Pandangan Psikolog soal Orang Tua Bunuh Anak di Temanggung

tim, CNN Indonesia | Rabu, 19/05/2021 08:02 WIB
Lemahnya akses pengetahuan soal pola pengasuhan anak menjadi salah satu faktor utama orang tua dapat menghilangkan nyawa buah hatinya sendiri. Ilustrasi. Psikolog menilai penyebab pembunuhan anak di Temanggung karena lemahnya akses pengetahuan pada pola pengasuhan. (iStockphoto/ Motortion)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bocah Temanggung berusia tujuh tahun, ALH tewas ditenggelamkan di bak mandi oleh kedua orang tuanya yang dibantu tetangga, hanya karena dianggap nakal dan juga titisan makhluk mitologis Genderuwo berdasarkan penerawangan tetangga.

Orang tua korban mengakui bahwa sang anak telah meninggal dunia sekitar empat bulan yang lalu. Pelaku mengungkapkan bahwa tindakan tersebut dilakukan atas perintah seorang tetangga yang menganggap sang anak sebagai keturunan Genderuwo.

Untuk menghilangkannya, kata dia, sang bocah harus dibenamkan di dalam air.


"Dari terawangan Pak H, anak saya ada turunan Genderuwo, makanya nakal. Jadi untuk menghilangkan aura itu," kata salah satu orang tua korban.

Psikolog Klinis Anak, Mira Amir menilai salah satu penyebab kejadian ini merupakan karena lemahnya akses pengetahuan pada pola pengasuhan anak.

"Soal pembunuhan pada anak ini jelas akibat dari lemahnya tingkat pendidikan orang tua dan lingkungan, sehingga lingkungan juga bukan mencerdaskan orang tua, malah semakin menjerumuskan," papar Mira saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (18/5).

Anak yang menjadi korban juga belum berarti nakal dalam artian sepenuhnya. Mira mengatakan, mungkin saja korban merupakan anak yang aktif atau bahan anak berkebutuhan khusus (ABK).

"Salah satu kesulitannya karena mungkin di daerah pelosok, jadi sulit mengetahui bahwa anak ini mungkin sebenarnya berkebutuhan khusus. Apalagi jika ABK-nya sudah kasus yang sangat spesifik, lingkungan juga bisa enggak paham bahwa ini kondisi khusus," kata Mira.

Menurutnya, persepsi tentang anak nakal ini tak lepas dari pandangan sejumlah orang, terutama generasi tua, bahwa anak-anak berkebutuhan khusus, anak yang aktif bergerak, atau bahkan yang punya minat unik atau berbeda kerap dicap sebagai anak bandel.

Oleh karena itu, dia berharap bahwa paling tidak ada tenaga kesehatan di setiap lingkungan yang mampu memberikan edukasi sederhana tentang kondisi-kondisi tertentu pada anak serta cara menghadapinya. Pasalnya, peran lingkungan merupakan aspek terpenting untuk keselamatan dan kesejahteraan anak.

"Jadi, kalau sampai lingkungan membiarkan seperti kasus anak ini meninggal berbulan-bulan, didiamkan, itu bukan hanya orang tuanya yang sakit, tapi juga lingkungannya," ujar Mira.

Urusan psikologis tak bisa lepas dari lingkungan sosial. Dengan kata lain, pembentukan sikap seseorang akan terpengaruh oleh lingkungan sosialnya.

Apalagi, kata Mira, tak sedikit masyarakat yang memilih diam dan tak ikut campur ketika melihat kekerasan pada anak. Dia mencontohkan, misalnya ada orang tua yang membentak hingga memukul anaknya di tempat umum karena menangis. Padahal, lingkungan dapat mengambil tindakan dengan menghentikan hal tersebut.

"Kita sebagai lingkungan enggak bisa bersikap apatis, membiarkan untuk tidak ikut-ikutan hanya karena bukan masalah kita," ujarnya.

Simak bentuk kekerasan pada anak hingga cara menghadapi anak yang aktif.

Kekerasan pada Anak

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK