Sejarah RS PGI Cikini, Rumah Sakit Tertua di Jakarta
CNN Indonesia
Minggu, 03 Okt 2021 16:21 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sejarah RS PGI Cikini dimulai dari keinginan misionaris asal Belanda untuk membangun balai pengobatan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
RS PGI Cikini menjadi salah satu bangunan bersejarah yang berada di kawasan Cikini. Letak persisnya berada di Jalan Raden Salah No. 40, Cikini, Jakarta Pusat.
Rumah sakit dengan luas area sekitar 5,6 hektare ini dulunya merupakan kediaman maestro seni lukis Indonesia, Raden Saleh. Rumah sakit ini termasuk rumah sakit tertua di Jakarta, bahkan di Indonesia.
Bangunan rumah sakit ikut andil dalam menorehkan sejarah di Indonesia. Berikut sejarah RS PGI Cikini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah RS PGI Cikini
Ilustrasi. Sejarah RS PGI Cikini bermula dari keinginan misionaris asal Belanda untuk mendirikan balai pengobatan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Bermula dari seorang misionaris asal Belanda, Dominee Cornelis de Graaf dan istrinya, Adriana J de Graaf, yang ingin mendirikan vereeniging voor ziekenverpleging in Indie atau balai pengobatan dengan tujuan merawat orang sakit tanpa melihat golongan.
Awalnya, mereka berdua mendirikannya di Gang Pool (daerah dekat Istana Negara) pada 1 September 1895.
Mendirikan dan menjalankan balai pengobatan tentu membutuhkan dana yang tak sedikit. Dari sana, Dominee de Graaf dan istri berusaha untuk mendapatkan uang untuk pelayanan tersebut.
Ratu Belanda saat itu, Ratu Emma, memberikan bantuan sebesar 100 ribu gulden. Dari sumbangan itu, mereka membeli rumah Raden Saleh (Huis van Raden Saleh) pada Juni 1897.
Kegiatan pengobatan yang mulanya berpusat di Gang Pool pun mulai dipindahkan ke Cikini. Mengutip laman RS Cikini, pada 12 Januari 1898, pelayanan di balai tersebut ditingkatkan dan diresmikan menjadi rumah sakit.
Koningin Emma Ziekenhuis (Rumah Sakit Ratu Emma), rumah sakit itu disebut. Nama itu dipilih sebagai tanda terima kasih kepada Ratu Emma yang telah memberikan sumbangan. Rumah sakit ini menjadi rumah sakit diakones pertama di Indonesia.
Ilustrasi. Rumah Raden Saleh yang juga menjadi bagian dari sejarah RS PGI Cikini. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Nirin Ninkuelen, yang berasal dari Depok, bekerja sebagai tenaga medis pertama berdarah pribumi di RS Ratu Emma. Pada 1 Agustus 1913, nama RS Ratu Emma berubah menjadi Rumah Sakit Tjikini.
Pada zaman kependudukan Jepang (1942-1945), rumah sakit ini menjadi rumah sakit Angkatan Laut Jepang (Kaigun). Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, Rumah Sakit Tjikini dioperasikan oleh Recovery of Allied Prisioners of War and Internees (RAPWI) atau organisasi militer yang bertugas untuk mengevakuasi tawanan perang di wilayah Asia Tenggara, termasuk Hindia Belanda.
Hingga akhir 1948, RS Tjikini dikembalikan kepada pihak swasta atau pihak awal pengelola yang dipimpin oleh R.F Bozkelman.
Seiring berjalannya waktu, Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini menyerahkan pengelolaan RS Tjikini kepada Prof. Dr. Joedono yang merupakan pimpinan sementara Dewan Gereja-gereja Indonesia (DGI) pada tahun 1957.
Simak lanjutan sejarah RS PGI Cikini di halaman berikutnya...
Kemudian, dr. H. Sinaga ditunjuk sebagai direktur pribumi pertama RS Tjikini. Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini mengubah namanya menjadi Yayasan Rumah Sakit DGI Tjikini.
Sehubungan dengan perubahan nama DGI menjadi PGI karena ejaan bahasan Indonesia yang disempurnakan, maka nama Yayasan RS DGI Tjikini berubah menjadi Yayasan Kesehatan PGI Cikini pada 31 Maret 1989.
Rumah Raden Saleh yang berada di area kompleks Rumah Sakit PGI Cikini menjadi salah satu cagar budaya dalam kategori bangunan. Raden Saleh merupakan seorang pelukis keturunan Indonesia yang mendapatkan kesempatan untuk belajar pendidikan seni lukis modern dari barat.
Raden Saleh menjadi pelopor lahirnya lukisan modern di Indonesia. Karya-karyanya pun terkenal, salah satunya adalah "Penangkapan Pangeran Diponegoro".
Pada tahun 1852, Raden Saleh merancang sendiri rumahnya yang mirip dengan salah satu kastil yang ada di Jerman, Kastil Callenberg. Berdasarkan situs Cagar Budaya Kemendikbud, rumah Raden Saleh merupakan rumah tipe vila berlanggam Ekletik-Neo Gotik.
Ilustrasi. Bangunan rumah Raden Saleh yang berada di dalam kompleks RS PGI Cikini menjadi salah satu cagar budaya Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Tata letak asli bangunan terhadap tapaknya dipengaruhi oleh gaya vila dan kastil yang berada di Eropa dengan taman yang luas. Terdapat pula lubang cahaya yang masuk ke dalam ruangan gelap pada ruang aula dengan penempatan cahaya pada bagian atap.
Selain itu, bentuk jendela yang lenkung-runcing menjadi salah satu ciri khas rumah dengan tipe Ekletik-Neo Gotik.
Bangunan ini pernah dipugar beberapa kali. Pada tahun 1970-an, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, melakukan penggantian plesteran dari bahan kapur menjadi plester semen.
Pada tahun 1990-an, atap rumah Raden Salah diperbaiki dan mengganti penutup atap yang semula dari genteng tanah liat menjadi genteng metal.
Selain rumah Raden Saleh yang megah, RS PGI Cikini juga memiliki taman yang luas. Taman itu sempat menjadi kebun botani dan kebun binatang yang luasnya hingga mencapai Taman Ismail Marzuki dan SMP 1 Cikini.
Keasrian taman yang tersisa di kompleks RS PGI Cikini pun masih tetap terjaga dan rapi hingga mendapat sebutan A Garden Hospital with Loving Touch.
Jakarta, CNN Indonesia --
RS PGI Cikini menjadi salah satu bangunan bersejarah yang berada di kawasan Cikini. Letak persisnya berada di Jalan Raden Salah No. 40, Cikini, Jakarta Pusat.
Rumah sakit dengan luas area sekitar 5,6 hektare ini dulunya merupakan kediaman maestro seni lukis Indonesia, Raden Saleh. Rumah sakit ini termasuk rumah sakit tertua di Jakarta, bahkan di Indonesia.
Bangunan rumah sakit ikut andil dalam menorehkan sejarah di Indonesia. Berikut sejarah RS PGI Cikini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah RS PGI Cikini
Ilustrasi. Sejarah RS PGI Cikini bermula dari keinginan misionaris asal Belanda untuk mendirikan balai pengobatan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Bermula dari seorang misionaris asal Belanda, Dominee Cornelis de Graaf dan istrinya, Adriana J de Graaf, yang ingin mendirikan vereeniging voor ziekenverpleging in Indie atau balai pengobatan dengan tujuan merawat orang sakit tanpa melihat golongan.
Awalnya, mereka berdua mendirikannya di Gang Pool (daerah dekat Istana Negara) pada 1 September 1895.
Mendirikan dan menjalankan balai pengobatan tentu membutuhkan dana yang tak sedikit. Dari sana, Dominee de Graaf dan istri berusaha untuk mendapatkan uang untuk pelayanan tersebut.
Ratu Belanda saat itu, Ratu Emma, memberikan bantuan sebesar 100 ribu gulden. Dari sumbangan itu, mereka membeli rumah Raden Saleh (Huis van Raden Saleh) pada Juni 1897.
Kegiatan pengobatan yang mulanya berpusat di Gang Pool pun mulai dipindahkan ke Cikini. Mengutip laman RS Cikini, pada 12 Januari 1898, pelayanan di balai tersebut ditingkatkan dan diresmikan menjadi rumah sakit.
Koningin Emma Ziekenhuis (Rumah Sakit Ratu Emma), rumah sakit itu disebut. Nama itu dipilih sebagai tanda terima kasih kepada Ratu Emma yang telah memberikan sumbangan. Rumah sakit ini menjadi rumah sakit diakones pertama di Indonesia.
Ilustrasi. Rumah Raden Saleh yang juga menjadi bagian dari sejarah RS PGI Cikini. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Nirin Ninkuelen, yang berasal dari Depok, bekerja sebagai tenaga medis pertama berdarah pribumi di RS Ratu Emma. Pada 1 Agustus 1913, nama RS Ratu Emma berubah menjadi Rumah Sakit Tjikini.
Pada zaman kependudukan Jepang (1942-1945), rumah sakit ini menjadi rumah sakit Angkatan Laut Jepang (Kaigun). Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, Rumah Sakit Tjikini dioperasikan oleh Recovery of Allied Prisioners of War and Internees (RAPWI) atau organisasi militer yang bertugas untuk mengevakuasi tawanan perang di wilayah Asia Tenggara, termasuk Hindia Belanda.
Hingga akhir 1948, RS Tjikini dikembalikan kepada pihak swasta atau pihak awal pengelola yang dipimpin oleh R.F Bozkelman.
Seiring berjalannya waktu, Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini menyerahkan pengelolaan RS Tjikini kepada Prof. Dr. Joedono yang merupakan pimpinan sementara Dewan Gereja-gereja Indonesia (DGI) pada tahun 1957.
Simak lanjutan sejarah RS PGI Cikini di halaman berikutnya...
Sejarah RS PGI Cikini, Rumah Sakit Tertua di Jakarta
Sejarah RS PGI Cikini dimulai dari seorang misionaris asal Belanda. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Kemudian, dr. H. Sinaga ditunjuk sebagai direktur pribumi pertama RS Tjikini. Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini mengubah namanya menjadi Yayasan Rumah Sakit DGI Tjikini.
Sehubungan dengan perubahan nama DGI menjadi PGI karena ejaan bahasan Indonesia yang disempurnakan, maka nama Yayasan RS DGI Tjikini berubah menjadi Yayasan Kesehatan PGI Cikini pada 31 Maret 1989.
Rumah Raden Saleh yang berada di area kompleks Rumah Sakit PGI Cikini menjadi salah satu cagar budaya dalam kategori bangunan. Raden Saleh merupakan seorang pelukis keturunan Indonesia yang mendapatkan kesempatan untuk belajar pendidikan seni lukis modern dari barat.
Raden Saleh menjadi pelopor lahirnya lukisan modern di Indonesia. Karya-karyanya pun terkenal, salah satunya adalah "Penangkapan Pangeran Diponegoro".
Pada tahun 1852, Raden Saleh merancang sendiri rumahnya yang mirip dengan salah satu kastil yang ada di Jerman, Kastil Callenberg. Berdasarkan situs Cagar Budaya Kemendikbud, rumah Raden Saleh merupakan rumah tipe vila berlanggam Ekletik-Neo Gotik.
Ilustrasi. Bangunan rumah Raden Saleh yang berada di dalam kompleks RS PGI Cikini menjadi salah satu cagar budaya Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Tata letak asli bangunan terhadap tapaknya dipengaruhi oleh gaya vila dan kastil yang berada di Eropa dengan taman yang luas. Terdapat pula lubang cahaya yang masuk ke dalam ruangan gelap pada ruang aula dengan penempatan cahaya pada bagian atap.
Selain itu, bentuk jendela yang lenkung-runcing menjadi salah satu ciri khas rumah dengan tipe Ekletik-Neo Gotik.
Bangunan ini pernah dipugar beberapa kali. Pada tahun 1970-an, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, melakukan penggantian plesteran dari bahan kapur menjadi plester semen.
Pada tahun 1990-an, atap rumah Raden Salah diperbaiki dan mengganti penutup atap yang semula dari genteng tanah liat menjadi genteng metal.
Selain rumah Raden Saleh yang megah, RS PGI Cikini juga memiliki taman yang luas. Taman itu sempat menjadi kebun botani dan kebun binatang yang luasnya hingga mencapai Taman Ismail Marzuki dan SMP 1 Cikini.
Keasrian taman yang tersisa di kompleks RS PGI Cikini pun masih tetap terjaga dan rapi hingga mendapat sebutan A Garden Hospital with Loving Touch.