Yang Harus Diketahui Sebelum Vaksin AstraZeneca

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 23/06/2021 15:11 WIB
Vaksin AstraZeneca dikhawatirkan dapat memicu efek samping pembekuan darah. Benarkah demikian? Siapa saja yang berisiko? Ilustrasi. Vaksin AstraZeneca dikhawatirkan dapat memicu efek samping pembekuan darah. (CNN Indonesia/Adi Maulana)
Jakarta, CNN Indonesia --

Vaksin AstraZeneca telah digunakan dalam program vaksinasi Covid-19 baik di Indonesia dan banyak negara lainnya. Namun, beberapa kabar negatif, termasuk soal risiko pembekuan darah akibat vaksin tersebut, membuat banyak orang khawatir.

Pada dasarnya, vaksin ini bekerja dengan cara merangsang tubuh untuk membentuk antibodi yang dapat melawan infeksi SARS-CoV-2. Setelah melalui beberapa fase uji klinis, efektivitas vaksin AstraZeneca ditemukan mencapai 63-75 persen.

Di tengah program vaksinasi ini, muncul kabar bahwa vaksin menimbulkan efek samping berbahaya seperti pembekuan darah. Di Indonesia, misalnya, telah ada tiga kasus kematian pasca-vaksinasi dengan AstraZeneca.


Kendati demikian, Komnas Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) telah menegaskan bahwa dua dari tiga kasus meninggalnya pasien dipastikan tidak berhubungan dengan vaksin.

Sedangkan satu kasus lainnya masih dalam penyelidikan.

Hasil evaluasi yang dilakukan European Medicines Agency (EMA) sendiri memang menemukan ada hubungan antara kejadian pembekuan darah dengan vaksin AstraZeneca. Namun, kejadiannya sangat jarang.

"EMA masih menilai bahwa kalaupun memang vaksin ini dapat menyebabkan reaksi pembekuan darah, manfaatnya masih lebih besar daripada risikonya, sehingga vaksin ini tetap boleh diberikan," ujar Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Profesor Zullies Ikawati, dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (21/6).

Mekanisme pasti vaksin yang menyebabkan pembekuan darah sendiri hingga saat ini masih dipelajari. Namun, Zullies mengatakan, ada dugaan yang menyebut bahwa reaksi pembekuan darah berkaitan dengan cara vaksin dibuat, yaitu menyuntikkan viral vector (virus pembawa instruksi genetik) yang akan mengajari tubuh membuat antibodi.

Dalam vaksin AstraZeneca, viral vector yang digunakan adalah adenovirus atau virus umum yang biasa menginfeksi tubuh manusia dalam penyakit sakit tenggorokan, demam atau pneumonia.

"Memang belum bisa dipastikan, tetapi penelitian sebelumnya menggunakan platform adenovirus ternyata menghasilkan reaksi yang sama, yaitu aktivasi platelet yang menyebabkan pembekuan darah. Dan reaksi yang sama ternyata juga dijumpai pada penggunaan vaksin Johnson & Johnson yang menggunakan adenovirus," papar Zullies.

Zullies menduga adanya reaksi imun berlebih terhadap vaksin yang berasal dari adenovirus. Vaksin yang berikatan dengan platelet, lanjutnya, memicu serangkaian reaksi imun yang menyebabkan pembekuan darah.

Reaksi ini, ujar Zullies, sebenarnya bisa membaik dengan sendirinya. Namun demikian, ada beberapa kasus yang bisa berujung fatal.

Hal-hal yang Perlu Diwaspadai

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK