Studi: Pemberian Antibiotik pada Bayi Tingkatkan Risiko Asma

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 17/11/2020 11:53 WIB
Pemberian antibiotik pada bayi di bawah usia dua tahun ditemukan dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan di kemudian hari seperti asma, alergi, dan lainnya. Ilustrasi. Pemberian antibiotik pada bayi di bawah usia dua tahun ditemukan dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan di kemudian hari seperti asma, alergi, dan lainnya. (istockphoto/Vera Livchak)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemberian obat antibiotik pada bayi di bawah usia dua tahun ditemukan dapat meningkatkan risiko sejumlah masalah kesehatan di kemudian hari.

Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Mayo Clinic Proceedings ini menemukan dengan konsumsi antibiotik, bayi cenderung mengalami masalah seperti asma, eksim, obesitas, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan lain-lain. Masalah kesehatan yang muncul akan berbeda-beda tergantung jenis kelamin dan jenis antibiotik yang digunakan.

"Temuan ini hanya memperlihatkan hubungan, bukan penyebab. Dengan begitu, temuan ini mencoba menawarkan penelitian di masa depan untuk menentukan pendekatan yang lebih tepat mengenai pemberian antibiotik pada anak," tulis para peneliti.


Melansir CNN, peneliti menganalisis data lebih dari 14.500 anak. Sekitar 70 persen anak dalam penelitian menerima setidaknya satu resep antibiotik, sementara sisanya menerima banyak antibiotik.

"Di antara anak-anak yang menerima satu atau dua resep [antibiotik], hanya anak perempuan yang secara signifikan berisiko lebih tinggi terkena asma dan penyakit celiac," tulis peneliti, Nathan LeBrasseur.

Sementara menerima tiga hingga empat resep antibiotik dikaitkan dengan risiko asma, dermatitis atopik, dan obesitas yang lebih tinggi pada dua jenis kelamin. ADHD dan penyakit celiac juga berisiko dialami anak perempuan, dan laki-laki berisiko mengalami obesitas.

Sementara itu, bayi laki-laki dan perempuan yang menerima lima atau lebih resep antibiotik memiliki risiko yang lebih tinggi untuk asma, rinitis alergi, obesitas, dan ADHD.

Selain itu, studi juga menemukan, penisilin, salah satu antibiotik yang paling sering diresepkan, dapat meningkatkan risiko asma dan obesitas pada kedua jenis kelamin. Sementara antibiotik lain seperti sefalosporin dikaitkan dengan risiko tinggi alergi makanan.

Para peneliti menduga hal ini disebabkan oleh gangguan bakteri di usus bayi yang dibutuhkan untuk perkembangan sistem kekebalan tubuh, perkembangan saraf, dan metabolisme.


"Antibiotik tak membedakan antara bakteri baik dan jahat, dia membunuh semuanya dan meninggalkan usus tanpa distribusi mikrobioma yang sesuai dan dibutuhkan," kata LeBrasseur. Padahal, seseorang tetap membutuhkan bakteri tertentu untuk menyerap nutrisi, memecah makanan di usus, dan melindungi seluruh sistem pencernaan.

"Kami menyadari bahwa bakteri memiliki efek kolateral yang cukup besar pada mikrobioma yang mungkin sangat penting dalam perkembangan anak," ujar para peneliti.

(asr/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK