Jangan Asal, Begini Kata Dokter soal Cara Ukur Tekanan Darah di Rumah

CNN Indonesia
Jumat, 29 Mei 2026 13:30 WIB
Ilustrasi. Hasil pengukuran tekanan darah secara mandiri di rumah dan di klinik bisa berbeda. (iStockphoto/MIND_AND_I)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hasil pengukuran tekanan darah di rumah dan di klinik ternyata bisa berbeda. Perbedaan ini kerap membuat banyak orang bingung saat mendapati angka tensi berubah meski diperiksa dalam waktu berdekatan.

Ketua Indonesian Society of Hypertension (INASH), dokter spesialis saraf Eka Harmeiwati mengatakan, pengukuran tekanan darah dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi tubuh, posisi saat pemeriksaan, hingga faktor psikologis.

Menurut Eka, batas tekanan darah normal di rumah juga berbeda dengan pemeriksaan di fasilitas kesehatan seperti klinik atau rumah sakit.

"Kalau di rumah batasan normalnya 135/85, bukan 140/90, itu di klinik," kata Eka dalam acara peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan, Rabu (20/5).

Ia menjelaskan, tekanan darah di klinik cenderung lebih tinggi karena sebagian orang merasa tegang saat bertemu tenaga kesehatan. Kondisi ini dikenal sebagai white coat hypertension atau hipertensi jas putih.

"Tekanan darahnya naik kalau ketemu dokter atau ketemu petugas kesehatan. Tapi kalau di rumah tensinya normal," ujarnya.

Selain hipertensi jas putih, Eka juga mengingatkan adanya kondisi masked hypertension atau hipertensi terselubung. Pada kondisi tersebut, tekanan darah tampak normal saat diperiksa di klinik, tetapi justru tinggi saat di rumah.

"Kalau di dokter, di klinik, tensinya normal, tapi di rumah tinggi. Ini namanya enggak terdeteksi," katanya.

Oleh karena itu, Eka menyarankan masyarakat mulai rutin mengukur tekanan darah sendiri di rumah, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko hipertensi seperti obesitas, stres, riwayat keluarga, atau kebiasaan merokok.

Namun, ia mengingatkan, pengukuran tekanan darah di rumah juga tidak boleh dilakukan sembarangan. Posisi tubuh yang salah dapat membuat hasil pemeriksaan menjadi tidak akurat.

"Kalau tidak bersandar, maka tekanan darah yang diukur itu bisa naik 10 sampai 15," ujar Eka.

Ia juga mengingatkan seseorang sebaiknya tidak berbicara selama pemeriksaan berlangsung karena dapat memengaruhi hasil tensi.

"Tidak boleh ngobrol. Ngobrol bisa naik 10 sampai 20," katanya.

Selain itu, menurut Eka, ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan sebelum memeriksa tekanan darah karena justru dapat menimbulkan tekanan darah bisa naik, seperti beberapa kondisi berikut:
- marah,
- sedang stres,
- setelah melakukan olahraga,
- setelah makan,
- setelah mengonsumsi obat.

Eka mengatakan pemeriksaan tekanan darah idealnya dilakukan dua hingga tiga kali karena hasil pengukuran pertama biasanya lebih tinggi.

Menurutnya, pemantauan tekanan darah secara rutin penting dilakukan karena hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.

Hal ini karena, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, hingga gagal ginjal.

(nga/asr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK