Sitor Situmorang dalam Kenangan Sang Ampudang

Dok. Pribadi Sitor Situmorang, CNN Indonesia | Rabu, 20/01/2016 10:22 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Si bungsu Logo Situmorang nyaris tak mengenal sosok sang ayah yang dijuluki penyair "berbahaya." Kenangannya terselamatkan oleh foto.

Sitor Situmorang dikenal sebagai penulis “berbahaya” yang ditakuti rezim Orde Baru. Semasa hidup, ia juga berkiprah di ranah film sebagai penulis naskah. Dua di antaranya, film Darah dan Doa (The Long March, 1950), juga Bulan di atas Kuburan (1973).
Pria kelahiran Harianboho, Sumatra Utara, 2 Oktober 1923, ini dikenal sebagai penulis multitalenta yang melahirkan seabrek karya sastra, jurnalistik sampai naskah film. Pria Batak ini meninggal dunia di usia 91 tahun, pada 20 Desember 2014 di Belanda.
Sitor sempat dipenjara oleh rezim Orde Baru, pada 1966, dan dibebaskan pada 1975, tanpa proses pengadilan. Selama kebebasannya terbelenggu, Sitor merasa dirinya manusia yang bukan manusia. Begitu dibebaskan, ia aktif menulis lagi, hingga lanjut usia.
Dalam ingatan Logo, ayahnya sangat disiplin, terutama urusan makan dan olahraga.
“Ketika otak tak lagi berpikir, pikiran tak lagi bekerja, maka kehidupan pun tak lagi berjalan,” kata Sitor, suatu kali di Jakarta, pada 2008. Setelah bebas dari penjara, Sitor kembali menulis dan merilis Lembah Kekal (2004) dan Biksu Tak Berjubah (2004).
Foto ikonik hasil bidikan Logo saat mengantar ayahnya menemui sejarawan J.J. Rizal di sebuah museum di kawasan Menteng, Jakarta, sekitar 2008. Tampak Sitor menyimak kisah bersejarah lengsernya Soeharto sebagai Presiden RI, pada 1998.