Meniti Filosofi Hidup Slamet Abdul Sjukur, Si Komposer Galak
Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Senin, 06 Jul 2015 16:45 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Meski terkesan galak dan asyik dengan dunianya sendiri, legenda musik Indonesia, Slamet Abdul Sjukur, memiliki filosofi humanis yang melekat dalam setiap napas semasa hidupnya.
"Pesan Bapak, setiap pagi harus tersenyum, legowo, dan berpikir positif," kata Tiring Mayang Sari, anak pertama Slamet kepada CNN Indonesia saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (3/7).
Selain mewasiatkan untuk selalu tersenyum dan menjalani kehidupan dengan positif, Slamet juga memiliki kepribadian yang sangat humanis dan masih lekat dalam benak Tiring.
Pada suatu kali, Tiring bercerita, ia dan sang ayah tengah berjalan-jalan. Mereka bertemu penjual sapu lidi yang sudah sangat tua. Slamet dengan spontan menghampiri sang penjual sapu dan menanyakan harga barang dagangannya.
Sapu yang dijual sebesar Rp 10 ribu per buah tersebut dibeli Slamet dengan Rp 20 ribu per buah. Ia membeli sebanyak lima buah. Setelah memberikan uang, sapu yang sudah terbeli tersebut diberikan kepada penjual sapu sebagai hadiah. Slamet tak ingin sekadar memberi uang, seperti tangan di atas kepada pengemis.
"Pesan Bapak, setiap pagi harus tersenyum, legowo, dan berpikir positif," kata Tiring Mayang Sari, anak pertama Slamet kepada CNN Indonesia saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (3/7).
Selain mewasiatkan untuk selalu tersenyum dan menjalani kehidupan dengan positif, Slamet juga memiliki kepribadian yang sangat humanis dan masih lekat dalam benak Tiring.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sapu yang dijual sebesar Rp 10 ribu per buah tersebut dibeli Slamet dengan Rp 20 ribu per buah. Ia membeli sebanyak lima buah. Setelah memberikan uang, sapu yang sudah terbeli tersebut diberikan kepada penjual sapu sebagai hadiah. Slamet tak ingin sekadar memberi uang, seperti tangan di atas kepada pengemis.
Si Genius yang Lapar Buku
BACA HALAMAN BERIKUTNYA