Hari Pencegahan Bunuh Diri

Depresi dan Bunuh Diri Hantui Dunia Selebriti

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Rabu, 10/09/2014 11:44 WIB
Depresi dan Bunuh Diri Hantui Dunia Selebriti Robin Williams (Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hidup glamor dengan gelimang popularitas sepertinya menyenangkan. Namun, sorot lampu kamera yang terus memburu juga bisa berujung pada kisah pilu. Lihat saja apa yang terjadi pada Robin Williams.

Betapa dunia tak terkejut jika wajah yang biasanya mengembangkan senyum lebar dan bisa membuat tertawa banyak orang itu mendadak terbujur kaku tak bernyawa. Williams ditemukan meninggal, Senin (11/8).

Menurut keterangan Sherif Marin County, bintang Mrs Doubtfire itu bunuh diri. Tubuhnya ditemukan di rumahnya, sekitar pukul 11.55 waktu California. Posisi Williams agak tergantung, dengan sabuk di lehernya.


“Sabuk terjepit antara lemari dan pintu. Bahu kanan Williams menyentuh pintu, tubuhnya sedikit tergantung, seperti posisi duduk,” Letnan Keith Boyd, asisten wakil kepala koroner, mengatakan dengan detail.

Tak hanya itu, ditemukan pula luka di pergelangan tangan Williams. Darahnya telah mengering. Sementara, ada pisau di dekat tubuhnya. Seluruh fakta itu membuat petugas akhirnya menyimpulkan, Williams bunuh diri. Asfiksia atau kondisi tubuh yang kekurangan oksigen, menjadi penyebab kematiannya.

Simpulan itu tak dibantah keluarga Williams, termasuk istrinya, Susan Schneider. Seorang perwakilan keluarga bahkan membocorkan situasi pelik yang dialami pria 63 tahun itu sebelum meninggal. Disebutkan, ia depresi.

“Robin Williams meninggal pagi ini. Dia berjuang melawan depresi berat akhir-akhir ini,” ujar asistennya.

Depresi langsung dikaitkan dengan keinginan bunuh diri Williams. Apalagi, ia punya masalah dengan obat-obatan. Beberapa hari kemudian, sang istri mengungkap, suaminya juga mengidap parkinson tahap awal.

Itu kombinasi ampuh penyebab bunuh diri. Penderita parkinson, selain menghadapi persoalan saraf yang perlahan melumpuhkan, juga dihantui kecemasan dan masalah memori. Itu jelas berisiko bunuh diri.

Kematian Williams seakan membuka tabir yang membekap dunia selebriti. Publik figur ternyata rentan depresi. Masalah kecil bisa menjadi besar saat lampu kamera dan miliaran pasang mata di dunia menyorot Anda.

Jauh sebelum Williams, juga ada beberapa pesohor yang bernasib serupa. Heath Ledger misalnya, yang ditemukan meninggal di apartemennya, awal tahun 2008. Ia meninggal karena overdosis obat penenang.

Tak tanggung-tanggung, Ledger menenggak enam obat sekaligus. Karena dikonsumsi bersamaan, efeknya sangat fatal. Dikabarkan, polah aneh Ledger itu berkaitan dengan karakternya dalam The Dark Knight: Joker.

Disebut-sebut, ia terlalu mendalami karakter psikopat itu. Buku hariannya yang diungkap beberapa hari setelah kematian, membenarkan hal itu. Ledger mencatat setiap detail dari karakternya dalam buku itu. Di bagian akhir, ia seperti menyampaikan pesan kematian. “Bye bye,” tulis Ledger di bagian belakang buku harian.

Sang ayah, Kim Ledger menjelaskan betapa putranya sangat mendalami karakter Joker. Ledger sampai mengunci diri berminggu-minggu bersama buku hariannya. “Heath memang seperti itu,” ujarnya. “Dia suka menyelami setiap karakternya, tapi kali ini tampaknya dia melakukannya terlalu dalam,” Kim melanjutkan.

Sebagai Joker, Ledger memang memenangi Piala Oscar: Aktor Pendukung Terbaik. Namun, itu tak mampu mengembalikan Ledger ke dunia. Keluarga dan para penggemarnya tetap harus menanggung luka.

Kesedihan yang sama juga dialami penggemar Nirvana. Sang vokalis, Kurt Cobain meninggal di tengah kegemilangan kariernya. Tahun 1994, Cobain mengakhiri hidup dengan obat-obatan dan sepucuk revolver.

Pemuda 27 tahun itu diduga depresi karena kecanduan berat yang membelenggunya. Ditambah lagi, wartawan selalu mencampuri kehidupannya bersama sang istri. Dalam beberapa wawancara, sudah bisa disinyalir niat Cobain melakukan bunuh diri. Apalagi, ia beberapa kali secara impulsif menghilang atau mengurung diri.

Sebelum meninggal, Cobain meninggalkan pesan. Dalam salah satu kalimat, ia menyebut sang istri, Courtney Love, sebagai wanita yang penuh dengan ambisi dan empati. Tak pernah ada tanggapan dari Courtney soal itu.

Williams, Cobain, dan Ledger seakan belum cukup mewakili daftar selebriti yang mengakhiri hidup.

Masih ada Marilyn Monroe, yang kematiannya masih menjadi misteri hingga kini. Tahun 1962, wanita yang dianggap ikon seksi dan glamor itu ditemukan meninggal di rumahnya, Los Angeles, pada usia 36 tahun.

Usia itu tampak terlalu muda bagi Monroe yang hidupnya dipenuhi ambisi. Penyebab kematiannya adalah overdosis obat tidur. Namun, ditemukan catatan terakhir Monroe yang tampak menyiratkan keinginannya bunuh diri. “Sepertinya aku mulai gila, dan aku tidak mau hidup,” ia menulis.

Sutradara Top Gun, Tony Scott, juga mengakhiri hidup dengan tragis. Ia melompat dari jembatan di Los Angeles, dan akhirnya meninggal. Berdasarkan autopsi, ditemukan Remeron dan Lunesta level tinggi dari tubuhnya. Remeron merupakan obat antidepresan, sedang Lunesta adalah obat yang sering digunakan mengobati insomnia.

Meninggalnya Scott membuktikan, bukan hanya selebriti yang selalu menghadapi kertap kamera yang bisa depresi sampai bunuh diri. Orang-orang di balik layar pun sama berisiko. Dari dunia fesyen misalnya, ada nama Alexander McQueen yang meninggal bunuh diri. Perancang busana asal Inggris itu tewas gantung diri.

Itu terjadi tak lama setelah ibundanya meninggal. McQueen jadi konsumen kokain dan obat-obatan lain.

Penulis legendaris Amerika, Ernest Hemingway pun bernasib sama. Sepanjang hidupnya, ia berjibaku dengan depresi dan ketergantungan alkohol. Penulis The Oldman and The Sea itu pun meninggal setelah menembakkan senjata ke kepalanya sendiri. Sang istri menyebutnya sebagai kecelakaan saat membersihkan senjata, namun tak pernah ada konfirmasi yang membenarkan itu.

Jelas sudah, dunia panggung tak semenyenangkan yang dibayangkan. Ada bayang-bayang depresi yang menghantui. Mereka yang tak bisa menghadapinya, berisiko terjerembap di lubang hitam tak berdasar.