5 Depresi 'Palsu', Kondisi yang Picu Gejala Mirip Depresi

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 11/05/2021 07:30 WIB
Beberapa kondisi klinis tertentu kerap dianggap depresi. Berikut beberapa kondisi depresi 'palsu', kondisi klinis yang memicu gejala seperti depresi. Ilustrasi. Beberapa kondisi klinis tertentu kerap dianggap sebagai depresi. (Istockphoto/Pornpak Khunatorn)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rasa sedih yang menerus tak selalu berarti depresi. Beberapa orang melaporkan gejala depresi, meski yang dialaminya bukan-lah depresi. Berikut beberapa kondisi depresi 'palsu' yang bisa mengecoh Anda.

Depresi umumnya ditandai dengan beberapa gejala seperti rasa lelah, rasa bersalah, rasa tidak berharga, mudah tersinggung, insomnia, nafsu makan menurun, kehilangan minat pada aktivitas rutin, kesedihan yang menerus, kecemasan, hingga pikiran untuk bunuh diri.

Namun, hadirnya beberapa gejala di atas tak melulu menandakan depresi. Alih-alih depresi klinis, beberapa gejala tersebut justru ditimbulkan oleh kondisi klinis tertentu.


Berikut beberapa kondisi depresi 'palsu', kondisi klinis tertentu yang memicu gejala seperti depresi, melansir Everyday Health.

1. Kekurangan vitamin D

Sebuah tinjauan sistematis menemukan hubungan erat antara kadar vitamin D dan depresi. Para peneliti menemukan bahwa kadar vitamin D yang rendah dapat memicu atau meningkatkan risiko depresi.

Sinar matahari menjadi sumber vitamin D terbaik. Anda juga bisa melengkapinya dengan sejumlah suplemen vitamin D yang dijual di pasaran.

2. Hipotiroid

Orang dengan hipotiroid akan terus merasa lelah, tidak berharga, mudah tersinggung, dan tidak mampu membuat keputusan. Hipotiroid merupakan kondisi saat kelenjar tiroid tidak dapat memproduksi hormon tiroid dalam jumlah yang cukup.

Tiroid Federal International memperkirakan ada sekitar 300 juta orang di seluruh dunia yang menderita disfungsi tiroid. Namun, hanya setengah dari mereka yang menyadari kondisi tersebut. Akibatnya, banyak kondisi hipotiroid yang salah didiagnosis, salah satunya dianggap depresi.

3. Gula darah rendah

Kelaparan merupakan sinyal primitif yang diketahui memicu respons stres dalam tubuh. Bagi orang yang memiliki kecenderungan cemas dan depresi, stres memanifestasikan dirinya sebagai perubahan suasana hati.

Faktanya, kecemasan dan depresi bisa dipicu oleh penurunan dan fluktuasi gula darah. Kondisi itu akan bermanifestasi pada perubahan suasana hati.

"Manusia, seperti hewan lainnya, menjadi tidak bahagia saat gula darah rendah," ujar ahli kesehatan Peter Bongiorno.

4. Dehidrasi

Dehidrasi dapat memicu rasa seperti depresi. Sejumlah penelitian menemukan bahwa dehidrasi ringan sekali pun dapat mengubah suasana hati. Saat muncul, dehidrasi mulai memengaruhi kinerja pikiran dan tubuh.

5. Intoleransi makanan

Banyak orang berpikir bahwa intoleransi atau alergi makanan hanya akan bermanifestasi dalam bentuk gatal-gatal, bengkak, kemerahan, dan gejala fisik lainnya. Padahal, kenyataannya tidak demikian.

Ahli kesehatan Mark Hyman dalam bukunya The Ultramind Solution menulis bahwa makanan tertentu dapat memicu peradangan di tubuh. Sementara beberapa orang mengalami gatal-gatal, beberapa orang lainnya justru menjadi sedih dan cemas akibat peradangan tersebut.

"Reaksi tertunda terhadap makanan atau alergen tersembunyi dapat menyebabkan 'alergi otak', reaksi alergi dalam tubuh yang menyebabkan peradangan di otak," tulis Hyman.

(asr/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK