Kompetisi Fotografi Internasional

Afrika Bukan Hanya Tempat Kumuh dan Safari

Yohannie Linggasari, CNN Indonesia | Jumat, 05/09/2014 10:15 WIB
Afrika Bukan Hanya Tempat Kumuh dan Safari Foto dalam kompetisi fotografi POPCAP 2014
Jakarta, CNN Indonesia -- Afrika adalah tempat yang penuh keberagaman, tetapi tidak banyak yang mengetahui itu sampai mereka melihat potret-potret Afrika. Sudah terlalu lama stereotipe yang sama dipertahankan terus-menerus, yaitu potret yang menunjukkan safari dan tempat kumuh.

Seniman media yang berbasis di Berlin, Benjamin Fuglister ingin mengubahnya.

Editor sekaligus pendiri piclet.org – sebuah direktori online yang berisikan fotografer-fotografer ulung – menyadari dia tidak begitu tahu seberapa banyak talenta yang ada dalam mendokumentasikan tempat itu.


“Saya mulai menyadari banyak foto tentang Afrika ternyata datang dari sekumpulan orang yang sama,” katanya.

Ia kemudian bersemangat untuk menemukan talenta baru dari dalam Afrika dan berusaha memperkenalkannya ke komunitas internasional fotografi. Ia menawarkan hadiah yang disebut POPCAP bagi fotografer terpilih.

Meskipun kontes ini terbuka untuk siapa saja, tak peduli berapa umurnya atau apa kebangsaannya, semua foto harus diambil dari Afrika atau dari komunitas diaspora Afrika di luar negeri.

Tahun ini merupakan tahun ketiga, di mana POPCAP telah menerima lebih dari 720 pendaftaran dari 88 negara. Minggu lalu, telah terpilih lima pemenang untuk kompetisi tahun 2014 yang dipilih oleh 26 juri dari berbagai negara.

1. Patrick Willocq, I am Walé Respect Me

Di seri I am Walé Respect Me, Willocq mengeksplorasi ritual inisiasi bagi ibu muda – atau disebut Walé – di komunitas Ekonda.

Ibu muda tinggal di pengasingan bersama orangtua mereka selama dua sampai lima tahun, dan kemudian kembali, ditandai dengan menari dan ritual.

Selama perayaan ini, mereka menyanyikan lagu yang menunjukkan rasa kesepian mereka. Untuk seri fotonya, Willocq meminta beberapa orang Walé untuk berpose. Setiap foto merupakan representasi visual dari lagu-lagu yang dinyanyikan partisipan.

“Saya selalu terpesona oleh suku-suku asli karena saya merasa mereka punya kekayaan yang tidak dipunyai oleh orang-orang seperti kita,” katanya.

“Kini, banyak upacara inisiasi di Kongo yang mulai menghilang. Upacara para perempuan Walé tetap bertahan di tengah tekanan modernitas. Tetapi sampai kapan?”

2. Joana Choumali, The Last Generation

Joana Choumali lahir di Ivory Coast pada 1947, ketika tradisi membuat sayatan dekoratif di kulit mulai mengalami penurunan di daerah tersebut.

Foto-fotonya, The Last Generation, adalah satu dari beberapa hasil eksplorasinya terhadap ritual yang mulai hilang ini.

“Saya mengalami kesulitan menemukan orang-orang ini karena mereka mulai jarang,” kata Choumali. Praktik ini mulai menghilang karena penolakan dari kelompok religius.

Bagi Choumali, subjek fotonya merepresentasikan lebih dari sekadar praktik yang mulai mati, melainkan juga isu-isu yang rumit tentang identitas masyarakat modern Afrika.

“Foto seri ini memunculkan pertanyaan mengenai hubungan antara masa lampau dan masa kini.”

Fuglister mengatakan juri terkesan dengan talenta yang dimiliki Choumali serta pendekatannya terhadap topik tersebut.

3. Léonard Pongo, The Uncanny

Léonard Pongo mengerjakan The Uncanny, sebuah proyek dokumenter yang berlatarkan Republik Kongo, sejak pemilihan umum presiden tahun 2011.

Ia memotret anggota keluarga, figur politik, dan pemimpin agama untuk memperlihatkan akibat dari perang yang turut menghancurkan keutuhan sebuah negara.

Pongo juga punya maksud personal. Meski ia lahir dan tinggal di Belgia, akarnya adalah sebagai orang Kongo.

“Saya mau mencoba mengerti masyarakat Kongo, dan menemukan jati diri saya,” katanya.

4. Ilan Godrey, Legacy of the Mine

Dalam karya Legacy of the Mine, fotografer asal Afrika Selatan ini memutuskan untuk meneliti bagaimana efek pertambangan dalam kehidupan masyarakat di Afrika.

Fotonya bergaya jurnalistik dan memotret kehidupan sehari-hari dari komunitas yang terlupakan dan terkena imbas industri pertambangan.

Fotonya menunjukkan bagaimana industri pertambangan telah berkontribusi terhadap polusi udara, air, dan tanah di Afrika Selatan, dan bagaimana itu semua memengaruhi kesehatan masyarakat.

"Foto-foto ini sangat bagus karena karya ini sebenarnya menceritakan narasi yang luas. Ini bukan hanya mengenai kejatuhan industri pertambangan setelah apartheid. Godrey sebenarnya menceritakan sebuah cerita yang rumit," kata Fuglister.

5. Steketee & Blankevoort, Love Radio

Fotografer Anoek Steketee dan jurnalis sekaligus pembuat film Eefje Blankevoort membuat dokumenter mengenai radio soap (drama radio) di Rwanda, yaitu Musekeweya (berarti Fajar Baru), diciptakan oleh organisasi nonprofit Radio La Benevolencij sepuluh tahun lalu sebagai usaha merekonsiliasi suku Hutu dan Tutsi setelah genosida di Rwanda.

Drama ini menceritakan dua desa yaitu Muhumuro dan Bumanzi yang penduduknya mengalami konflik. Dua karakter utamanya, yaitu Shema dan Baamuriza adalah sepasang kekasih bernasib sial yang terperangkap dalam "air pasang".

Acara ini bertujuan mengajarkan pendengar bagaimana sebenarnya kekerasan terbentuk dan bagaimana mencegah hal itu terjadi. Sekitar 80 persen populasi tertarik dengan acara ini.

"Di satu sisi, mereka mendukung peran radio soap ini, tetapi di sisi lain, mereka mengkritik organisasi nonprofit yang datang dari luar dan berusaha membuat perubahan yang lebih baik," kata Fuglister.