Jadi, bayangkan bila Wiji Thukul hidup di era kini. Syair puisinya yang meledak-ledak agaknya bakal jauh lebih fenomenal ketimbang eranya dulu, 1990-an, semasa rezim Orde Baru di bawah kendali Presiden Soeharto.
Begitulah gambaran karakter—aktivis "berbahaya” di era media sosial—yang sedang dikembangkan Andina Dwifatma untuk novel ke-duanya. Saat dihubungi CNN Indonesia via telepon, kemarin (25/8), sang penulis mengilas sedikit tentang inspirasi karyanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, alumnus Universitas Diponegoro, Semarang, pada 2009, ini sudah merilis biografi cendekiawan muslim Azyumardi Azra Cerita Azra (2011), dan novel Semusim, dan Semusim Lagi (2013) yang memenangkan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012.
Demi memperoleh gambaran nyata tentang aktivis—terutama yang kemudian tak tentu rimbanya seperti Thukul, Andina tak segan menyambangi kantor Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dan menilik sejumlah dokumen.
Sejauh ini, perempuan kelahiran Jakarta, 15 September 1986, mengaku sudah merampungkan penokohan, dan sekarang tinggal melanjutkan penggarapan alur kisah. Lantas apa membuatnya tertarik menokohkan aktivis berbahaya untuk novel ke-duanya?
“Saya kagum pada Wiji Thukul,” peraih penghargaan jurnalistik Anugrah Adiwarta 2011 ini mengakui. “Saat penyair lain begitu terpaku pada estetika, Wiji Thukul telah melampauinya. Sajaknya seperti isi pamflet, sama sekali tidak mendayu-dayu, tapi justru itulah yang membuat sajaknya hidup.”
Bagi Andina, sajak Thukul tak hanya hidup, juga melegenda. Thukul rela berjuang demi rakyat kecil, atau kaum buruh, padahal hidupnya sendiri susah. Namun di sisi lain, ia jujur dan baik hati. Sikap itulah yang membuat Andina mengagumi Thukul.
Saat disinggung lebih jauh tentang novelnya, Andina berkilah novelnya belum rampung, dan belum saatnya untuk dibocorkan. “Sebagai penulis, saya sendiri tidak tahu kapan novel ke-dua ini akan selesai. Tapi saya sudah terbayang bakal ke mana arahnya.” (vga/vga)