Maalula, Desa Indah di Suriah yang Berbahasa Yesus
CNN Indonesia
Sabtu, 10 Jul 2021 11:31 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pemandangan Desa Maalula di Suriah. (AFP/LOUAI BESHARA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di desa kuno Suriah, Maalula, yang penduduknya masih berbicara bahasa Yesus, warga dan relawan membangun jalur batu dan menghapus coretan grafiti di tembok sebagai persiapan untuk kembalinya para peziarah Kristen setelah bertahun-tahun tak datang karena perang.
Terletak di antara tebing yang menjulang tinggi di pegunungan utara Damaskus, Maalula adalah salah satu pemukiman Kristen tertua di dunia.
Sebelum perang Suriah, desa ini didatangi ribuan pengunjung setiap tahunnya -- termasuk mantan presiden Amerika Serikat Jimmy Carter dan mendiang pemimpin Venezuela Hugo Chavez -- yang datang dengan maksud mengunjungi gereja dan biara serta mendengar penduduknya berbicara bahasa Aram.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sejak 2011 dan seterusnya, konflik yang menghancurkan sebagian besar wilayah Suriah membuat para peziarah menjauh dari Maalula, yang namanya dalam bahasa Aram berarti "pintu masuk", terlihat dari lorong sempit di antara tebing batu kapurnya.
Legenda berasal dari abad pertama, saat Saint Taqla, seorang wanita muda, lolos dari perjodohan dengan seorang pagan dan melarikan diri dari rumahnya untuk menjalani kehidupan Kristen.
Saat dikejar tentara Romawi, dia mencapai jalan buntu di pegunungan. Tetapi ketika dia berdoa sebuah lorong terbuka di permukaan batu menuju ke sebuah gua.
Dia tinggal di sana selama sisa hidupnya, menyembuhkan orang sakit dengan air dari mata air suci, dekat lokasi biara Ortodoks Yunani Saint Taqla saat ini.
Di celah sempit di kaki ngarai, warga dan relawan telah bekerja selama musim panas untuk mempersiapkan situs bagi peziarah yang diperkirakan akan berdatangan untuk memperingati Assumption (hari Bunda Maria diangkat ke Surga) pada 15 Agustus mendatang.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Mereka mengangkat batu besar yang jatuh dari jalan setapak, kemudian menyekop puing-puing batu kapur ke dalam gerobak dorong untuk membuka ruang bagi jalan batu baru.
Yahya (29) mengoleskan kain basah di batu untuk menghilangkan coretan yang ditinggalkan selama konflik.
"Kami akan membuatnya lebih indah dari sebelumnya," katanya, sembari menyeka keringat yang mengucur dari dahinya.
Di dekatnya, di sisi ngarai sepanjang 500 meter yang berkelok-kelok menuju biara Saint Taqla, tulisan Arab dan coretan lain masih terlihat, semua ditulis dengan cat merah.
Pemberontak dan jihadis yang terkait dengan Al-Qaeda merebut Maalula pada musim gugur 2013, memaksa sebagian besar penduduk Kristennya mengungsi.
Afiliasi Al-Qaeda Suriah saat itu menculik 13 biarawati dari biara Saint Taqla. Mereka dibebaskan dalam pertukaran tahanan dengan pihak berwenang Damaskus pada Maret 2014.
Pasukan rezim merebut kembali Maalula pada bulan berikutnya.
Namun bertahun-tahun kemudian, banyak dari 6.000 penduduk kota yang sebagian besar beragama Katolik Yunani belum kembali, dan begitu pula wisatawan domestik dan mancanegara.
Wali kota desa, Ibrahim al-Shaer mengatakan ngarai itu sempat menjadi objek wisata yang sangat populer.
Tapi selama konflik, "ngarai itu kumuh, dikotori dengan sisa-sisa perang, dan dindingnya dirusak oleh grafiti," katanya.
Yussef Ibrahim, wakil gubernur provinsi Damaskus, dibesarkan di Maalula.
Dia ingat hari-hari ketika diplomat dan pejabat asing yang berkunjung terlihat sangat mengagumi desa kuno ini.
"Orang-orang biasa datang ke gua Maalula untuk berdoa dan mencari obat untuk penyakit mereka," katanya.
"Saya akan jauh lebih bahagia ketika saya melihat mereka semua kembali."
Di desa kuno Suriah, Maalula, yang penduduknya masih berbicara bahasa Yesus, warga dan relawan membangun jalur batu dan menghapus coretan grafiti di tembok sebagai persiapan untuk kembalinya para peziarah Kristen setelah bertahun-tahun tak datang karena perang.
Terletak di antara tebing yang menjulang tinggi di pegunungan utara Damaskus, Maalula adalah salah satu pemukiman Kristen tertua di dunia.
Sebelum perang Suriah, desa ini didatangi ribuan pengunjung setiap tahunnya -- termasuk mantan presiden Amerika Serikat Jimmy Carter dan mendiang pemimpin Venezuela Hugo Chavez -- yang datang dengan maksud mengunjungi gereja dan biara serta mendengar penduduknya berbicara bahasa Aram.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sejak 2011 dan seterusnya, konflik yang menghancurkan sebagian besar wilayah Suriah membuat para peziarah menjauh dari Maalula, yang namanya dalam bahasa Aram berarti "pintu masuk", terlihat dari lorong sempit di antara tebing batu kapurnya.
Legenda berasal dari abad pertama, saat Saint Taqla, seorang wanita muda, lolos dari perjodohan dengan seorang pagan dan melarikan diri dari rumahnya untuk menjalani kehidupan Kristen.
Saat dikejar tentara Romawi, dia mencapai jalan buntu di pegunungan. Tetapi ketika dia berdoa sebuah lorong terbuka di permukaan batu menuju ke sebuah gua.
Dia tinggal di sana selama sisa hidupnya, menyembuhkan orang sakit dengan air dari mata air suci, dekat lokasi biara Ortodoks Yunani Saint Taqla saat ini.
Di celah sempit di kaki ngarai, warga dan relawan telah bekerja selama musim panas untuk mempersiapkan situs bagi peziarah yang diperkirakan akan berdatangan untuk memperingati Assumption (hari Bunda Maria diangkat ke Surga) pada 15 Agustus mendatang.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Maalula, Desa Indah di Suriah yang Berbahasa Yesus
Pemandangan Desa Maalula di Suriah. (AFP/LOUAI BESHARA)
Mereka mengangkat batu besar yang jatuh dari jalan setapak, kemudian menyekop puing-puing batu kapur ke dalam gerobak dorong untuk membuka ruang bagi jalan batu baru.
Yahya (29) mengoleskan kain basah di batu untuk menghilangkan coretan yang ditinggalkan selama konflik.
"Kami akan membuatnya lebih indah dari sebelumnya," katanya, sembari menyeka keringat yang mengucur dari dahinya.
Di dekatnya, di sisi ngarai sepanjang 500 meter yang berkelok-kelok menuju biara Saint Taqla, tulisan Arab dan coretan lain masih terlihat, semua ditulis dengan cat merah.
Pemberontak dan jihadis yang terkait dengan Al-Qaeda merebut Maalula pada musim gugur 2013, memaksa sebagian besar penduduk Kristennya mengungsi.
Afiliasi Al-Qaeda Suriah saat itu menculik 13 biarawati dari biara Saint Taqla. Mereka dibebaskan dalam pertukaran tahanan dengan pihak berwenang Damaskus pada Maret 2014.
Pasukan rezim merebut kembali Maalula pada bulan berikutnya.
Namun bertahun-tahun kemudian, banyak dari 6.000 penduduk kota yang sebagian besar beragama Katolik Yunani belum kembali, dan begitu pula wisatawan domestik dan mancanegara.
Wali kota desa, Ibrahim al-Shaer mengatakan ngarai itu sempat menjadi objek wisata yang sangat populer.
Tapi selama konflik, "ngarai itu kumuh, dikotori dengan sisa-sisa perang, dan dindingnya dirusak oleh grafiti," katanya.
Yussef Ibrahim, wakil gubernur provinsi Damaskus, dibesarkan di Maalula.
Dia ingat hari-hari ketika diplomat dan pejabat asing yang berkunjung terlihat sangat mengagumi desa kuno ini.
"Orang-orang biasa datang ke gua Maalula untuk berdoa dan mencari obat untuk penyakit mereka," katanya.
"Saya akan jauh lebih bahagia ketika saya melihat mereka semua kembali."