Dian Sastro Tangkap Air Mata Didi Petet di 'Pasir Berbisik'

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Jumat, 15/05/2015 15:32 WIB
Dian Sastro Tangkap Air Mata Didi Petet di 'Pasir Berbisik' Selama syuting film, Dian tidak pernah segan untuk berkonsultasi peran dengan Didi. Diakuinya, sosok Didi memang tidak pernah menjaga jarak dengan para juniornya. (CNNIndonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Semasa hidup, almarhum Didi Petet terhitung telah membintangi 50 judul film dan 12 sinetron. Karier aktor berusia 58 tahun ini pun diganjar banyak penghargaan, mulai dari Aktor Pembantu Terbaik di Piala Citra FFI 1988 (Cinta Anak Jaman) hingga Lifetime Achievement MTV Indonesia Movie Award 2004.

Didi, yang juga merupakan salah satu pengajar Fakultas Seni Pertunjukkan di Institut Kesenian Jakarta, memang sangat berbakat. Ia tidak hanya bisa memainkan karakter pria gemulai dalam film Catatan Si Boy (1988), tapi juga bisa memerankan karakter antagonis dalam film Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015).

Berkecimpung dalam dunia hiburan selama empat dekade, tentu saja Didi memiliki banyak teman. Terbukti, ucapan belasungkawa ramai dilayangkan di Twitter, berbagai pekerja seni lintas generasi mengaku sedih atas kepergiannya.


Tidak terkecuali dengan aktris cantik Dian Sastrowardoyo. Bersama Didi, ia beradu akting dalam film Pasir Berbisik (2001).

Dian memerankan karakter Daya, sementara Didi memerankan karakter Suwito. Dalam film garapan Nan T. Achnas itu, Dian mengatakan kalau sosok Didi sebagai senior sangat membimbingnya.

"Sewaktu adegan kekerasan seksual, saya harus berhadapan langsung dengan Om Didi. Adegannya berhasil di-take hanya satu kali. Setelah take, saya lihat air mata Om Didi menggenang," kata Dian melalui pesan singkat kepada CNN Indonesia pada Jumat (15/5).

"Saat itu saya masih sangat muda, mungkin Om Didi merasa tidak tega dengan saya dan karakter saya yang di dalam cerita harus diperlakukan seperti itu," lanjut Dian.

Selama syuting film, Dian tidak pernah segan untuk berkonsultasi peran dengan Didi. Diakuinya, sosok Didi memang tidak pernah menjaga jarak dengan para juniornya.

"Beliau selalu mengayomi, nuntun, ngajarin kita-kita yang masih muda. Sangat beruntung sempat mendapat bimbingan dari maestro seperti dirinya," ujar Dian.

Akting Didi pun tidak ketinggalan dipuji oleh Dian.

"Saya suka sekali aktingnya karena selalu terasa alami. Beliau terlihat nyaman saat melakukannya, seakan tidak perlu berpatokan dengan skenario," kata Dian.


Didi meninggal dunia, pada Jumat (15/5), setelah menderita penyakit asam lambung. Ia meninggal di pelukan istrinya setelah menunaikan salat subuh di rumahnya.

Dikatakan sang anak, Nabila, ayahnya memang mengalami kelelahan fisik setelah menjadi utusan Indonesia untuk menghadiri acara World Milan Expo 2015.

Di hari yang sama, jenazah Didi akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan.



(ard/ard)