Slamet Abdul Sjukur, Maestro vs 'Monster'
Vega Probo | CNN Indonesia
Senin, 06 Jul 2015 13:26 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Siapa pun yang pernah mengenal sosok seniman musik kawakan Slamet Abdul Sjukur semasa hidup, tentu tak asing dengan sikapnya yang tegas dan tak sungkan bicara blak-blakan.
Saat diwawancarai setahun kemarin, dan ditanya soal “next project,” sang maestro musik kontemporer sontak murka. Tak ubahnya "monster" yang diusik ketenangannya.
“Rencana berikut lebih nasionalis dari next project yang kebarat-baratan dan sangat memalukan!” kata Slamet, yang ketika itu sedang bersiap menghadiri acara Sluman Slumun Slamet.
Namun di mata kawan baiknya, pianis Aisha Ariadna Sudiarso Pletscher, sosok Slamet justru sebaliknya: asyik diajak berteman dan bertukar pikiran.
“Saya mengenal sosok beliau sejak kecil namun tidak secara dekat. Saya justru mendapat kesan beliau sangat manusiawi, kata Aisha saat dihubungi CNN Indonesia via telepon, tadi malam (5/7).
Aisha memang tak asing dengan Slamet. Sejak kecil, era 1970-an, dia kerap diajak ibunya, pianis kawakan Iravati Mangunkusumo Sudiarso, menonton pertunjukan Slamet di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Sejak itu, Slamet bukan sekadar sosok yang familiar di mata Aisha. Lebih dari itu, Slamet adalah sang idola. Empat tahun terakhir pertemanan keduanya makin intensif.
Pada 2014, Aisha ikut beraksi di acara perayaan ulang tahun ke-79 Slamet yang bertema Sluman Slumun Slamet. “Rasanya tak karuan saya diminta main bersama Aksan Sjuman,” kata Aisha.
“Saya dan Wong Aksan sering latihan bersama beliau, juga mengobrol, bertukar pikiran,” katanya. Semakin mengenal Slamet, semakin Aisha yakin sosok sang maestro sungguh luar biasa.
Saat diwawancarai setahun kemarin, dan ditanya soal “next project,” sang maestro musik kontemporer sontak murka. Tak ubahnya "monster" yang diusik ketenangannya.
“Rencana berikut lebih nasionalis dari next project yang kebarat-baratan dan sangat memalukan!” kata Slamet, yang ketika itu sedang bersiap menghadiri acara Sluman Slumun Slamet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Saya mengenal sosok beliau sejak kecil namun tidak secara dekat. Saya justru mendapat kesan beliau sangat manusiawi, kata Aisha saat dihubungi CNN Indonesia via telepon, tadi malam (5/7).
Sejak itu, Slamet bukan sekadar sosok yang familiar di mata Aisha. Lebih dari itu, Slamet adalah sang idola. Empat tahun terakhir pertemanan keduanya makin intensif.
Pada 2014, Aisha ikut beraksi di acara perayaan ulang tahun ke-79 Slamet yang bertema Sluman Slumun Slamet. “Rasanya tak karuan saya diminta main bersama Aksan Sjuman,” kata Aisha.
“Saya dan Wong Aksan sering latihan bersama beliau, juga mengobrol, bertukar pikiran,” katanya. Semakin mengenal Slamet, semakin Aisha yakin sosok sang maestro sungguh luar biasa.
Nasionalis Berprestasi Internasional
BACA HALAMAN BERIKUTNYA