Speak Up, Tak Mudah Tapi Penting untuk Korban Pelecehan

CNN Indonesia | Kamis, 10/06/2021 15:03 WIB
Untuk bisa speak up korban pelecehan seksual perlu menyembuhkan dirinya dulu dari trauma dan berani kembali mengingat peristiwa kelam yang dialami. Ilustrasi. Untuk bisa speak up korban pelecehan seksual perlu menyembuhkan dirinya dulu dari trauma. (Istockphoto/Markgoddard)
Jakarta, CNN Indonesia --

Belum lama ini, jagat maya kembali diramaikan dengan pengakuan seorang korban pelecehan seksual. Tak tanggung, nama publik figur sekaliber Gofar Hilman terseret dalam pengakuan tersebut.

Speak up menjadi salah satu tahap penting yang harus dilakukan korban pelecehan seksual. Speak up penting bagi proses pemulihan korban.

Saat berani berbicara, penyintas akan mendapatkan bantuan profesional untuk keluar dari traumanya. Selain itu, speak up juga diibaratkan 'kekuatan' tambahan yang perlu dimiliki korban.


"Di saat banyak orang yang speak up, penyintas tahu dirinya enggak sendirian, ternyata banyak yang mau dukung kok," kata Co-Director Hollaback! Indonesia, Anindya Vivi, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (10/6). Hollaback! sendiri merupakan lembaga atau organisasi yang bergerak melawan praktik kekerasan seksual.

Sayang, meski speak up menjadi salah satu tahap penting bagi proses pemulihan, tak semua korban berani untuk bicara. Beberapa korban bahkan membutuhkan waktu lama untuk menghapus traumanya.

Misalnya saja seperti yang dilakukan korban pelecehan seksual yang diduga dilakukan Gofar Hilman ini. Sejatinya, pelecehan telah berlangsung beberapa tahun lalu. Namun, tampaknya korban butuh waktu lama untuk kemudian berani bicara. Sejak kejadian pada tahun 2018, korban memendam sendiri trauma dan ketakutan akibat pelecehan yang dialaminya selama tiga tahun.

Wajar saja jika korban memang membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga akhirnya berani berbicara lantang tentang apa yang dialaminya. Tak semua penyintas sanggup kembali mengingat peristiwa kelam yang dialaminya.

"Memang proses speak up enggak mudah, karena ada trauma. Kemungkinan dia jug bakal mengalami victim blaming, belum lagi kalau ada ancaman dari pelaku," ujar Vivi.

a woman sitting on ground with arm around lower head, sexual violence , sexual abuse, human trafficking concept with shadow edge in white toneIlustrasi pelecehan seksual. (Istockphoto/Favor_of_God)

Secara harfiah, 'speak up' berarti bersuara, berujar dengan lantang. Tapi ketika menyangkut pelecehan seksual, speak up bukan hanya bicara pengakuan dengan lantang.

Dalam speak up, penyintas harus kembali mengulang momen-momen saat pelecehan seksual terjadi. Tak semua penyintas sanggup kembali mengingatnya. Hal ini yang membuat banyak penyintas membutuhkan waktu lama hingga akhirnya berani untuk bicara.

Tak hanya itu, budaya menyalahkan korban, menyebarluaskan informasi korban di internet (doxing), hingga tak adanya ruang aman untuk bicara menjadi penghambat penyintas berani untuk speak up di depan umum. Tak jarang juga ada penyintas yang masih mendapati ancaman dari pelaku sehingga tak berani bicara.

"Pelecehan tak lepas dari relasi kuasa, ada ketimpangan kuasa antara korban dan pelaku. Korban bisa diancam kalau bicara bakal begini, begitu, sehingga dia enggak berani speak up," ucap Vivi.

Belum lagi, penyintas juga harus melewati masa trauma akibat pelecehan yang dialaminya. Riska Carolina, dari tim advokasi Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (KOMPAKS) mengatakan, seorang penyintas juga butuh waktu lama untuk sembuh dari trauma.

"Penyintas punya waktu masing-masing untuk memproses pengalamannya dan memutuskan untuk cerita atau lapor," kata Riska kepada CNNIndonesia.com.

Siapa pun, lanjut Riska, tak bisa memaksa penyintas untuk segera membuat pengakuan atau melaporkan pelecehan yang dialaminya.

"Penyintas butuh ruang aman untuk bercerita, butuh waktu yang tepat, dan ini jadi tanggung jawab semua orang untuk memastikan membuat ruang aman bagi penyintas pelecehan seksual," jelas Riska.

(mel/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK