Si Juki, Juru Hoki yang Bercita-cita Jadi Ikon Animasi

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 07/08/2015 08:19 WIB
Si Juki, Juru Hoki yang Bercita-cita Jadi Ikon Animasi Faza Meonk (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gambar Si Juki memang tak serumit buatan DC ataupun Marvel. Namun komik strip yang terkenal melalui media sosial ini berhasil menjadi penghibur netizen kala stres. Kisahnya pun terasa sangat familier bagi mereka yang pernah mengenyam kehidupan di kampus.

Faza Meonk, sang kreator, semula tak pernah menyangka banyolan khas kehidupan kampusnya mendapatkan banyak apresiasi dari netizen. Sejak pertama kali dirilis, pada 2011, ia pun bertekad mengembangkan karakter Marzuki, alias Si Juki yang jadi Juru Hoki.

"Juki itu tipe orang yang ngehe' tetapi selalu hoki. Misal, saat ujian, temannya belajar mati-matian tapi nilainya kalah tinggi ketimbang Juki yang tidak belajar sama sekali, itu cerita kehidupan kampus biasa," kata Faza ketika berbincang dengan CNN Indonesia, belum lama ini.


Melalui empat kotak bergambar, Faza menuangkan inspirasi-inspirasi yang terlintas dalam benaknya, lalu menayangkannya melalui media sosial Facebook. Dan voila, komik strip yang kala itu bernama DKV 4, Kehidupan Mahasiswa DKV dalam 4 Kotak, terbit atas permintaan banyak penggemar si Juki.

Sejak masih berstatus mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara (Binus), Faza sudah menekuni animasi sebagai lahan utama untuk mengembangkan kreativitas. Setelah komiknya terbit, Faza mulai berpikir untuk menjadikan Juki sebagai public figure, ketimbang judul komik itu sendiri.

"Sebenarnya yang terpenting dalam komik itu bukan apakah gambarnya bagus atau yang lain, tetapi apakah komikus dapat menyampaikan pesannya dan cocok dengan visualnya," kata Faza.

Bombastis di media sosial menjadi modal awal bagi Faza untuk mewujudkan Juki menjadi tokoh yang seolah-olah nyata. Juki dapat berinteraksi dengan penggemarnya yang mengalami momen yang sama dengan cerita yang dituturkan Juki. Bahkan, Juki juga memiliki blog.

Dari Komik Strip ke Aksesori

Keputusan Faza menceritakan Juki setiap episodenya dalam empat kotak adalah pilihan yang tepat, karena rupanya mengundang hoki. Meski singkat, namun tak mengurangi antusiasme pembaca yang semakin tinggi.

"Sebenarnya sederhana saja, orang saat ini banyak yang stres dan pasti buka media sosial, ya hibur saja. Yang terpenting, dapat menyampaikan pesan dan terhibur. Dan saya juga tidak ada tanggung jawab buat kelanjutannya," kata Faza sembari tertawa.

Kini, Si Juki sudah ada dalam bentuk lembaran sejumlah sembilan buku, dan satu buku versi cerita panjang Si Juki. Faza meyakinkan sesaat lagi akan ada Juki versi mobile games dan card games. Segala bentuk versi Juki ini adalah komitmen Faza  mengembangkan Intellectual Property (IP) atau kekayaan intelektual.

Ia menyadari, Juki dapat menjadi sumber bisnis lainnya, sejak 2012. Faza menyadari, ada banyak komikus Indonesia yang bertalenta dan memiliki karya, namun mereka minim pengetahuan IP sehingga tak memiliki karya yang rutin menghasilkan bentuk kreativitas lain yang menguntungkan.

Faza pun mulai merekrut beberapa penggemar Juki yang telah melakukan berbagai pendekatan terhadap dirinya. Faza yakin, ketika dirinya merekrut penggemar untuk ikut mengembangkan Si Juki, maka cita-cita menjadikan Juki ikon animasi modern Indonesia dapat terwujud.

"Penggemar itu loyal dan ingin mengerti, serta ingin Juki ini lebih maju lain, tentu saya memilih penggemar yang dapat diajak kerja secara profesional," kata Faza.

Kelima belas penggemar yang kini mengurusi segala bisnis turunan dari ide Juki, seperti merchandise, aksesori, konten media sosial, konten web, hingga bisnis tersebut juga dapat menjadi sumber inspirasi baru bagi Faza dalam mendapatkan ide.

Kala jenuh melanda tanpa menghasilkan ide apa pun, dosen Universitas Binus ini biasanya mengajak ngobrol kelima belas orang dalam timnya untuk ide terbaru Juki. Bak gayung bersambut, banyak ide konyol mereka lontarkan.

Bila dirinya masih belum mendapatkan ide, maka ia akan keluar sejenak dari rutinitasnya. Hal tersebut diperlukan guna mempertahankan konsistensi tayang karya tentang si Juki. Semuanya pun dimaksudkan untuk kesenangan dan keinginan pembaca.

Faza Meonk (kaus hijau) bersama "dedengkot" Pop Con Asia 2015, salah satunya Dennis Adishwara (tengah). (CNN Indonesia/Nadi Tirta Pradesha)
Ramai-ramai Bangga Animasi Lokal

Kini, sudah lebih dari ratusan ribu orang menyukai dan berlangganan komik Si Juki melalui media sosial Facebook, belum terhitung dari website, Twitter, juga Instagram. Internet jelas memiliki peran besar mendongkrak popularitas Si Juki.

Kecanggihan teknologi dan internet memang diakui Faza sebagai media termurah dan terefektif dalam menyebarkan ide-ide konyolnya yang dapat dinikmati dengan mudah oleh pembaca. Namun rupanya popularitas bukan tujuan utama Faza.

"Dari awal membuat Juki, semua berawal dari kegelisahan saya ketika sekeliling saya tidak dapat menyebutkan ikon animasi lokal modern, semuanya tahu yang sudah lama seperti Unyil dan Komo. Tetapi ketika ditanya ikon animasi Barat modern, semuanya tersebutkan," kata Faza. "Saya ingin ikon lokal menjadi raja di negeri sendiri."

Faza pun menginginkan Juki sebagai ikon lokal bisa menjadi salah satu raja di negeri sendiri. Maka dari itu, komikus yang gemar mengenakan topi ini dan timnya berusaha menyadarkan para pembaca bahwa Indonesia juga memiliki ikon animasi modern, bukan lagi masanya Unyil, Komo, ataupun Pak Raden.

Faza tak ingin menikmati popularitasnya sendirian. Ia sadar betul tak mungkin sendirian melawan gempuran ikon animasi modern Barat ataupun luar negeri yang membabi buta masuk ke Indonesia. Ia pun merangkul berbagai komikus pemula untuk masuk ke manajemen yang ia asuh.

Dalam manajemen kreator ini, Faza menularkan pengalamannya membesarkan Juki. Ia banyak memberikan masukan, mulai dari penentuan tokoh karakter hingga pengembangannya. Semua tokoh tersebut tak mustahil bekerja sama dengan Juki.

"Saya tidak merasa tersaing dengan semakin banyaknya komikus baru bermunculan. Semua harus maju bersama-sama membuat ikon animasi Indonesia karena itu akan semakin mempengaruhi kesadaran akan pembaca, semakin banyak animasi lokal, penonton Indonesia akan sadar mereka memiliki ikon animasi lokal," kata Faza.

Kini, Si Juki tetap menjadi obat penawar stres bersama dengan komik-komik strip buatan anak negeri lainnya yang dengan setia dan mudah diakses di media sosial.

Mereka akan terus membuat penonton tertawa degan banyolan segar hingga suatu saat nanti, orang Indonesia lebih memilih animasi anak bangsa sendiri ketimbang buatan anak bangsa asing.