Menghirup Romantisme Retro di Kota Solo

Kemenparekraf, CNN Indonesia | Jumat, 30/10/2020 14:43 WIB
Berwisata #DiIndonesiaAja, kota Solo yang dipenuhi romantisme retro akan mengantar gelombang nostalgia lewat Lokananta dan Pasar Antik Sriwindu. Berwisata #DiIndonesiaAja, kota Solo yang dipenuhi romantisme retro akan mengantar gelombang nostalgia lewat Lokananta dan Pasar Antik Sriwindu. (Foto: CNN Indonesia TV)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kota Solo selalu memiliki rasa yang sama, klasik. Arsitektur kota, adat budaya yang kental memberi karakter tersendiri bagi kota yang menimbulkan nostalgia ini.

Salah satu tempat yang bisa dikunjungi saat berwisata #DiIndonesiaAja adalah Lokananta, studio rekaman pertama di Indonesia. Tempat ini adalah saksi bisu sejarah pergerakan musik dalam negeri.

Berdiri pada 1956, karya-karya hebat musisi Indonesia terpajang di dinding Lokananta, seperti dari Waldjinah, Idris Sardi, hingga Titiek Puspa, serta rekaman pedalang Ki Nartosabdho. Teristimewa, rekaman suara Proklamasi Kemerdekaan pun tersimpan rapi.


Staf Pemasaran Lokananta Sriyono menjelaskan, proses rekaman lagu di era terdahulu berbeda jauh dari cara sekarang, yakni menggunakan metode analog. Namun saat ini, Lokananta pun telah menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.

"Kalau rekaman analog, berarti tidak ada 'cut', dia harus langsung jadi (dalam sekali pengambilan rekaman),"

"Untuk rekaman sendiri (saat ini), kita masih menggunakan sebagian peralatan analog yang sudah bisa dikonversi ke digital. Jadi output recording sebagai master pita rel, tetapi dalam bentuk digital dengan software. Kemudian untuk produksi kaset, kita sebaliknya, dari digital ke analog," tutur Sriyono.

Upaya Lokananta menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman juga termasuk dengan menyediakan tempat untuk mengadakan penampilan langsunga atau konser. Selain itu, musisi tanah air seperti Glenn Fredly, Efek Rumah Kaca, Pandai Besi, sampai Shaggydog pun sempat merekam album di Lokananta.

Spot klasik berikutnya adalah Pasar Antik Sriwindu. Pasar ini bagai surga bagi para kolektor barang antik seperti gramofon, radio, piringan hitam, dan peralatan rumah tangga kuno lain seperti piring porselen, sampai koin lama. Harganya bervariasi, sampai puluhan juta rupiah, tergantung keaslian dan kondisi barang.

Lelah bernostalgia di Solo, wisatawan bisa mencicip kuliner Jawa Tengah yang cenderung bercita rasa manis di Pasar Gede. Makanan berupa lenjongan, brambangan asem, sampai dawet bisa dibeli di Pasar Gede. Juga tahok yang disajikan hangat, serta makanan Selat Solo.

Pengunjung yang berwisata kuliner #DiIndonesiaAja di Pasar Gede disarankan membawa perlengkapan makan pribadi, termasuk tempat minum. Jangan lupa untuk terus mematuhi protokol kesehatan yang berlaku di semua destinasi wisata seperti memakai masker, membawa masker cadangan dan hand sanitizer, rajin mencuci tangan di bawah air mengalir, menjaga jarak dari kerumunan, serta menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.

[Gambas:Youtube]

(rea)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK