5 Mitos soal Orgasme Pria yang Salah Kaprah

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 22/01/2021 21:30 WIB
Banyak mitos terkait orgasme pria tersebar di tengah masyarakat. Mitos memengaruhi kehidupan seksual pria. Ilustrasi. Banyak mitos terkait orgasme pria tersebar di tengah masyarakat. (iStockphoto/peakSTOCK)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tak bisa dipungkiri, pengalaman seksual memegang peran penting dalam kehidupan, termasuk dalam berpasangan. Sayang, banyak mitos terkait orgasme pria yang masih salah kaprah dan memengaruhi kehidupan seks itu sendiri.

Mitos membuat seseorang dengan mudah mempercayai anggapan umum yang ada di tengah masyarakat. Mitos juga seolah jadi penentu akan sesuatu yang disebut 'normal'.

Misalnya, mitos yang menyebut bahwa ukuran alat kelamin pria atau penis memengaruhi performa seksual. Ada juga yang menganggap bahwa ejakulasi dini tak dapat disembuhkan. Padahal, keduanya tidak benar.


Berikut sejumlah mitos soal orgasme pria, melansir Insider.

1. Ukuran penis memengaruhi kepuasan seksual

Gagasan bahwa penis yang lebih besar selalu lebih baik sudah lama eksis di tengah masyarakat. Namun, ukuran penis sesungguhnya tak jadi cerminan langsung kepuasan seksual.

"Kebanyakan pria baik-baik saja dalam hal ukuran dan ketebalan [penis]. Tapi, ketika mereka mengukur diri dengan [yang ditampilkan] industri film dewasa, mereka mungkin merasa tidak aman," ujar ahli urologi, Hamin Brahmbhatt.

Rata-rata panjang penis sendiri berkisar antara 9 cm saat normal dan 13 cm saat ereksi.

Brahmbhatt mengatakan, pada orang sehat, ukuran penis seharusnya tidak mengurangi kepuasan seksual.

2. Minum suplemen untuk bisa ereksi kembali setelah ejakulasi

Banyak pil tersedia di pasaran yang menjanjikan mampu menurunkan periode refraktori. Nama terakhir merupakan lama waktu yang dibutuhkan setelah ejakulasi agar bisa ereksi kembali.

Namun, tak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa suplemen-suplemen tersebut benar-benar bekerja dengan menurunkan kadar hormon prolaktin. Kadar hormon prolaktin dipercaya dapat membuat periode refraktori berlangsung lebih lama.

Penelitian pada tikus menemukan, prolaktin tak bisa menjadi penentu periode refraktori. Tak ada perbedaan antara tikus yang mendapatkan prolaktin dengan yang tidak mendapatkan prolaktin.

Baca mitos lain terkait orgasme pria di halaman berikutnya.

5 Mitos soal Orgasme Pria yang Salah Kaprah

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK