HARI PARIWISATA SEDUNIA

Lelah Pramugari Hadapi 'Bayi Besar' yang Enggan Bermasker

CNN Indonesia | Senin, 27/09/2021 13:39 WIB
Kasus penumpang pesawat marah-marah tercatat meningkat selama pandemi. Ilustrasi kabin pesawat. (hxdyl/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bekerja sebagai pramugari sebelumnya memberi Mitra Amirzadeh kebebasan untuk menjelajahi dunia -- dari rumahnya di Florida ke berbagai destinasi termasuk Kenya, Prancis, dan Spanyol.

Saat pandemi virus corona melanda dunia, Amirzadeh merasa kenikmatan menjadi pramugari berkurang.

Sekarang tugasnya terbatas pada penerbangan domestik Amerika Serikat. Tak hanya harus bekerja keras menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, ia juga harus menghadapi lebih banyak kasus penumpang tantrum.


"Saya bekerja seperti pengasuh anak, yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya," kata Amirzadeh yang bekerja untuk maskapai penerbangan murah di Negara Paman Sam, seperti yang dikutip dari CNN.

"Bahkan penumpang anak lebih sopan ketimbang penumpang dewasa," lanjutnya.

Hal sama juga dialami Putri (bukan nama sebenarnya), pramugari dari salah satu maskapai di Indonesia.

Jika mengecek dokumen syarat penerbangan bukanlah tugasnya, di atas awan ia harus "memanjangkan sabar" untuk mengingatkan penumpangnya agar memakai masker dan menjaga jarak.

"Mungkin bisa dibilang lebih banyak penumpang rese selama pandemi. Kebanyakan dari mereka anak muda atau orang tua yang termakan hoaks mengenai konspirasi virus corona, sampai yang merasa tidak akan pernah tertular jika telah vaksin," ujarnya kepada CNNIndonesia.com pada pekan lalu.

"Pekerjaan jadi sangat melelahkan," lanjutnya.

Tapi apa daya, Amirzadeh dan Putri tetap harus melanjutkan tugasnya demi membuat dapur rumah terus mengepul. Ditambah lagi saat ini ada banyak pemutusan hubungan kerja, jadi ketika masih diminta bekerja tentu saja menjadi keuntungan yang tak boleh disia-siakan.

Kasus meningkat

Drama penumpang pesawat yang terjadi di Indonesia selama pandemi virus corona mulai dari kasus pemalsuan dokumen perjalanan sampai penolakan mengenakan masker.

Jika di Tanah Air drama ini biasanya berakhir dengan pemanggilan polisi atau "pengadilan netizen di media sosial" - yang berujung permohonan maaf sembari menangis termehek-mehek, maka kasus di Amerika Serikat ditangani lebih serius dengan pemberian denda.

Data dari Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menunjukkan insiden penumpang tantrum meningkat dari tahun 2012 hingga 2015.

Peningkatan kasus ini sering dikaitkan dengan kabin pesawat yang semakin penuh, dengan peningkatan pemeriksaan keamanan dan proses yang menambah tingkat stres penumpang.

Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...

Lelah Pramugari Hadapi 'Bayi Besar' yang Enggan Bermasker

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK