Studi soal WFH: Kerja Lebih Panjang dan Rapat Lebih Banyak

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 03/09/2020 08:13 WIB
Studi menemukan selama work from home, para pekerja menghabiskan waktu kerja lebih panjang, menerima lebih banyak email kerja dan, mengikuti lebih banyak rapat. Ilustrasi: Studi menemukan selama work from home, para pekerja menghabiskan waktu kerja lebih panjang, menerima lebih banyak email kerja dan, mengikuti lebih banyak rapat. (Foto: Barn Images)
Jakarta, CNN Indonesia --

Studi menunjukkan sistem kerja dari rumah atau working from home selama pandemi virus corona, membuat pekerja menghabiskan lebih banyak waktu sekitar satu jam ekstra per hari. Ini karena selama WFH, para pekerja menerima lebih banyak email dan menghadiri lebih banyak rapat dibanding saat bekerja di kantor.

Bekerja dari rumah ada keuntungannya, seperti fleksibilitas kerja, tak menempuh kemacetan atau perjalanan dan, bisa menggunakan pakaian yang nyaman. Tapi perombakan besar dalam dunia kerja ini juga mendatangkan kerugian.

Penelitian yang disusun National Bureau of Economic Research menunjukkan, orang-orang yang WFH menghabiskan sekitar 49 menit ekstra per hari. Artinya, jam kerja lebih panjang, lebih banyak rapat dan lebih banyak email. Data tersebut didapat dari 3,1 juta pekerja.


Rata-rata waktu kerja diperpanjang 48,5 menit setelah pembatasan sosial ataupun kebijakan lockdown. Sementara intensitas rapat meningkat 13 persen. Studi ini menganalisis data penerimaan email--secara anonim atau alamat tetap dirahasiakan, hingga jadwal rapat sekitar tiga juta pengguna.

Dikutip dari laporan Washington Post, mereka yang bekerja dari rumah di tengah situasi krisis kesehatan ini secara terus-menerus, terutama yang juga mengurus pendidikan anak, maka akan terkejut dengan kondisi ini.

Juffrey Polzer, Profesor di Harvard Business School--yang merupakan salah satu rekan penulis makalah, mengungkapkan survei yang lebih kecil yang juga menunjukkan hasil serupa. Tim peneliti menganalisis data dari 21.000 perusahaan di 16 kota di Amerika Serikat, Eropa dan Timur Tengah yang menunjukkan email yang diterima pekerja melonjak.

Sekalipun memperlihatkan perubahan lanskap kerja, seperti lebih banyaknya email namun tetap saja ditanggapi, para pekerja dihadapkan pada situasi yang sulit. Di satu sisi ada perombakan besar pada cara dan haya kerja, tapi di sisi lain dihadapkan pada kemungkinan pemecatan massal kelompok profesional.

Kondisi itu disebut membuat para profesional cemas.

"Orang-orang takut, ketakutan di sekitar pekerjaan Anda, seputar kondisi ekonomi. Jadi pekerja ingin memastikan [manajer] tahu bahwa dia terus-menerus menanggapi email dan pesan," tutur Cali Williams Yost, pendiri konsultan kerja Flex Strategy Group.

Hanya saja, bagi kebanyakan para pekerja, rapat-rapat cenderung berlangsung lebih singkat. Turun 11,5 persen atau hampir 20 menit per hari.

Laporan ini juga menemukan beberapa perbedaan antara pekerja di Amerika dan Eropa. Di banyak kota di Eropa misalnya, pengurangan lama pertemuan terjadwal sangat mencolok, sedangkan di kota-kota di Amerika Serikat relatif kecil.

Sementara rentang hari kerja di beberapa kota, termasuk New York, tetap tinggi. Namun memiliki rentang hari kerja yang lebih panjang bukan berarti melulu bekerja sepanjang waktu. Akan tetapi satu hari yang dipecah menjadi beberapa rapat pendek juga menyimpan kerugian.

"Meskipun ini spekulatif, ada kemungkinan bahwa para pekerja juga merasa lebih sulit untuk tetap terlibat pada rapat virtual dalam waktu yang lama, dibandingkan dengan tatap muka," tulis laporan tersebut dikutip dari The Times.

Sementara menurut laporan The Times, sebelum wabah virus corona hanya tercatat 6 persen yang bekerja dari rumah. Sedangkan sejak April--jelang puncak wabah--angkanya meningkat jadi 43 persen.

Sebanyak 90 persen pekerja mengatakan ingin terus bekerja dari rumah dengan berbagai penyesuaian. Meskipun itu artinya mereka harus bekerja lebih lama. Sementara 70 persen di antaranya menyatakan lebih produktif saat WFH dibanding ketika di kantor.

Polzer menambahkan, para peneliti tidak membagi data berdasarkan gender untuk melihat penambahan rentang kerja antara laki-laki dan perempuan. Bagaimanapun kelebihan jam kerja atau overtime, menurut Polzer, sebuah tren yang bisa jadi akan semakin lama dan kian lama lagi, bukan hal yang baik dan sustainable.

"Organisasi harus mencoba mencari tahu jenis pekerjaan dan kapasitas orang yang menangani. Sebab orang akan mulai kelelahan atau burn out jika tak bisa memikirkan ulang kapan mereka punya waktu atau jeda," saran Polzer.

(NMA/NMA)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK