Jakarta, CNN Indonesia -- Negeri Naga Petir sampai Shangri-La Terakhir menjadi sebutan bagi Bhutan, negara kerajaan yang terkurung di daratan, dikelilingi oleh pegunungan Himalaya serta berbatasan dengan India dan China.
Di tengah pesona alam dan keramahan penduduk Bhutan, turis akan terkejut dengan keberadaan mural atau pajangan berbentuk penis di penjuru kotanya.
Oleh karena itu, sangat penting untuk membaca sejarah destinasi setempat sebelum pelesir, sehingga kita sebagai turis bisa menghargai budaya setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tradisi mengagungkan penis di Bhutan dimulai pada abad ke-15, dari kedatangan orang suci Tibet yang eksentrik dan maverick, atau Lama, yang disebut Drukpa Kunley.
Cerita rakyat berkisah pada saat kedatangannya, menembakkan panah dari Tibet demi menandai tempat baru untuk menyebarkan ajarannya.
Anak panah itu mendarat di dekat lokasi yang sekarang bernama Chimi Lakhang di Punakha (di mana kuilnya berdiri sekarang) dan membawanya ke Bhutan.
Saat mencari panah, dia bertemu dengan seorang gadis muda yang lalu dijadikannya pasangan. Saat ini, kuil kesuburan menampung busur dan anak panah kuno dan totem penis sebesar 10 inci yang terbuat dari gading dan kayu.
Selama perjalanan di Bhutan, Drukpa Kunley melihat para biksu sangat patuh norma-norma yang dianggapnya konvensional.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Memahami Sejarah Penis di Bhutan
Kuil Chimi Lakhang di Punakha, Bhutan, salah satu kuil tempat sejarah "keagungan" penis berawal di Bhutan. (iStockphoto/Wanchanta)
Ia lalu menyebarkan ajaran Buddha yang dianggapnya lebih dinamis, sehingga umatnya bisa tergugah untuk mempertanyakan hal-hal selain di kitab, seperti soal kemapanan hingga seks.
Ajaran Drukpa Kunley yang dianggap menabrak batas membuatnya mendapat sebutan sebagai The Divine Madman (Orang Suci yang Gila).
Sementara Drukpa Kunley tidak begitu diterima secara luas pada masanya, hari ini ia dipuja karena caranya yang berani dan karena esensi ajarannya.
Penduduk setempat tak segan melukis atau memajang pahatan penis di luar rumah mereka untuk mengusir roh jahat dan memanggil dewa kesuburan.
Legenda mengenai penis sebenarnya membuat Bhutan ramai didatangi oleh pasangan yang baru menikah dan memimpikan segera memiliki momongan.
Mengutip Culture Trip, beberapa pengelola kuil bahkan ada yang menerima foto bayi dari pengunjung yang telah datang beberapa bulan sebelumnya.
Saat datang ke Bhutan bersama pemandu wisata, sudah pasti ia akan mengungkapkan lebih banyak kisah mengenai sejarah penis di negaranya.
Dan sebagai turis, hendaknya kita menghargai tradisi budaya tersebut, dengan cara yang sopan dan santun, salah satunya dengan tidak mengejek penjelasannya atau berfoto dengan pose konyol di mural atau pahatan penis yang ada.
[Gambas:Video CNN]