Menyelami Pesona Tenun Tanimbar yang Penuh Romansa

tim, CNN Indonesia | Jumat, 27/11/2020 13:59 WIB
Terancam punah tanpa regenerasi dan perhatian, Didiet Maulana menggandeng penenun tenun Tanimbar untuk menyatu dalam romansa Tanimbar. Terancam punah tanpa regenerasi dan perhatian, Didiet Maulana menggandeng penenun tenun Tanimbar untuk menyatu dalam romansa Tanimbar. (Dok. Svarna By Ikat ndonesia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tanimbar, kumpulan pulau-pulau di Provinsi Maluku mungkin dikenal dengan pantai dan alamnya yang indah. Diberkahi dengan alam yang indah, Tanimbar nyatanya menyimpan kekayaan budaya lain yang penuh romansa yaitu tenun.

Sebuah prinsip penenunan kain yang digabungkan dan diikat secara memanjang dan melintang yang sederhana nyatanya menghasilkan kain tenun ikat Tanimbar yang tak ada duanya.

Kain Tenun Ikat Tanimbar pada umumnya memiliki motif dan warna yang beragam. Sebagian besar kain tenun yang ada didominasi dengan garis-garis dan diselingi dengan corak tertentu yang di adaptasi dari alam sekitarnya. Beberapa motif yang populer antara lain motif binatang, motif tumbuhan, dan motif manusia.


Salah satu daerah penghasil tenun di Kepulauan Tanimbar adalah Yamdena. Di sana ada setidaknya empat jenis kain, yakni Tais Matan, Tais Anday, Tais Maran, dan Ule Rati.

Sayangnya, nasib tenun Tanimbar juga bisa jadi ada di ujung tanduk, sama seperti nasib tenun ikat di Lombok, Sumba, Bali, dan daerah lainnya. Vander Christian, dari komunitas traveling anak muda Maluku mengungkapkan bahwa saat ini tenun Tanimbar mungkin belum hilang, tapi tak menutup kemungkinan bakal hilang karena tak ada regenerasi.

"Masih orang tua yang banyak aktif. Regenerasinya belum ada. Ini saat yang tepat untuk kembangkan tenun agar tetap lestari," ucapnya saat konferensi pers tenun Tanimbar Svarna by Ikat Indonesia, Kamis (26/11).


Kolaborasi desainer Indonesia

Sejalan dengan minat pelestarian kain-kain budaya Indonesia, desainer Svarna by Ikat Indonesia Didiet Maulana pun menggandeng mama-mama penenun Tanimbar Ralsasam binaan Bank Indonesia ini dalam koleksi terbarunya.

Buat Didiet, koleksi tenun Tanimbar ini tidak hanya menjadi sebuah eksplorasi visual dan busana, koleksi ini dibuat untuk mendukung komunitas penenun dan mempromosikan keindahan budaya dan kain ikat Tanimbar.

"Kain Tanimbar ini unik. Garis-garis yang ada di motifnya ini ada cerita dan filosofinya sendiri. Jadi garis bukan sebatas garis," ucap Didiet.

"Saya juga ingin memperkenalkan bahwa kain tanimbar juga bisa jadi evening dress, baju kerja yang nyaman dipakai."

Penenun Ralsasam sendiri identik dengan tipe tenun dengan dua benang, sedangkan kelompok lainnya biasa memakai 4 benang.

didiet maulana pesona tanimbarFoto: Dok. Svarna By Ikat ndonesia
Romansa tanimbar

Didiet pun mengolah kain-kain tenun ATBM ini menjadi berbagai siluet khas-nya. Gaun A-line maxi, evening dress off shoulder, atasan formal, blazer, sampai celana panjang formal menjadi desain yang dihadirkan Didiet.

Tak cuma memakai tenun Tanimbar, dia pun menggabungkannya dengan bahan lain seperti lurik yang punya motif garis yang nyaris mirip. Pemilihan ini diakuinya karena ada kemiripan antara keduanya.

Tak cuma menghasilkan koleksi busana berbahan tenun Tanimbar yang indah, Didiet juga memberikan berbagai dukungan dan pelatihan terkait industri fashion kepada para penenun.

"Terlihatnya seperti punya tekstur tebal tapi ternyata nggak. Tak kenal maka tak sayang."

Didiet menjelaskan bahwa tenun memiliki kesan berat karena benang kapas atau benang tebal. Kain ini lebih cocok dipakai sebagai bawahan seperti celana atau sarung. Namun tenun Tanimbar disebut memakai benang yang lebih halus dan lebih ringan sehingga bisa diolah sebagai atasan atau dress.

Salah satu jenis pelatihan yang diberikan kepada mama penenun adalah warna. Kain tenun Tanimbar identik dengan warna-warna yang terang dan ceria. Hanya saja tren warna yang disukai publik saat ini adalah warna-warna natural.

didiet maulana pesona tanimbarFoto: Dok. Svarna By Ikat ndonesia
Romansa Tanimbar

"Mereka punya warna hijau, lalu saya beri tahu ke mereka soal warna hijau mana yang disukai pasar. Ungu juga begitu. Saya kasih palet warna," ucapnya.

"Saya juga beritahu mereka kalau warna natural yang sekarang laku, lalu pemakaian benang emas atau perak saat ini tidak lagi dicari pasar."

Liur, salah satu mama penenun di Tanimbar mengaku bahagia dan takjub melihat kain buatannya dan teman-temannya diolah menjadi busana yang apik.

"Keadaan penenun saat ini mereka lagi sibuk menenun. Mereka juga sedang semangat kerja, karena lihat hasilnya seperti ini, jadi makin senang makin semangat kerja."

"Semoga ada desainer atau yang lainnya yang bisa membantu kami para penenun di sini agar kami makin semangat kerja (menenun)."

Koleksi masker Tanimbar dan Glenn Fredly

Selain koleksi busana wanita, kain tenun ini juga diolah menjadi koleksi busana pria. Uniknya, koleksi busana pria ini juga terinspirasi dari penyanyi Glenn Fredly.

"Koleksinya terinspirasi dari Glenn Fredly yang berani dalam bergaya. Semoga legacy Glenn bisa diteruskan dalam fashion, seni, dan lainnya."

Didiet juga membuat beberapa koleksi masker dari kain tenun Tanimbar. Setiap masker dihiasi dengan aplikasi bordir tangan bermotif geometris khas Tanimbar untuk memperkaya permukaan kain. Warna coklat dan biru, menceritakan tanah dan langit Tanimbar yang membawa rasa bangga akan alam dan budaya nusantara. Koleksi masker yang dibuat dalam jumlah yang terbatas terdiri dari beberapa pilihan motif. Gelfara mask, Latuihamallo mask, Kaihulu mask, Akerina mask dan Laberi mask.

(chs)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK