Kisah Dokter Relawan Covid-19, Pergi Tanpa Restu Keluarga

Satgas Covid-19, CNN Indonesia | Sabtu, 05/12/2020 19:01 WIB
Dengan tekad bulat atas nama kemanusiaan, Aulia Giffarinnisa nekat pergi ke Jakarta demi menjadi dokter relawan Covid-19 di Wisma Atlet. Ilustrasi tenaga kesehatan yang memakai APD lengkap. (Foto: ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aulia Giffarinnisa sudah tak peduli dengan gerah di badan yang setiap hari ia rasakan. Musabab gerah itu adalah alat pelindung diri (APD) yang berjam-jam membalut tubuhnya. Pakaian itulah yang membuatnya berjarak dengan maut karena harus berhadapan dengan pasien Covid-19.

Aulia adalah salah seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta. Ia sudah bertekad untuk terlibat langsung dengan perawatan pasien penyakit pandemi itu.

"Saya tidak menyerah dengan keinginan saya untuk mengabdikan diri, saya terus meyakinkan orang tua dan keluarga. Akhirnya izin dari orang tua saya keluar pada Agustus lalu dan mulai September saya bertugas di Wisma Atlet," kisahnya dalam Dialog Produktif yang mengangkat tema 'Berbakti untuk Kemanusiaan Tanpa Pamrih' di Media Center Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) dalam rangka Hari Relawan Internasional pada Jumat (4/11).


Ia berangkat ke Jakarta tanpa restu orang tua. Mereka khawatir dengan keselamatan Aulia, karena pemerintah selalu mengabarkan jumlah pasien dan pasien meninggal yang terus bertambah. Tapi tekadnya sudah bulat hingga ia menginjak RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet.

Kondisi rumah sakit sendiri belakangan penuh. Aktivitas dokter seperti Aulia kian berisiko tertular. APD adalah satu-satunya benteng agar hal itu tak terjadi. Namun mengenakan balutan pakaian ini bukan perkara sepele.

"Memakai APD maka harus bersiap satu jam sebelumnya. Selama bertugas juga tidak boleh membuka APD jadi tidak boleh buang air dan terpaksa puasa," ceritanya.

Melaksanakan tugas sebagai dokter pun tak mudah. Berbagai laku pasien ia jumpai, apalagi yang sudah bergejala berat. Ada yang bandel karena tak nyaman dalam perawatan, kata Aulia, kadang mereka sering melepas selang oksigen yang begitu diperlukan, hanya karena rasa tidak nyaman.

Satu-satunya jalan untuk memahami mereka adalah pendekatan psikologis. Aulia paham, pasien tertekan karena tak ditemani keluarga. Ia pun turut membantu mereka agar merasa nyaman.

"Mereka hanya didampingi dokter dan tenaga kesehatan. Salah satu pengalaman tidak terlupakan menyaksikan bagaimana proses pasien yang satu bulan dirawat dengan gejala parah sekali hingga akhirnya bisa sembuh, dan dinyatakan negatif dan diijinkan pulang," ujar Aulia.

Ia pun berpesan agar masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan. Menurutnya protokol kesehatan ini merupakan sarana pencegahan paling efektif.

Protokol tersebut selayaknya yang dikampanyekan #SatgasCovid19, yakni #ingatpesanibu untuk #pakaimasker, #cucitangan pakai sabun, dan #jagajarak hindari kerumunan.

(ayo/rea)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK