.

"Itu cara yang nyaman untuk bepergian bagi orang-orang yang sakit atau dengan disabilitas. Soal kargo, kami akan yakin barang yang dikirim akan tiba tepat waktu dan dalam kondisi baik," kata Ogla.

Tidak ada dana pemeliharaan

Stasiun itu lebih dari sekadar pusat transportasi, karena juga menjadi mesin penggerak perekonomian Mosul dan kebanggaan Irak.

"Stasiun itu menjadi lokasi salah satu hotel tertua di Mosul, kedai kopi, taman, garasi untuk kereta kuda yang lalu menjadi garasi mobil," kata insinyur kereta api, Mohammed Abdelaziz.

Pegawai kereta api dan stasiun, pengusaha, pemilik restoran dan kafe serta supir taksi semuanya mencari nafkah dari lalu lintas kereta api yang melalui Mosul, kata Abdelaziz.

Raja Faisal II, yang lengser dalam kudeta berdarah tahun 1958, memiliki ruang tunggu pribadi di dalam stasiun.

Diva musik Mesir, Umm Kulthum, sempat melintasi stasiun dan pada tahun 1970, stasiun setuju untuk meniadakan lonceng dan peluit selama konser penyanyi Libanon, Sabah, berlangsung.

Iraqi boys walk around the empty Mosul train station in the northern Iraqi city on February 1, 2020. (Photo by Zaid AL-OBEIDI / AFP)Stasiun kereta Mosul kini terlihat seperti tempat pembuangan barang karatan. (AFP/ZAID AL-OBEIDI)

Tetapi pada 1990-an, sanksi internasional yang melumpuhkan Irak membuat stasiun kereta Mosul kekurangan dana perawatan pada tahun 2003, ditambah lagi invasi Amerika Serikat yang membuka pintu untuk gelombang konflik yang disertai pemboman di seluruh negeri.

Di saat itu, kereta-kereta tetap menderu keluar dari stasiun Mosul setiap minggu, entah 400 kilometer ke Baghdad di selatan, ke Suriah di barat, atau ke kota perbatasan Turki Gaziantep di utara.

Pada 31 Mei 2009, sebuah bom truk menghancurkan sebagian besar area stasiun dan pada Juli 2010, kereta terakhir meninggalkan Mosul dalam perjalanan satu arah ke Gaziantep.

Keadaan lalu semakin buruk: pada bulan Juni 2014, kelompok ISIS menyerbu kota dan mengklaim ibu kota Irak dengan apa yang disebut "kekhalifahan".

Stasiun, sejak saat itu, menjadi medan perang dan dibiarkan berkarat.

"Delapan puluh persennya areanya dihancurkan," kata Qahtan Loqman, wakil kepala perkeretaapian utara Irak.

Pasukan keamanan Irak merebut kembali Mosul dari ISIS pada tahun 2017 tetapi rekonstruksi kota berlangsung lambat, dengan ribuan masih menunggu kompensasi untuk rumah yang hancur dalam pertempuran.

Negara tidak dapat memperoleh pendapatan minyak yang cukup untuk mencapai titik impas dan telah menghentikan investasi infrastruktur.

"Tidak ada uang dan tidak ada jadwal untuk memperbaiki stasiun kereta Mosul," kata Loqman.

'Hari yang indah'

Mosul adalah pintu gerbang Baghdad ke Turki dan ke Eropa.

Tanpa jalur stasiun ini, ibu kota sekarang terputus dari utara: kereta api dari Baghdad hanya menuju ke Fallujah lebih jauh ke barat, atau Karbala dan Basra.

Hari ini, stasiun kereta Mosul terlihat seperti tempat penampungan benda berkarat.

Satu gerbong kereta terlihat rusak parah, pintunya yang menggantung hampir putus, ditambah banyak bekas tembakan dan coretan.

Mosaik bunga yang dulunya menghiasi peron telah hancur berkeping-keping, tetapi pintu masuk dari batu berwarna merah masih berdiri, menjadi saksi bisu gemilangnya kehidupan di Irak pada masa lalu.

Nur Mohammad, seorang ibu rumah tangga berusia 37 tahun, ingat berjalan melewati pintu bersama neneknya hampir satu generasi yang lalu.

"Saat itu saya berumur 10 tahun. Kami semua pergi bersama: keluarga, teman, tetangga. Kami menyaksikan pemandangan pedesaan yang berlalu melewati jendela kereta," katanya.

"Itu adalah hari-hari yang indah. Dan kuharap kami dapat menikmatinya lagi."

(AFP/ard)

[Gambas:Video CNN]