Kaleidoskop Seni Budaya 2015

Prestasi dan Inovasi Ranah Pustaka Dunia 2015

Vega Probo, CNN Indonesia | Rabu, 30/12/2015 10:18 WIB
Prestasi dan Inovasi Ranah Pustaka Dunia 2015 Frankfurt Book Fair 2015 (CNN Indonesia Internet/Dok. Pulau Imaji via Facebook)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kreativitas tak pernah mati. Sepanjang 2015, begitu banyak karya tulis tercipta, yang tak sekadar memuat inovasi, juga meraih prestasi. CNN Indonesia.com merangkum beberapa peristiwa seru di ranah pustaka dunia, juga Indonesia, setahun belakangan ini.

Prestasi Penulis

Andrea Hirata yang menerima gelar Doktor Honoris Causa Sastra dari University of Warwick, Inggris, pada Juli 2015. Sang penulis tetralogi Laskar Pelangi layak disejajarkan dengan penerima Nobel Profesor Ada Yonath dan sutradara Mike Leigh.


Tiga bulan kemudian, tepatnya pada Oktober, jurnalis asal Belarus, Svetlana Alexievich, memenangkan Nobel Sastra 2015. Ia unggul berkat keberhasilannya memetakan individu Soviet dan pasca runtuhnya Soviet dalam karya tulisnya.

Kegigihan penulis Harper Lee merilis novel Go Set a Watchman, pada pertengahan tahun, juga layak diacungi jempol. Penulis 88 tahun kaliber Pulitzer ini merilis novel tersebut 55 tahun setelah novel pertamanya, To Kill a Mockingbird.

Warisan Tulisan

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, penulis mati meninggalkan tulisan. Seperti penulis Wiji Thukul yang tak hanya dikenang tanggal lahirnya, 26 Agustus, saja, tapi juga tulisan saktinya, “Hanya satu kata: Lawan!”

Dunia sastra akan terus mengenang para penulis yang telah mangkat, seperti Ernest Hemingway yang pada Juli lalu, bila masih hidup, genap berusia 116 tahun. Dunia sastra Indonesia kehilangan Korrie Layun Rampan yang mangkat pada November.

Kontroversi Penulis

Ranah pustaka, terutama di Eropa, diwarnai peristiwa mengejutkan pada awal tahun, saat sekelompok orang menyerang kantor majalah kontroversial di Perancis, Charlie Hebdo. Lalu, para seniman bersatu menolak pengebirian kebebasan berekspresi.

Pada Agustus, ranah pustaka kembali bergejolak seiring beredarnya komik Tintin di Kongo versi bugil karya Thomas Lebrun yang menuai kontroversi. Tintin digambarkan telanjang bulat sebagai kontras peradaban rakyat Kongo.

Masih pada bulan yang sama, secara mengejutkan novel erotis Fifty Shades of Grey karya E.L. James terjual lebih dari 100 juta kopi. Filmnya pun mengantongi keuntungan Rp2,3 triliun. Tapi di balik itu, terjadi konflik internal penerbit.

Pada Oktober, Frankfurt Book Fair "diusik" aksi boikot Iran terhadap penulis kontroversial Salman Rushdie. Lalu, bertepatan dengan satu dekade Twilight, penulis Stephenie Meyer merilis Life and Death dengan karakter baru yang mengaburkan gender.

Buku Unik

Awal tahun 2015 juga ditandai dengan perilisan buku inovatif Private Vegas karya penulis James Patterson yang berharga selangit Rp3,7 miliar, dan si pembeli hanya punya waktu 24 jam untuk membacanya, lalu buku ini akan meledak sendiri.

Memasuki musim semi, dirilis buku mewarnai untuk dewasa yang laris manis di Amazon. Buku mewarnai ini memiliki patron lebih rumit dan detail. Selain patron flora dan fauna, juga tersedia patron karakter Game of Thrones, termasuk Sansa Stark.

Acara Buku

Salah satu agenda yang paling banyak disorot sepanjang 2015 adalah perhelatan Frankfurt Book Fair, pada Oktober, di mana Indonesia untuk pertama kali menjadi Tamu Kehormatan, dan menempati stan istimewa seluas lebih dari 2.000 meter persegi.

Di sela acara jual beli hak cipta buku ini juga digelar diskusi bertema 1965 yang menghadirkan penulis Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak. Namun diskusi bertema sama tak terlaksana di Ubud Writers and Readers Festival di Bali, pada akhir Oktober.

Kata Sakti

Pada November lalu, kata “emoji” dipilih masuk kamus Oxford tahun ini, karena penggunaannya meningkat di era komunikasi digital, terutama emoji wajah dengan air mata bahagia. Kata-kata Indonesia juga bertebaran dalam kamus terpercaya Inggris ini.


(vga/vga)