"Saya belum tentu sanggup jika menjadi sosok Nada atau Yuke yang sesungguhnya, beban mereka berat banget degan status HIV positif yang dibawa seumur hidup," ujar Marsha kepada CNN Indonesia, baru-baru ini.
Dalam film terbarunya, Nada Untuk Asa, Marsha memerankan sosok Nada yang merupakan gambaran dari Yurike Ferdinandus alias Yuke, seorang ibu dengan HIV positif. Nada tertular HIV dari sang suami yang berselingkuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadilah kedua wanita tersebut hidup dengan HIV dan melanjutkan kehidupannya dengan selayaknya orang sehat pada umumnya dan bertahan dari gerogotan virus dalam tubuhnya.
Marsha mengakui bahwa begitu ia membaca skenario, dirinya merasa langsung terkoneksi dengan kisah Nada ini. Mungkin lantaran ia juga memiliki anak yang masih kecil.
Bahkan, saking mendalami perannya sebagai seorang ibu sekaligus pengidap HIV, ia bahkan sempat menangis ketika Acha berakting dalam sebuah adegan.
"Hal yang paling berkesan adalah saat si Nada memaafkan dan menerima semua kondisinya karena anak-anaknya. Memang seorang ibu akan melakukan apa pun untuk anaknya."
Berbagai stigma dan diskriminasi yang kerap kali diterima oleh penderita HIV diakui oleh Marsha memang terjadi. Berkat perannya di film ini, ia sadar bahwa kehidupan pengidap HIV sangatlah berat untuk dijalani.
Marsha, memerankan perempuan lanjut usia, Nada. (CNNIndonesia/Kiky Makkiah) |
Dalam film ini pun, Marsha mempelajari banyak teknik untuk improvisasi, lantaran sang sutradara Charles Gozali memberikan banyak peluang dan ruang untuk terjadinya adegan di luar naskah.
"Ini film pertama yang improvisasinya terbanyak yang pernah saya jalani," ujar Marsha.
(vga/vga)
Marsha, memerankan perempuan lanjut usia, Nada. (CNNIndonesia/Kiky Makkiah)