Dilema Pelayaran Kapal Pesiar di Sisa Musim Panas Tahun Ini

CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 20:31 WIB
Operator kapal pesiar berharap bisa menyelamatkan sisa liburan musim panas tahun ini, namun masih banyak negara yang menutup perbatasannya. Ilustrasi kapal pesiar. (Justin Sullivan/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harapan industri kapal pesiar untuk bisa kembali berlayar pada bulan Agustus nampaknya harus menguap, karena masih banyak pelabuhan yang ditutup sebagai usaha pencegahan penyebaran virus corona.

Dengan penyebaran virus COVID-19 di Eropa yang melambat dalam beberapa bulan terakhir, banyak yang mengira bahwa musim pelayaran di perairan Mediterania yang biasanya mendatangkan cuan setiap musim panas bisa diselamatkan.

Pembukaan kembali enam pelabuhan wisata utama di Yunani pada 1 Agustus 2020 untuk jalur kapal pesiar menjadi salah satu alasan mekarnya harapan para operator kapal pesiar.


Namun keputusan pemimpin industri kapal pesiar, Carnival Cruise Line, pada Senin (3/8) yang menyatakan menunda pelayaran kapal-kapalnya karena belum mendapat lampu hijau dari Italia, menunjukkan bahwa masih banyak kesulitan untuk menggairahkan kembali kegiatan pelesir di atas air ini.

Pada hari yang sama, Norwegia Hurtigruten menghentikan perjalanan ekspedisinya, setelah puluhan kasus terdeteksi di antara awak dan penumpang setelah dua pelayaran pada bulan Juli di kapal yang sama.

Norwegia kemudian memberlakukan pembatasan perjalanan kapal pesiar ke kawasan fjord-nya, dengan kapal kedua diperintahkan masuk karantina.

Namun, operator kapal pesiar utama di Eropa, Costa Cruises dan MSC Cruises, tidak menyerah.

"Kami siap [berlayar lagi], kami telah bekerja sangat keras," kata ketua MSC Gianni Onorato pada hari Selasa (4/8) ketika perusahaan mengumumkan langkah-langkah kesehatan dan keselamatan baru.

"Kami sedang menunggu lampu hijau dari otoritas Italia" dan "berharap untuk dapat mengumumkan sejumlah kabar baik dalam beberapa hari ke depan," tambahnya.

Costa Cruises, yang merupakan bagian dari grup Karnaval, mengatakan kepada AFP bahwa pihaknya "sedang menyusun rencana untuk memulai kembali pelayaran secara bertahap jika pihak berwenang di negara dan pelabuhan tujuan telah memberikan izin kapal berlabuh".

Protokol kesehatan di kapal pesiar

"Ada beberapa sinyal [untuk berlayar kembali] pada paruh kedua atau bahkan minggu kedua Agustus," kata Erminio Eschena, kepala Clia France, asosiasi operator kapal pesiar.

Hingga saat ini, operator kapal pesiar telah bekerja keras menyusun protokol kesehatan demi berlayar lagi di era normal baru.

Mereka telah mencoba mengantisipasi terjadinya terulangnya kasus penularan virus penyakit, dengan pemeriksaan kesehatan berulang untuk penumpang dan kru serta peningkatan kualitas dan kuantitas tim medis.

Pedoman baru Costa Cruises menyebutkan bahwa semua penumpang harus menjalani pemeriksaan kesehatan saat mereka naik dan bahwa "semua anggota awak harus menjalani pemeriksaan suhu tubuh setiap hari dan kondisi kesehatan mereka dipantau terus-menerus," menurut situs webnya.

Sementara itu, MSC Cruises merencanakan pemeriksaan suhu harian terhadap penumpang dan awak, dan mengatakan bahwa jarak fisik akan dimungkinkan berkat pengurangan hingga 70 persen kapasitas penumpang.

Keduanya berencana mengurangi jumlah orang dalam kegiatan berkelompok.

"Langkah-langkah yang diambil melampaui rekomendasi dari badan-badan seperti WHO atau Uni Eropa," kata Eschena.

Hurtigruten mengadakan tes di tempat untuk penumpang dan awaknya, sehingga tak ada lagi alasan bahwa penumpang atau awak membawa masuk virus corona ke dalam kapal.

"Mereka mengatakan kepada saya bahwa semua orang telah diuji dan semua kru telah menghormati aturan karantina," kata dokter, Karl-Borre Andersen, kepada harian Norwegia Verdens Gang.

Namun para ahli bertanya-tanya, apakah industri kapal pesiar mampu mengantisipasi virus COVID-19 selagi vaksin belum ditemukan.

"Risiko kesehatan dalam industri kapal pesiar amat nyata, dan bisa menghantui para penumpang lansia,"kata Didier Arino, kepala perusahaan konsultan Protourisme di Paris.

"Untuk industri yang telah menikmati pertumbuhan hampir tanpa gangguan selama 20 tahun, sulit untuk membayangkan pemulihan nyata sampai ada vaksin," katanya.

(AFP/ard)

[Gambas:Video CNN]