Jakarta, CNN Indonesia -- Kaum perempuan punya andil dalam pengolahan kopi, baik di hulu maupun hilir. Lady Farmer Coffee Roastery, komunitas pemberdaya perempuan industri kopi di Banjarnegara, Jawa Tengah, berupaya memberdayakan perempuan, sekaligus membuktikan bahwa perempuan tak layak diremehkan di dunia kopi.
Sudah banyak terkuras tenaga, Farida Dwi, inisiator Lady Farmer Coffee Roastery, pun terkuras juga hatinya. Dia menemukan biji kopi petani-petani perempuan di Banjarnegara dibeli dengan harga murah. Padahal ia tahu, mengurus kebun kopi bukan hal mudah.
"Ih, aku lho [juga] ngerjain [kebun kopi]. Jangan kayak gitu. Merawat kopi itu enggak mudah. Mulai dari situ [tergerak buat bantu petani perempuan], karena aku ngerasain [susahnya merawat kebun kopi]," ujar Wiwi, sapaan akrab Farida Dwi, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (30/9).
Dia bercerita, petani perempuan, yang didominasi oleh kaum ibu dan perempuan lanjut usia, banyak mengalami penipuan, utamanya urusan harga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sempat terjadi, buah kopi Arabika dihargai Rp3 ribu per kilogram. Padahal, di pasar kopi, buah kopi itu bisa mencapai Rp7 ribu per kilogram.
Kondisi tak kalah mengenaskan dialami buruh lepasan khusus untuk memetik kopi di kebun. Mereka hanya dihargai Rp2 ribu per kilogram buah.
Tak hanya persoalan harga, para petani juga miskin pengetahuan mengenai proses pascapanen. Kondisi ini pun berimbas pada kualitas hasil panen kurang optimal dan rendahnya harga beli.
Belum lagi pandangan miring masyarakat terhadap perempuan-perempuan yang terjun ke industri kopi.
"Di daerah kami, petani perempuan, prosesor kopi perempuan, belum bisa diterima di masyarakat. Apa perempuan mampu sih bermain, berkecimpung di industri kopi?" ucapnya.
Padahal, perempuan punya peran penting dalam industri kopi. Pemilik kebun kopi tetap menggunakan jasa perempuan saat proses pemetikan, penjemuran, dan sortasi.
Wiwi pun menggunakan jenama Lady Farmer Coffee Roastery karena melihat banyak sekali perempuan yang jadi pelaku industri kopi di sekitarnya.
Belajar pemasaran dulu, edukasi kopi kemudian
 Ilustrasi. Lady Farmer Coffee Roastery membuktikan bahwa perempuan tak bisa diremehkan di industri kopi. (ANTARA FOTO/FAUZAN) |
Wiwi memulai pergerakannya dengan belajar tentang pemasaran kopi. Menurutnya, saat komunitas sudah tahu cara pemasaran dan relasi dengan pembeli, edukasi tentang kopi jadi tidak sia-sia.
Dia belajar cara mencari pembeli, seperti apa kopi-kopi yang dicari di pasaran, kriteria kopi yang layak jual, hingga 'kelas' atau grade kopi.
"Ada buyer (pembeli) yang baik, ngajarin detail. Alhamdulillah, dari situ kami punya kerja sama. Sebelum ngajarin [tentang kopi], kami ada tempat dulu buat menampung, menerima kopi kami," imbuhnya.
Untuk pengetahuan tentang kopi, ia banyak menimba ilmu dari gelaran-gelaran berbau kopi, buku-buku, belajar dari mereka yang sudah terjun ke dunia kopi sembari bereksperimen di kebun sendiri.
Gagal? Tentu saja pernah.
Namun, buat Wiwi dan rekan-rekan di Lady Farmer Coffee Roastery, justru pengalaman ini jadi pembelajaran. Apalagi perawatan kopi sangat tergantung dengan kondisi tanah dan cuaca wilayah. Kalau tidak eksperimen, bagaimana mau menciptakan kopi berkualitas?
Simak cerita tentang Lady Farmer Coffee Roastery selengkapnya di halaman berikutnya..
Kopi Kekinian Jadi Pendongkrak Semangat
Ilustrasi. Lady Farmer Coffee Roastery membuktikan bahwa perempuan tak bisa diremehkan di industri kopi. (Anadolu Agency/Junaidi Hanafiah)
Sementara para perempuan ini semakin berdaya, ada pihak lain yang dibuat 'ketar-ketir'. Wiwi mengaku, ada saja gesekan dengan para pembeli atau pengepul kopi sebab petani tidak lagi bisa diperdaya dengan harga beli murah.
"[Pembeli bilang] aku tuh rugi, kamu siapa sih kok berani-beraninya ngajarin?" kenang Wiwi.
Wiwi dan rekan komunitas pun kerap disiram aneka sumpah serapah dari para pembeli kopi. Saat pandemi, mereka pun seolah bersorak karena komunitas kesulitan menjual kopi dan kehabisan modal.
Hanya saja, kondisi ini tidak berlangsung lama. Situasi pandemi yang perlahan membaik turut membuat iklim penjualan kopi membaik pula. Kopi-kopi terjual habis, bahkan sempat kekurangan suplai.
Kopi Arabika dan Robusta dari Lady Farmer Coffee Roastery sudah menyuplai kedai-kedai kopi di Banjarnegara dan sekitarnya.
Meski begitu, perjalanannya juga tidak mudah. Kopi sempat ditolak hanya karena dihasilkan dari tangan-tangan perempuan.
"Kalau aku lihat, mereka menganggap perempuan belum bisa proses [menghasilkan] kopi yang konsisten [dari segi kualitas]. Kami membuktikan lewat ikut beberapa festival kopi, mereka mulai [melirik], oh ternyata enak," ujarnya sumringah.
Kopi kekinian pendongkrak semangat
 Ilustrasi. Kopi-kopi yang dihasilkan Lady Farmer Coffee Roastery telah menyuplai sejumlah kedai di Banjarnegara. (Anadolu Agency/Junaidi Hanafiah) |
Perjalanan selama kurang lebih enam tahun membuahkan perubahan berarti bagi para perempuan pelaku industri kopi. Wiwi melihat dari sisi ekonomi, petani perempuan tahu cara menghasilkan kopi berkualitas dan standar harga kopi pasaran.
Buruh perempuan paham akan sistem upah. Mereka bisa menentukan harga jasa mereka disesuaikan dengan medan kebun. Upah Rp2 ribu jelas tidak berlaku buat mereka.
Belum lagi, menjamurnya kedai kopi kekinian membantu penyerapan hasil panen para petani.
"Adanya minuman kopi yang banyak banget itu, di kami juga banyak sekali pesanan, minta dikirim segini, segini. Kami jadi semangat merawat kopi," ujar Wiwi.
Pembeli bisa memesan biji kopi, baik dalam kondisi sudah dipanggang (roasting) maupun biji mentah (green beans). Di kediaman Wiwi, di Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, biji-biji kopi dipanggang sesuai pesanan.
Di samping menyuplai kedai kopi, komunitas juga menyuplai perusahaan. Otomatis, pesanan tak lagi dalam hitungan kilogram, tetapi kwintal.
Rasanya, capaian para perempuan ini begitu luar biasa. Namun, Wiwi tetap menyelipkan harap bahwa perempuan tak lagi dipandang remeh saat terjun ke dunia kopi.
"Industri perkopian itu banyak. Enggak cuma petani, roastery, barista, hulu dan hilir berkesinambungan. Jangan pernah memandang sebelah mata buat kaum perempuan yang masuk dunia kopi," pungkasnya.