Endometriosis, Penyebab Nyeri Haid Tak Tertahankan
CNN Indonesia
Selasa, 18 Mei 2021 17:48 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
(DieterRobbins/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Nyeri saat menstruasi memang hal yang normal terjadi. Nyeri haid adalah nyeri atau kram di area perut yang dialami pada saat menjelang atau selama haid. Sebagian besar nyeri haid disebabkan oleh otot-otot rahim yang berkontraksi.
Namun jadi tak normal jika nyeri terjadi setiap kali menstruasi. Nyeri haid dikatakan tidak normal apabila nyeri haid bertambah berat kemudian menyebabkan seorang wanita tidak dapat beraktivitas normal, atau nyeri tidak membaik bahkan setelah seorang wanita mengonsumsi obat nyeri.
Ada beberapa penyebab nyeri haid tak normal, salah satunya adalah endometriosis. Endometriosis adalah jaringan yang membentuk lapisan dalam rahim juga tumbuh di luar rahim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nyeri haid akibat endometriosis ini kerap kali disepelekan, anggapan hanya nyeri mens biasa pun jadi alasan. Padahal kebiasaan menyepelekan nyeri haid bisa berakibat pada penanganan penyakit yang lebih sulit.
Selain itu, endometriosis merupakan salah satu penyebab gangguan kesuburan.
"Endometriosis dapat menjadi penyebab gangguan kesuburan. Kelainan anatomi dan perlekatan yang disebabkan karena endometriosis (terutama pada kasus sedang hingga berat) mengurangi peluang terjadinya kehamilan alami," ucapnya.
"Hal ini disebabkan karena ada lebih banyak perlekatan pada ovarium yang dapat mengganggu pelepasan sel telur, sehingga sel telur tidak dapat mencapai saluran telur (tuba)."
Gejala
Pertumbuhan jaringan dalam rahim ini menyebabkan gejala berupa rasa sakit, kram, perasaan terbakar di bagian perut yang dapat dirasakan cukup ringan, atau bahkan sangat parah hingga mengganggu aktivitas.
dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi yang berpraktik di RS Pondok Indah IVF Centre, Moh. Luky Satria Syahbana Marwali mengungkapkan bahwa ada beberapa gejala yang kerap dialami penderita endometriosis.
"Selain rasa nyeri hebat ketika menstruasi, wanita dengan endometriosis kerap merasakan rasa nyeri saat berhubungan seksual," katanya dalam pernyataan yang diterima CNNIndonesia.com.
"Meskipun tidak umum, beberapa wanita mungkin mengalami nyeri pula saat buang air kecil, buang air besar, diare, mual, muntah, dan perut kembung."
Untuk memastikan diagnosis endometriosis ini, dokter akan melakukan pemeriksaan panggul, USG, MRI, dan laparoskopi.
Pengobatan dan penanganan
Luky mengungkapkan bahwa endometriosis memang tak bisa disembuhkan secara menyeluruh, namun bisa ditangani sesuai tahapannya. Penanganannya diilakukan dengan pemberian obat pereda nyeri, obat hormonal, penyesuaian gaya hidup, ataupun tindakan pembedahan pada kasus yang sudah berat.
Beberapa hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan pemilihan asupan makanan yang tepat, menghindari makanan olahan, dairy product, makanan mengandung gluten dan kedelai.
Selain itu, juga disarankan menghentikan kebiasaan merokok dan minum alkohol, serta mengurangi asupan kafein.
Beberapa makanan yang disarankan untuk dikonsumsi antara lain makanan berserat seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, konsumsi makanan yang kaya omega 3 seperti ikan kembung, ikan salmon, dan makanan yang mengandung magnesium yang tinggi, seperti alpukat, pisang, dan sayuran hijau.
Selain dengan perubahan gaya hidup, penanganan endometriosis juga bisa dilakukan dengan tindakan bedah ablasi (membakar) permukaan endometriosis dengan laser panas, atau bedah eksisi (menyekop) jaringan tersebut sampai ke akarnya.
"Tindakan pembedahan yang dilakukan berkali-kali karena kekambuhan endometriosis harus dihindari, karena setiap kali operasi endometriosis (terutama untuk kasus kista) menimbulkan penurunan cadangan ovarium," ucapnya.
"Karenanya, keputusan untuk melakukan operasi pada endometriosis harus didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter untuk menentukan kapan waktu yang tepat dilakukan operasi. Penanganan endometriosis membutuhkan perencanaan jangka panjang, yang mempertimbangkan fungsi reproduksi (rencana hamil)."
Jakarta, CNN Indonesia --
Nyeri saat menstruasi memang hal yang normal terjadi. Nyeri haid adalah nyeri atau kram di area perut yang dialami pada saat menjelang atau selama haid. Sebagian besar nyeri haid disebabkan oleh otot-otot rahim yang berkontraksi.
Namun jadi tak normal jika nyeri terjadi setiap kali menstruasi. Nyeri haid dikatakan tidak normal apabila nyeri haid bertambah berat kemudian menyebabkan seorang wanita tidak dapat beraktivitas normal, atau nyeri tidak membaik bahkan setelah seorang wanita mengonsumsi obat nyeri.
Ada beberapa penyebab nyeri haid tak normal, salah satunya adalah endometriosis. Endometriosis adalah jaringan yang membentuk lapisan dalam rahim juga tumbuh di luar rahim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nyeri haid akibat endometriosis ini kerap kali disepelekan, anggapan hanya nyeri mens biasa pun jadi alasan. Padahal kebiasaan menyepelekan nyeri haid bisa berakibat pada penanganan penyakit yang lebih sulit.
Selain itu, endometriosis merupakan salah satu penyebab gangguan kesuburan.
"Endometriosis dapat menjadi penyebab gangguan kesuburan. Kelainan anatomi dan perlekatan yang disebabkan karena endometriosis (terutama pada kasus sedang hingga berat) mengurangi peluang terjadinya kehamilan alami," ucapnya.
"Hal ini disebabkan karena ada lebih banyak perlekatan pada ovarium yang dapat mengganggu pelepasan sel telur, sehingga sel telur tidak dapat mencapai saluran telur (tuba)."
Gejala
Pertumbuhan jaringan dalam rahim ini menyebabkan gejala berupa rasa sakit, kram, perasaan terbakar di bagian perut yang dapat dirasakan cukup ringan, atau bahkan sangat parah hingga mengganggu aktivitas.
dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi yang berpraktik di RS Pondok Indah IVF Centre, Moh. Luky Satria Syahbana Marwali mengungkapkan bahwa ada beberapa gejala yang kerap dialami penderita endometriosis.
"Selain rasa nyeri hebat ketika menstruasi, wanita dengan endometriosis kerap merasakan rasa nyeri saat berhubungan seksual," katanya dalam pernyataan yang diterima CNNIndonesia.com.
"Meskipun tidak umum, beberapa wanita mungkin mengalami nyeri pula saat buang air kecil, buang air besar, diare, mual, muntah, dan perut kembung."
Untuk memastikan diagnosis endometriosis ini, dokter akan melakukan pemeriksaan panggul, USG, MRI, dan laparoskopi.
Pengobatan dan penanganan
Foto: Thinkstock/9nong
Pengobatan dan penanganan
Luky mengungkapkan bahwa endometriosis memang tak bisa disembuhkan secara menyeluruh, namun bisa ditangani sesuai tahapannya. Penanganannya diilakukan dengan pemberian obat pereda nyeri, obat hormonal, penyesuaian gaya hidup, ataupun tindakan pembedahan pada kasus yang sudah berat.
Beberapa hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan pemilihan asupan makanan yang tepat, menghindari makanan olahan, dairy product, makanan mengandung gluten dan kedelai.
Selain itu, juga disarankan menghentikan kebiasaan merokok dan minum alkohol, serta mengurangi asupan kafein.
Beberapa makanan yang disarankan untuk dikonsumsi antara lain makanan berserat seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, konsumsi makanan yang kaya omega 3 seperti ikan kembung, ikan salmon, dan makanan yang mengandung magnesium yang tinggi, seperti alpukat, pisang, dan sayuran hijau.
Selain dengan perubahan gaya hidup, penanganan endometriosis juga bisa dilakukan dengan tindakan bedah ablasi (membakar) permukaan endometriosis dengan laser panas, atau bedah eksisi (menyekop) jaringan tersebut sampai ke akarnya.
"Tindakan pembedahan yang dilakukan berkali-kali karena kekambuhan endometriosis harus dihindari, karena setiap kali operasi endometriosis (terutama untuk kasus kista) menimbulkan penurunan cadangan ovarium," ucapnya.
"Karenanya, keputusan untuk melakukan operasi pada endometriosis harus didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter untuk menentukan kapan waktu yang tepat dilakukan operasi. Penanganan endometriosis membutuhkan perencanaan jangka panjang, yang mempertimbangkan fungsi reproduksi (rencana hamil)."