Ngabuburit dan Senja di Pantai 'Lima Dimensi' Palu

CNN Indonesia | Senin, 19/04/2021 11:50 WIB
Pantai Talise yang sempat diterjang tsunami pada tahun 2018 kini telah menjadi destinasi ngabuburit yang populer. Warga berfoto di dekat Masjid Terapung Arkam Babu Rahman, di Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah. (ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pantai Talise atau Pantai Teluk Palu yang sempat diterjang tsunami pada tahun 2018 kini telah menjadi destinasi ngabuburit yang populer bagi warga sekitar.

Pantai Talise yang berada di Kelurahan Talise, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah ini memanjang dari Jalan Rajamoli sampai Jalan Cut Mutia.

Sebelum bencana alam datang, pantai ini merupakan destinasi wisata utama di Palu. Airnya jernih berwarna bak biru turkis, pasirnya berwarna putih, dan ombaknya tenang.


Setiap hari banyak warga lokal atau turis yang datang untuk menikmati pemandangan matahari terbenam di sini.

Gempa dan tsunami Palu sempat membubarkan kerumunan wisata itu. Ditambah ketika pandemi virus Corona datang ke Indonesia pada tahun lalu.

Namun pembenahan Pantai Talise terus berlanjut. Kini pantai yang dibingkai laut, sungai, teluk, lembah dan gunung itu perlahan kembali ramai pengunjung. Banyak warga lokal yang datang untuk menikmati momen ngabuburit sembari menikmati senja.

Tak hanya bermain air di pantainya, mereka juga banyak yang datang untuk mengabadikan foto atau video dengan latar belakang Masjid Terapung Arkam Babu Rahman, salah satu saksi bisu dahsyatnya gempa yang disusul tsunami pada tahun itu.

"Di sini enak ngabuburit apalagi ditambah dengan pemandangan alam yang sangat indah sehingga tidak terasa sudah masuk waktu berbuka puasa," kata Rahmawati, salah satu pengunjung asal Kabupaten Parigi Moutong, seperti yang dikutip dari ANTARA pada Minggu (18/7).

Menurutnya, tidak banyak tempat ngabuburit di Provinsi Sulawesi Tengah yang menyajikan pemandangan alam seindah di kawasan Pantai Teluk Palu.

"Pemandangan lima dimensi, berupa laut, sungai, teluk, lembah dan gunung dapat dinikmati warga gratis di sini," ujarnya.

Sama halnya dengan Sandi, warga asli Kota Palu itu mengaku lebih suka ngabuburit di kawasan pantai dari pada di tempat lain seperti di bukit, warung kopi, maupun kafe.

"Lebih enak ngabuburit di pantai sini. Sambil tunggu waktu berbuka puasa, bisa menikmati hembusan angin laut sambil melihat nelayan melaut," katanya.

Menurutnya tidak banyak spot wisata di Indonesia yang pernah ia kunjungi menyajikan pemandangan alam seindah ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah tersebut.

Biasanya, lanjutnya, destinasi wisata di daerah lain hanya menyajikan pemandangan laut atau gunung atau lembah atau teluk saja.

"Tapi di kawasan bekas tsunami ini semua ada. Kita bisa menikmati semuanya. Satu kali memandang langsung lihat laut, teluk, sungai, gunung dan lembahnya," ujarnya.

Teluk Palu sudah lama memesona dunia. Mengutip tulisan dari situs remi Pemprov Sulawesi Tengah, salah satu pujian untuk kawasan pesisir ini ditulis oleh menteri pemerintahan Hindia Belanda, François Valentijn, dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1724.

Ia mengatakan kalau keindahan Teluk Palu bak Negeri Kincir Angin.

Teluk Palu juga menjadi salah satu jalur perdagangan penting di Indonesia pada zaman penjajahan. Membentang dari utara ke selatan sepanjang 30 kilometer dan lebar 9 kilometer, teluk ini dapat memberikan keuntungan bagi perahu atau kapal-kapal kecil untuk mengangkut berbagai produk dari Palu menuju Donggala.

Selain strategis, Teluk Palu juga kaya akan sumber daya alam, mulai dari ribuan pohon kelapa sampai ikan. Warga sekitar juga ada yang menjadi petani garam.

Kini di sekitar Teluk Palu telah dibangun pemecah gelombang. Fasilitas tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak abrasi sampai gelombang laut yang tinggi sampai ke pemukiman warga.

[Gambas:Instagram]



[Gambas:Instagram]



(ard/ard)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK