Menurut kisah Bimbim, Bunda Iffet juga sampai harus menyita ponsel dan dompet mereka. Slank mendapat pengawalan ketat dari sekuriti ke mana pun mereka pergi. Slank bahkan harus vakum dari konser mereka, menunggu supaya proses detoksifikasi selesai. Potlot jadi semacam benteng sekaligus panti rehabilitasi.
"Dibantu polisi segala macam, banyak yang jaga. Jadi Bunda tidak kasih uang, tidak kasih HP. Dia pergi ke mana-mana dikawal. Kan waktu itu sementara kita vakum dulu, kita belum berani soalnya banyak orang masuk. Usaha paling parah itu menjaga biar bandar enggak masuk," ujar Bunda Iffet mengenang masa lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu rehab sudah dirumah aja, begitu selesai berapa tahun, udah sembuh baru ke medis. Nah itu yang mahal, pemakai narkoba itu kena di paru-paru dan hati. Itu yang kena. Kayak Bimbim itu dia sekali suntik Rp 35 juta," ucap Bunda Iffet lagi. "Virusnya di hati enggak mati, cuma disuntik sampai (badannya) betul-betul enggak kuat lagi disuntik," lanjutnya.
"Percuma kita ngomong sama orang pakai narkoba, itu enggak masuk di otaknya. Bukan masuk kuping kiri keluar kuping kanan, tapi enggak masuk sama sekali. Jadi lebih baik kita kerja tapi tidak pake mulut," ujarnya yakin.
Ia sendiri butuh waktu untuk masuk ke otak personel Slank. Pakai narkoba sejak 1994, baru dua tahun kemudian Bunda Iffet mencoba masuk. "Dari 1996 sampai 2000 Bunda enggak pake ngomel, kalau mau bangunin saja dua jam, karena orang narkoba kan harus pakai dulu. Tapi kita enggak bisa maksa atau nyuruh. percuma, capek," katanya sembari tersenyum.
(rsa/rsa)