Masa Kecil Pahit, Sumber Kemarahan 'Wolverine'

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 02/10/2015 17:35 WIB
Masa Kecil Pahit, Sumber Kemarahan 'Wolverine' Hugh Jackman mengungkap masa kecilnya yang pahit. (Getty Images/D Dipasupil)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam film Wolverine, pertama Logan menyadari dirinya merupakan mutan yang bisa mengeluarkan cakar bak serigala adalah saat ia melihat sang ayah dibunuh di depan matanya. Logan kecil langsung menyerang pembunuhnya, yang ternyata ayah kandungnya sendiri. Sang ibu yang syok pun bertanya, "Makhluk apa sebenarnya kamu?"

Kepedihan yang dirasakan Logan karena ditinggalkan ayahnya dan membuat jijik ibunya, ternyata juga menjangkiti pemain aslinya di dunia nyata. Baru-baru ini, Hugh Jackman mengakui dirinya punya masa kecil yang buruk. Sang ibu meninggalkannya, dan itu berdampak.

"Saya sangat labil," ujar Jackman yang diwawancara untuk film terbarunya, Pan. "Ibu saya pergi saat saya masih delapan tahun. Kemarahan saya tidak muncul sampai saya berusia 12 atau 13 tahun," ujarnya melanjutkan bercerita, seperti dikutip situs web People.


Kemarahan itu pun harus dipicu terlebih dahulu. Sebab, kedua orang tua Jackman berencana rujuk kembali namun tidak jadi. "Sepanjang tahun itu saya dikuasai harapan bahwa mereka akan melakukannya," ujar Jackman.

Nyatanya, harapan tidak menjadi kenyataan. Ia pun beranjak jadi remaja, dan kemarahan dalam dirinya mencapai puncak. Emosi Jackman sampai mendidih. "Ada badai hormon dan emosi yang sempurna," katanya menjelaskan. Ia sampai melakukan hal-hal yang konyol saat remaja.

"Saya tidak pernah menceritakan ini. Saya hanya ingin kami punya loker baja. Dan untuk suatu alasan, sebagian adalah bersenang-senang, kami biasa memukulkan kepala ke loker sampai ada bekas penyok," ujarnya. "Seperti permainan, siapa paling kuat dan gila?"

Dalam kondisi emosi yang meluap-luap itu, Jackman menemukan pelarian. Olah raga. Ia memilih bermain rugbi. "Kemarahan saya akan keluar. Kemarahan yang saya identifikasikan sebagai kemarahan Wolverine," kata sang aktor.

Ia bisa menjadi anak biasa yang layak dipukul di wajah. Namun saat bermain rugbi, kegaharannya akan muncul. Kemarahan itu bersumber dari ingatan masa kecil saat sang ibu meninggalkannya. "Saat itu saya seperti anak kecil yang ditinggalkan tanpa kekuatan."

Saat ibunya tak lagi di rumah, Jackman sampai pernah mengalami masa ketakutan dan trauma saat pulang sekolah. Ia anak termuda, dan paling cepat pulang sekolah. Ia akan menjadi yang pertama di rumah. Tapi ia ketakutan bahkan hanya untuk sekadar masuk ke sana.

"Saya memilih menunggu di luar, ketakutan, frustrasi," tutur Jackman mengungkapkan.

Ia juga pernah dikuasai ketakutan itu. Ia mengaku takut pada gelap dan tinggi. Itu sangat membatasinya. "Saya membencinya, dan itu berkontribusi pada kemarahan saya."

Baca juga: 'Wolverine' Menukar Cakar demi Secangkir Kopi

Selain olah raga, yang membantunya menyalurkan diri adalah agama dan panggung. Pengalaman panggung pertamanya ada di usia 13 tahun. Aktor 46 tahun itu biasa pergi ke pastur yang berbeda. Suatu hari, ia diharuskan naik ke atas panggung seperti penceramah agama.

"Di panggung, saya merasakan intimasi yang terasa natural. Itu sangat penting," tuturnya. Ia merasakan koneksi dengan para penontonnya, seperti dengan istrinya. Itu memberinya kekuatan. Jackman pun merasa, panggung adalah hal yang dicarinya selama ini.

"Ketika Anda membiarkan diri Anda bersandar pada cerita, karakter, malam, penonton, keajaiban terjadi. Dan ketika itu terjadi, tidak ada yang menyamainya di planet ini," ia melanjutkan. Baginya perasaan itu sama seperti jatuh cinta, takut, sekaligus bersemangat.

Lebih dari segalanya, bagi Jackman panggung memberinya kedamaian. "Melalui akting, saya bisa menemukan sebuah level kebahagiaan, kedamaian, perdamaian, dan kesenangan. Dan itu terasa sangat natural," ujar sang Wolverine. (rsa/vga)