Diskusi 'Lubang Buaya' di Ubud Tak Gentar Jika Disetop Polisi

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Senin, 26/10/2015 16:06 WIB
Diskusi sekaligus peluncuran buku The Crocodile Hole karya Saskia Wieringa dibatalkan di UWRF 2015. Namun acara tetap digelar dengan pindah lokasi. Ilustrasi buku. (JamesDeMers/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- The Crocodile Hole seharusnya didiskusikan dengan menarik sebagai salah satu rangkaian acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015, Kamis (29/10) mendatang. Novel itu karya Saskia Wieringa, pemerhati gender yang juga seorang pengajar di Universitas Amsterdam.

Namun acara peluncuran buku itu bernasib sama seperti sesi-sesi lain di UWRF 2015 yang bertemakan peristiwa 1965. Dibatalkan begitu saja. Dewi Candraningrum, Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan yang juga menaungi penerbitan The Crocodile Hole, mengaku baru mendapat surel pembatalan pada Minggu (25/10) kemarin.

"Saya dapat e-mail dari Janet (Janet DeNeefe, Direktur UWRF 2015) kemarin. Kan ada pembatalan untuk semua acara yang terkait 1965 di Ubud Writers," ujar Dewi saat dihubungi CNN Indonesia lewat telepon, Senin (26/10) sore.


Menurutnya, pembatalan itu jelas menghambat proses demokrasi. "Juga menghambat pelurusan sejarah, terutama soal Gerwani, organisasi perempuan paling progresif pada masa itu," ujarnya. Gerwani banyak melahirkan tokoh politik, seperti SK Trimurti, kata Dewi.

Namun tidak seperti sesi lain yang masih dibiarkan "bolong," peluncuran The Crocodile Hole tetap diadakan  meski bukan lagi di bawah kepanitian UWRF 2015. Jurnal Perempuan mengumumkan melalui situs web resminya, diskusi buku itu hanya berpindah lokasi.

"YJP Press akan tetap mengadakan acara bincang-bincang santai mengenai novel ini dengan penulisnya pada tanggal yang sama, 29 Oktober 2015, Pkl. 13.00-16.00 di Nuri's Nacho Mama, Jl. Raya Campuhan, Ubud (sebelah Naughty Nuri's)," demikian tertulis di situs webnya.

Sebelumnya, Jurnal Perempuan menyatakan menyesal diskusi di UWRF 2015 harus dibatalkan karena "Tekanan pihak yang berotoritas."

"Tapi ini kan diskusi untuk ilmu pengetahuan. Kalau otoritas bilang politik, tidak satu pun dari kami yang terkait politik. Ini diskusi yang bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, di mana saja. Kami pun tetap dibantu panitia," ujar Dewi. Sejauh ini, pihaknya tidak mendapat tekanan dari otoritas setempat.

"Ketakutan itu tidak beralasan. Ini karya kemanusiaan," tegas Dewi.

Ia mengaku tidak gentar jika pada pelaksanaannya nanti, diskusi The Crocodile Hole akan didatangi polisi dan dipaksa bubar. "Enggak apa-apa. Kalau disuruh berhenti ya berhenti. Kami pernah mengalami hal yang sama di Solo," ujar desainer sampul dan ilustrator konten The Crocodile Hole itu dengan santai.

The Crocodile Hole sendiri, menurut keterangan Dewi, merupakan novel yang berbasis penelitian. Buku itu mengisahkan tentang Tommy, seorang jurnalis muda yang bertemu para korban peristiwa 1965 karena penasaran soal cerita adanya perempuan-perempuan menari saat pembunuhan jenderal, dan pengebirian mereka.

"Ini perlu dibaca siapa pun, untuk mengetahui sejarah meskipun dalam versi novel," ujar Dewi.

Dewi menuturkan, terbitnya The Crocodile Hole termasuk bukti bahwa sastra bisa digunakan sebagai media alternatif untuk bersuara saat zaman tidak memungkinkan sejarah diluruskan.

The Crocodile Hole hanya salah satu "sesi 1965" dalam UWRF 2015 yang dibatalkan karena permintaan kepolisian setempat. Tiga sesi diskusi dibatalkan, demikian pula pemutaran The Look of Silence (Senyap) karya Joshua Oppenheimer, peluncuran buku The Act of Living, serta buku Bali, 1964 to 1969.
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK