5 Hal yang Terjadi Akibat Resistensi Antibiotik

CNN Indonesia
Senin, 21 Jun 2021 06:34 WIB
5 Hal yang Terjadi Akibat Resistensi Antibiotik
Ilustrasi. Konsumsi antibiotik yang salah bisa memicu resistensi antibiotik. (Istockphoto/ Ayo888)

3. Rawat inap lebih panjang

Karena angka morbiditas naik, maka jumlah orang dirawat inap di rumah sakit juga bisa ikut meningkat.

Pasien jadi lebih lama tinggal di rumah sakit karena dokter dan petugas medis masih mencari obat yang tepat untuk diberikan.

"Rawat inap jadi panjang karena terus dicari obatnya, yang harusnya bisa sembuh dengan antibiotik, kini tidak bisa," ucap Erwin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

4. Biaya mahal

Lama periode rawat inap tentu berujung pada biaya perawatan yang membengkak.

Pemberian obat dan antibiotik dosis tinggi juga akan menambah besarnya biaya perawatan yang diperlukan untuk menyembuhkan pasien.

Penyakit yang awalnya bisa disembuhkan dengan antibiotik dosis rendah dengan harga terjangkau, tapi karena resistensi, maka dosis pun harus ditambahkan.

"Pembiayaan relatif jadi meningkat, baik individu atau oleh pemerintah. Masalah pembiayaan ini jadi masalah besar juga," kata Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes, Imran Agus Nurali, dalam diskusi yang sama.

5. Penularan lebih masif

Selain masalah di atas, akibat dari resistensi antibiotik juga menyebabkan penularan penyakit akibat infeksi bakteri jadi lebih masif.

Sebabnya, bakteri yang ada di tubuh bisa jadi lebih kuat dari sebelumnya. Ia bisa bermutasi dan bertambah banyak. Padahal, dengan teratur minum antibiotik, bakteri ini bisa mati.

"Jadi resisten itu luar biasa bahaya karena bisa mengganggu semua aspek," tutur Erwin.

(mel/asr)


[Gambas:Video CNN]
Jakarta, CNN Indonesia --

Antibiotik adalah obat yang ditujukan untuk mengatasi atau mencegah infeksi penyakit yang disebabkan oleh bakteri.

Konsumsi antibiotik harus sesuai petunjuk dokter. Antibiotik juga harus dihabiskan tepat waktu.

Tidak menghabiskan antibiotik yang diresepkan dapat membuat bakteri menjadi resisten (kebal). Resistensi antibiotik bisa membuat bakteri jadi lebih kuat di tubuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada bahaya dari resistensi antibiotik ini, mulai dari sakit hingga biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan jadi lebih mahal," kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik dan infeksi RSUD Dr. Soetomo, Erwin Astha Triyono, dalam diskusi virtual bersama Pfizer, beberapa waktu lalu.

Berikut 5 hal yang terjadi ketika resisten antibiotik.

1. Morbiditas naik

Konsumsi antibiotik dengan cara yang salah membuat angka kesakitan (morbiditas) meningkat. Mungkin awalnya pasien hanya mengalami gejala ringan yang bisa diatasi dengan antibiotik dosis rendah, tapi kemudian menjadi berat saat sakit berikutnya.

"Kemarin hanya sakit ringan, tapi jadi sakit berat karena antibiotiknya enggak habis waktu diresepkan," kata Erwin.

Beberapa orang terkadang menghentikan penggunaan antibiotik ketika sudah merasa sembuh.

Padahal, antibiotik yang tidak dihabiskan saat diresepkan pertama kali dapat membuat bakteri tetap ada di tubuh dan bisa jadi bermutasi. Akibatnya, ketika infeksi kembali terjadi, penyakit jadi lebih parah dan antibiotik yang sama tak akan mempan.

A bottle of pills is tipped on its side, spilling onto a glass-top desk with stethoscope and clip board in the background.Ilustrasi. (iStockphoto/FatCamera)

2. Mortalitas naik

Selain angka kesakitan, tingkat kematian karena suatu penyakit juga bisa meningkat.

Erwin mengatakan, mortalitas bisa naik karena banyak orang sudah resisten terhadap antibiotik. Penyakit yang mestinya bisa dengan mudah disembuhkan oleh pemberian antibiotik kini jadi tak berguna. Sementara belum tentu ada pengobatan lain yang bisa diberikan.

Pada beberapa kasus, pemberian dosis lebih tinggi bisa jadi mengancam nyawa pasien. Terutama pada pasien dengan penyakit bawaan.

5 Hal yang Terjadi Akibat Resistensi Antibiotik

Ilustrasi. Konsumsi antibiotik yang salah bisa memicu resistensi antibiotik. (Istockphoto/Cecilie_Arcurs)

3. Rawat inap lebih panjang

Karena angka morbiditas naik, maka jumlah orang dirawat inap di rumah sakit juga bisa ikut meningkat.

Pasien jadi lebih lama tinggal di rumah sakit karena dokter dan petugas medis masih mencari obat yang tepat untuk diberikan.

"Rawat inap jadi panjang karena terus dicari obatnya, yang harusnya bisa sembuh dengan antibiotik, kini tidak bisa," ucap Erwin.

4. Biaya mahal

Lama periode rawat inap tentu berujung pada biaya perawatan yang membengkak.

Pemberian obat dan antibiotik dosis tinggi juga akan menambah besarnya biaya perawatan yang diperlukan untuk menyembuhkan pasien.

Penyakit yang awalnya bisa disembuhkan dengan antibiotik dosis rendah dengan harga terjangkau, tapi karena resistensi, maka dosis pun harus ditambahkan.

"Pembiayaan relatif jadi meningkat, baik individu atau oleh pemerintah. Masalah pembiayaan ini jadi masalah besar juga," kata Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes, Imran Agus Nurali, dalam diskusi yang sama.

5. Penularan lebih masif

Selain masalah di atas, akibat dari resistensi antibiotik juga menyebabkan penularan penyakit akibat infeksi bakteri jadi lebih masif.

Sebabnya, bakteri yang ada di tubuh bisa jadi lebih kuat dari sebelumnya. Ia bisa bermutasi dan bertambah banyak. Padahal, dengan teratur minum antibiotik, bakteri ini bisa mati.

"Jadi resisten itu luar biasa bahaya karena bisa mengganggu semua aspek," tutur Erwin.


HALAMAN:
1 2