Seniman Timor Melukis dengan Tanah dan Daun Sirih

Karina Armandani, CNN Indonesia | Sabtu, 06/09/2014 16:04 WIB
Seniman Timor Melukis dengan Tanah dan Daun Sirih Salah satu hasil karya Madeira (Karina Armandani/CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lukisan itu memancarkan pelangi dari kejauhan. Warna-warni alam terlihat apik berdampingan dalam satu kanvas. Sang seniman rupanya menggunakan kopi, daun sirih, kain, dan tanah untuk menciptakan karya yang tak biasa.

Ina Lou, pameran tunggal seniman asal Timor Leste Maria Madeira menghadirkan ide baru bagi seniman lainnya. Terinspirasi dari alam sekitarnya, Maria menyulap batu tanah dan daun sirih menjadi karya seni yang menarik dan unik.

“Saya menggunakan getah daun sirih untuk melukis warna-warna itu,” jawab Maria Madeira, pembuat lukisan berjudul Laiha Titulu atau Untitled, saat ditemui di Galeri Cipta II di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (5/9).

Terdapat 23 karya seni yang ditampilkan pada pameran tersebut, satu di antaranya berupa instalasi bernama Husar Talin atau Tali Pusar. Instalasi ini berada di tengah-tengah ruangan pameran dengan tali-tali berbentuk seperti tali pusar yang digantung pada langit-langit ruangan. Di bawahnya terdapat bercak-bercak oranye, cokelat, dan merah di lantai.

Karya-karya Maria pada pameran ini menggugah mata pengunjung untuk memperhatikan lebih dekat padanan warna yang dimainkan pada lukisan-lukisannya. Banyak dari karya Maria yang menggunakan sepotong kain Tais, kain tradisional Timor, atau benang yang digunakan untuk menenun Tais yang lalu dipadankan dengan akrilik dan medium unik lainnya.

Tidak perlu menampilkan kesedihan

Penyerbuan Indonesia ke Timor Leste menorehkan luka pada masyarakatnya. Kehancuran dan kepedihan yang terlihat oleh Maria tidak secara gamblang ia tampilkan pada karyanya.

Jika dilihat sepintas, kebanyakan warna yang digunakan Maria adalah warna-warna cerah yang tidak menunjukkan sejarah Timor yang kelam.

“Saya memilih untuk memilih warna-warna yang cerah, meskipun yang saya gambarkan adalah situasi yang miris di Timor Leste. Saya ingin pengunjung tidak mendapatkan kesan itu,” Maria menjawab.

Seperti lukisan berjudul Untitled, Maria menggunakan warna-warna yang menggembirakan seperti warna pelangi. Namun jika dilihat lebih dekat kita akan melihat ada gambar rumah-rumah yang ditutupi dengan bercak-bercak cokelat yang menunjukkan ada hal lain di balik keceriaan tadi.

Maria ingin menunjukkan bahwa kenangan akan peristiwa buruk tidak perlu dituangkan dalam karya seni yang dapat membuat orang-orag terenyuh atau merasa iba.

Kurangnya seni di Timor

Mendefinisikan seni Timor mungkin tidak mudah. Bagi Maria itulah tugasnya sebagai masyarakat yang lahir di tanah tersebut.

Saat mengerjakan karya-karya ini, Maria sadar ada hal-hal yang sulit untuk ditemukan di tanah airnya itu. “Tidak ada toko kesenian, sulit untuk mencari akrilik, tidak ada sekolah seni di sana,” Maria mengungkapkan

Tetapi hal ini tidak menghentikan Maria untuk berkarya. Hal ini justru menjadi inspirasi bagi dirinya. Ia melihat sekeliling dan menemukan harta karun di alam sekitarnya.

“Banyak seniman di Timor yang mengeluh karena sulit untuk mencari cat dan lain-lain, hal itu harusnya dijadikan kelebihan oleh mereka,” jawab Maria.

Menurut Maria tidak adanya cat seharusnya membuat seniman berpikir kreatif apa yang bisa dijadikan penggantinya. Karena jika hanya menunggu adanya bahan-bahan, karya itu tidak akan bisa jadi begitu saja.