Purikura, Studio Foto Nostalgia yang Tak Lekang oleh Selfie

CNN Indonesia | Kamis, 30/07/2020 12:04 WIB
Jangan lupa untuk berfoto dalam purikura saat wisata ke Jepang. Selain hasilnya unik, nilai nostalgianya juga tinggi. Purikura, studio foto dalam kotak yang menjadi andalan kaum wanita di Jepang untuk mengabadikan berfoto dalam nuansa imut alias kawaii. (AFP/CHARLY TRIBALLEAU)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sepasang anak sekolah Jepang menyisir rambut mereka di depan cermin panjang, bersiap untuk berpose dengan sempurna. Tetapi mereka tidak selfie dengan telepon genggam, melainkan di dalam studio foto dalam kotak yang dalam bahasa lokal disebut purikura.

Studio foto dalam kotak kembali menjadi tren di sejumlah negara dalam beberapa tahun terakhir karena nilai nostalgia yang tinggi.

Tetapi purikura - singkatan dari pelafalan print club dalam bahasa Jepang - menawarkan lebih dari sekadar satu lembar pas foto dengan belasan bingkai.


Menampilkan serangkaian fitur edit wajah dan latar belakang serta peminjaman aksesori meriah, sejak 25 tahun muncul hingga saat ini purikura masih tetap digemari, terutama oleh anak remaja yang ingin berpose dalam nuansa imut atau kawaii.

Terlepas dari kemunculan telepon genggam serta aplikasi edit foto yang semakin canggih, setidaknya satu produsen purikura di Jepang mendulang keuntungan dari model bisnisnya yang baru.

Nonoka Yamada (17) telah menjadi penggemar purikura selama hampir satu dekade dan mengatakan kepada AFP bahwa ia dan teman-temannya berfoto di sana minimal satu minggu sekali.

"Semua gadis di kelasku memiliki foto dari purikura," katanya sembari bersiap masuk purikura di sebuah department store di distrik Shibuya, Tokyo.

"Pertama kali saya menggunakan purikura saat saya masih berusia delapan tahun. Saat itu lensa kamera terlalu tinggi sehingga saya harus berjinjit," lanjutnya sambil tertawa.

Purikura menawarkan lebih dari sekadar selfie yang bisa diambil di telepon genggam, tambahnya.

"Di dalam studio foto mini ini, segala fiturnya bisa membuat tampilan terasa lebih menggemaskan," katanya.

"Saya ingin mengunggah foto dari purikura ini di Instagram ... gambarnya berkualitas baik dan pencahayaannya juga bagus."

Bertahan di era selfie

Purikura adalah gagasan perusahaan Jepang Atlus, yang meluncurkan produk dalam kemitraan dengan Sega pada Juli 1995.

Gerai-gerai purikura dengan cepat menjadi wahana populer di pusat game Jepang, di mana barisan panjang gadis-gadis yang menunggu untuk mengambil foto mengubah basis pelanggan pusat game yang sebelumnya didominasi laki-laki.

Perusahaan lain dengan cepat melompat ke pasar purikura, yang pada tahun 1997 bernilai lebih dari US$950 juta per tahun.

Tetapi era selfie di telepon genggam dengan kamera canggih dan lusinan aplikasi edit foto hampir membunuh purikura.

[Gambas:Instagram]



Selfie di telepon genggam dianggap lebih murah ketimbang membayar sekitar 400 yen (sekitar Rp55 ribu) untuk selembar pas foto yang umumnya memuat sekitar 16 bingkai foto.

Beberapa produsen purikura bangkrut, sementara yang lain meninggalkan bisnis untuk usaha yang lebih menguntungkan.

Saat ini, hanya satu produsen purikura yang tersisa: Furyu, mantan afiliasi perusahaan elektronik Jepang Omron.

"Pada tahun 1997 kami meluncurkan mesin pertama kami menggunakan teknologi Omron, yang menawarkan wajah karikatur. Itu adalah kegagalan total," kata juru bicara Furyu, Yuki Hikita.

"Fitur itu tidak ada hubungannya dengan apa yang diinginkan gadis-gadis muda, mungkin karena fitur itu dikembangkan oleh pria paruh baya."

Dalam beberapa tahun terakhir, pasar purikura telah stabil, dengan sekitar 10 ribu unit tersebar di seluruh negeri - jumlah yang lebih sedikit dibanding tahun 1997 yang tersebar 50 ribu unit.

Meski tak lagi perlu mengantre untuk masuk, namun purikura tetap populer.

Aplikasi telepon genggam yang dirilis Furyu untuk unggahan foto purikura memiliki 19 juta pengguna yang terdaftar pada bulan Maret.

[Gambas:Instagram]



Menyebarkan budaya purikura

Yuka Kubo, seorang peneliti independen yang mempelajari fenomena purikura, telah melacak bagaimana studio foto dalam kotak ini berevolusi dari waktu ke waktu.

Model awal hanya menampilkan fitur edit foto terbatas, salah satunya mengubah bingkai foto, saat memulai debutnya sekitar tahun 1998.

Teknologi pengenalan wajah yang diluncurkan dalam 2003 memungkinkan fitur edit foto mengubah bentuk wajah, terutama bagian mata yang amat digemari sebagian besar kaum wanita di Jepang.

"Itu adalah awal dari tren untuk fitur edit foto dalam purikura," kata Kubo, merujuk pada fitur populer yang memberi pelanggan tatapan mata mirip karakter anime.

"Era ini memulai kompetisi antara produsen, didorong oleh permintaan dari kaum gadis yang ingin mencoba lusinan fitur edit foto area mata," katanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, fitur edit foto menjadi lebih canggih, menawarkan warna dan nuansa untuk memberikan penampilan kulit yang sempurna atau wajah yang lebih ramping.

Walau telepon genggam juga menawarkan fitur edit foto, Hikita mengatakan masih ada ruang untuk purikura.

"Untuk mengambil selfie yang bagus dengan telepon genggam, kita perlu sedikit keterampilan," katanya.

Dengan purikura, "semuanya otomatis, dengan peralatan dan pencahayaan profesional, seperti foto studio".

Pandemi virus corona berarti penerapan protokol baru untuk menjaga keamanan pelanggan, termasuk disinfektan di setiap unit, tetapi itu tidak membuat pelanggan menjauhi purikura.

"Pelanggan sudah kembali, jauh lebih cepat dari yang kami harapkan," kata Hikita.

Setelah dua dekade merilis purikura model awal, bulan ini Sega mengumumkan perilisan purikura versi baru pada akhir tahun ini, dengan tujuan "menulari dunia dengan budaya purikura dari Jepang".

(AFP/ard)

[Gambas:Video CNN]