Jakarta, CNN Indonesia -- Benteng Inca di Machu Picchu, objek wisata sejarah yang terkenal di Peru, disebut mulai dihuni dari sekitar 1420-1530 Masehi, atau beberapa dekade lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya, menurut sebuah studi baru.
Sekelompok tim peneliti, yang dipimpin oleh Richard Burger, seorang profesor antropologi di Universitas Yale, menggunakan penanggalan radiokarbon untuk mengungkapkan bahwa kaisar Pachacuti, yang membangun Machu Picchu, naik ke tampuk kekuasaan lebih awal dari yang diperkirakan, menurut rilis berita yang diterbitkan Selasa (3/8).
Ini berarti penaklukan awal Pachacuti terjadi lebih awal, membantu menjelaskan bagaimana Kekaisaran Inca menjadi yang terbesar dan paling kuat di Amerika sebelum benua itu didatangi penjelajah Christopher Columbus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan dokumen sejarah sebelumnya, diperkirakan Machu Picchu dibangun setelah 1440, atau mungkin bahkan 1450.
Namun, Burger dan timnya menggunakan penanggalan akselerator mass spectrometry (AMS) dari sisa-sisa manusia untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat.
AMS bekerja bahkan pada sejumlah kecil bahan organik, yang memperbesar kumpulan kerangka yang dapat dipelajari.
Tim melihat 26 individu dari kuburan di Machu Picchu yang ditemukan dari situs selama penggalian pada tahun 1912.
Mayat-mayat itu dikubur di bawah batu-batu besar, tebing yang menjorok atau gua-gua dangkal, yang disegel dengan dinding batu, menurut penelitian tersebut.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
[Gambas:Video CNN]
Usia Machu Picchu Diperkirakan Jauh Lebih Tua
Foto sebelum pandemi. Pemandangan Machu Picchu, situs yang usianya diperkirakan lebih tua dari catatan sejarah sebelumnya. (Pablo PORCIUNCULA BRUNE / AFP)
Ada juga barang-barang makam seperti keramik dan pin selendang perunggu dan perak.
"Ini adalah studi pertama berdasarkan bukti ilmiah untuk memberikan perkiraan berdirinya Machu Picchu dan lamanya pendudukannya," kata Burger dalam keterangan resminya.
Catatan sejarah ditulis oleh conquistador Spanyol setelah pengambilalihan wilayah tersebut, berikut hasil penelitian mempertanyakan kesimpulan berdasarkan dokumen semacam ini, menurut para peneliti.
Meskipun penelitian ini mengakui "keterbatasan" penanggalan radiokarbon, para peneliti mengatakan bukti dokumenter tidak dapat diandalkan.
"Mungkin waktunya telah tiba bagi bukti radiokarbon untuk mengambil prioritas dalam rekonstruksi kronologi kaisar Inca dan penanggalan situs-situs monumental Inca seperti Machu Picchu," tulis studi tersebut.
Studi ini dipublikasikan di jurnal Antiquity.
Dipuji sebagai salah satu situs arkeologi terbesar di dunia, Machu Picchu bertengger di antara dua gunung.
Situs ini terdiri dari sekitar 200 struktur batu, yang dinding granitnya tetap dalam kondisi baik meskipun atap jerami sudah lama hilang.
Situs ini menjadi lokasi pemandian upacara, kuil, lumbung dan saluran air.
Salah satu bangunan, yang dikenal sebagai Hut of the Caretaker of the Funerary Rock, diperkirakan digunakan untuk membalsem para aristokrat yang telah meninggal.
[Gambas:Photo CNN]
[Gambas:Infografis CNN]