Gang Poppies Lane, di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, yang dulunya selalu meriah dengan kemacetan kendaraan dan turis yang jalan kaki kini terlihat sunyi. (CNN Indonesia/Kadafi)
Jakarta, CNN Indonesia --
Gang Poppies Lane, di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, yang dulunya selalu meriah dengan kemacetan kendaraan dan turis yang jalan kaki kini terlihat sunyi, karena hilangnya kerumunan wisatawan domestik hingga mancanegara.
Banyak toko yang tutup, dan tak sedikit yang terlihat terbengkalai, sebagian besar berupa art shop alias toko suvenir tempat penduduk lokal menjajakan oleh-oleh khas Bali.
Di depan pertokoan terlihat tumpukan sampah berupa daun kering serta semak belukar yang cukup tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gang Poppies Lane, yang dulunya yang terkenal di dunia menjadi tujuan para backpacker, seakan mati suri setelah pariwisata Bali dihajar oleh pandemi virus Corona.
Di antara banyak pertokoan yang tutup, masih ada satu-dua art shop yang buka di gang - yang namanya diambil dari tumbuhan yang hidup di California, Amerika Serikat - itu.
Salah satu pemilik toko di Gang Poppies Lane yang sekarang ditutup ialah pendatang dari Jawa Timur bernama Rasyid.
Ia mengatakan, tokonya sudah ditutup selama dua tahun sejak pandemi Covid-19. Karena bisnisnya keok, ia lalu memilih pulang kampung.
Hingga saat ini, ia belum terpikir untuk menengok tokonya.
"Kalau kita buka, kita bayar uang (kontrakan). Kalau tidak buka, iya tidak bayar," kata Rasyid, saat dihubungi Jumat (15/10) malam.
Terlintas di benaknya akan kembali membuka art shop nya, jika kondisi Pulau Dewata sudah normal setelah gerbang pariwisata kembali dibuka pada 14 Oktober.
Tentu saja ia harus memutar otak untuk mendatangkan pembeli, karena biaya kontrakan lapaknya di gang yang hanya muat satu mobil itu bisa mencapai Rp74 juta per tahun.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
"Saya mau buka kalau Bali mulai normal," katanya saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com pada beberapa hari yang lalu.
Ia mengenang, saat sebelum pandemi tokonya yang telah beroperasi sekitar 25 tahun bisa mendapat keuntungan sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta per hari.
"Kalau sepi, iya Rp300 ribu dan Rp200 ribu. Tergantung wisatawan ramai apa tidak," ujarnya.
Sementara Fathor, yang juga salah satu pemilik art shop di Gang Poppies Lane, mengatakan, bahwa banyak pertokoan yang tutup karena sudah habis masa kontraknya dan tidak mampu membayar sewa tahunan lagi.
Semua pedagang seakan kompak, hendak membuka pertokoan lagi di sana jika situasi Bali sudah kembali normal prapandemi.
Demi bertahan hidup, Fathor memilih tetap membuka tokonya dan memberikan diskon besar-besaran.
Barang yang dijual mulai dari kaus sampai tas. Beberapa wisatawan domestik kebanyakan mampir, tapi penjualannya tak semelejit seperti sebelum pandemi.
Omzet tokonya sebelum pandemi disebut bisa mencapai Rp3 juta sampai Rp6 juta per hari. Namun kini, tak menentu.
Efek pandemi virus Corona dikatakannya lebih dahsyat ketimbang saat Bali diteror aksi pengeboman sampai gunung berapi.
Asa membuka tokonya di tengah pandemi Covid-19 dirasanya lebih kembang kempis.
"Obral barang biar produknya tak rusak kalau terlalu lama di simpan. Cukup rugi, karena kaus yang biasanya dijual Rp35 ribu sekarang bisa Rp10 ribu-Rp15 ribu. Tas rotan yang biasanya dijual Rp90 ribu sekarang Rp30 ribu," katanya.
"Harapannya, mudah-mudahan pariwisata di Bali cepat pulih kembali dan turis banyak datang lagi," ujar Fathor.
Gang Poppies Lane, di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, yang dulunya selalu meriah dengan kemacetan kendaraan dan turis yang jalan kaki kini terlihat sunyi, karena hilangnya kerumunan wisatawan domestik hingga mancanegara.
Banyak toko yang tutup, dan tak sedikit yang terlihat terbengkalai, sebagian besar berupa art shop alias toko suvenir tempat penduduk lokal menjajakan oleh-oleh khas Bali.
Di depan pertokoan terlihat tumpukan sampah berupa daun kering serta semak belukar yang cukup tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gang Poppies Lane, yang dulunya yang terkenal di dunia menjadi tujuan para backpacker, seakan mati suri setelah pariwisata Bali dihajar oleh pandemi virus Corona.
Di antara banyak pertokoan yang tutup, masih ada satu-dua art shop yang buka di gang - yang namanya diambil dari tumbuhan yang hidup di California, Amerika Serikat - itu.
Salah satu pemilik toko di Gang Poppies Lane yang sekarang ditutup ialah pendatang dari Jawa Timur bernama Rasyid.
Ia mengatakan, tokonya sudah ditutup selama dua tahun sejak pandemi Covid-19. Karena bisnisnya keok, ia lalu memilih pulang kampung.
Hingga saat ini, ia belum terpikir untuk menengok tokonya.
"Kalau kita buka, kita bayar uang (kontrakan). Kalau tidak buka, iya tidak bayar," kata Rasyid, saat dihubungi Jumat (15/10) malam.
Terlintas di benaknya akan kembali membuka art shop nya, jika kondisi Pulau Dewata sudah normal setelah gerbang pariwisata kembali dibuka pada 14 Oktober.
Tentu saja ia harus memutar otak untuk mendatangkan pembeli, karena biaya kontrakan lapaknya di gang yang hanya muat satu mobil itu bisa mencapai Rp74 juta per tahun.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Kembang Kempis Asa Pedagang di Gang Poppies Bali
Gang Poppies Lane, di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, yang dulunya selalu meriah dengan kemacetan kendaraan dan turis yang jalan kaki kini terlihat sunyi. (CNN Indonesia/Kadafi)
"Saya mau buka kalau Bali mulai normal," katanya saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com pada beberapa hari yang lalu.
Ia mengenang, saat sebelum pandemi tokonya yang telah beroperasi sekitar 25 tahun bisa mendapat keuntungan sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta per hari.
"Kalau sepi, iya Rp300 ribu dan Rp200 ribu. Tergantung wisatawan ramai apa tidak," ujarnya.
Sementara Fathor, yang juga salah satu pemilik art shop di Gang Poppies Lane, mengatakan, bahwa banyak pertokoan yang tutup karena sudah habis masa kontraknya dan tidak mampu membayar sewa tahunan lagi.
Semua pedagang seakan kompak, hendak membuka pertokoan lagi di sana jika situasi Bali sudah kembali normal prapandemi.
Demi bertahan hidup, Fathor memilih tetap membuka tokonya dan memberikan diskon besar-besaran.
Barang yang dijual mulai dari kaus sampai tas. Beberapa wisatawan domestik kebanyakan mampir, tapi penjualannya tak semelejit seperti sebelum pandemi.
Omzet tokonya sebelum pandemi disebut bisa mencapai Rp3 juta sampai Rp6 juta per hari. Namun kini, tak menentu.
Efek pandemi virus Corona dikatakannya lebih dahsyat ketimbang saat Bali diteror aksi pengeboman sampai gunung berapi.
Asa membuka tokonya di tengah pandemi Covid-19 dirasanya lebih kembang kempis.
"Obral barang biar produknya tak rusak kalau terlalu lama di simpan. Cukup rugi, karena kaus yang biasanya dijual Rp35 ribu sekarang bisa Rp10 ribu-Rp15 ribu. Tas rotan yang biasanya dijual Rp90 ribu sekarang Rp30 ribu," katanya.
"Harapannya, mudah-mudahan pariwisata di Bali cepat pulih kembali dan turis banyak datang lagi," ujar Fathor.