Ulasan Seni

'Off the Wall': Langkah Besar Seni Graffiti

Rahman Indra, CNN Indonesia | Jumat, 11/11/2016 21:15 WIB
'Off the Wall': Langkah Besar Seni Graffiti Dari kesan vandalismenya yang liar di tembok jalanan, seni graffiti bergeser mengisi ruang yang selama ini dihuni oleh lukisan. (Foto: CNNIndonesia/Rahman Indra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berukuran tinggi menjulang hingga enam meter, seni graffiti yang ditorehkan tujuh seniman kolaborasi Indonesia dan Perancis itu membuat satu sudut lantai tujuh Yello Hotel, Jakarta begitu mencolok mata.

Kombinasi warna dari cat semprot kaleng menyebar terpampang seperti layar besar seukuran layar bioskop. Bedanya, kali ini yang hadir di hadapan bukanlah layar hitam tapi penuh warna, tertata rapih, dan penuh estetika. 

Masing-masing seniman tampak tetap berpegang teguh pada ciri khasnya, entah itu menggunakan gaya abstrak atau figuratif.


Colorz setia dengan permainan warna, Fenx bermain-main dengan tiga layernya yakni maskulin, feminin dan anak yang berurut dari atas ke bawah, Mist menorehkan gaya graffiti yang terinspirasi New York, dan Tilt tak lagi figuratif tapi abstrak.

Karya-karya seniman graffiti Perancis itu saling silang dengan seniman graffiti asal Indonesia, antara lain Soni Irawan yang mudah dikenali dengan sosok Zorro-nya, Stereoflow membagi-bagi ruang dengan garis tegas, serta Tutu menimbulkan satu atau dua sosok perempuan dengan sejumlah gradasi.

Tidak hanya tujuh seniman tersebut yang mengubah wajah Yello Hotel Jakarta.

Selain mereka, tiga seniman graffiti lainnya menghias dinding bagian lobi hotel, dengan goresan yang tak kalah mencoloknya. Karya Darbotz yang didominasi bulat penuh, goresan Kongo yang lincah, dan permainan angka Farhan Siki seolah menyapa setiap tamu yang datang ke hotel.

Sepuluh seniman Indonesia dan Perancis itu berhasil mencuri perhatian pada pekan lalu, dalam gelaran seni urban bertajuk Off The Wall, yang diusung Institut Perancis di Indonesia (IFI) dan Tauzia Hotel Management.

Kolaborasi seni graffiti sepuluh seniman Indonesia dan Perancis di Yello Hotel JakartaKolaborasi seni graffiti sepuluh seniman Indonesia dan Perancis di Yello Hotel Jakarta. (Foto: CNNIndonesia/Rahman Indra)
Gebrakan mereka di dalam hotel telah berhasil menggeser seni graffiti yang biasanya tampak liar di tembok jalan menjadi karya seni yang kini mengisi ruang yang biasanya dihuni oleh lukisan dan seni instalasi.

Sebagai sebuah fenomenal dan seni urban baru, goresan di dinding yang mereka hadirkan menjadi aksi penting dan memberi makna tersendiri. Utamanya terhadap posisi graffiti dalam dunia seni.

Coretan di dinding

Usai menghias tembok Yello Hotel, para seniman graffiti berkaliber internasional itu kembali beraksi di dinding Institut Perancis di Indonesia (IFI). Minus Tutu yang berhalangan, kesembilan seniman menunjukkan lagi gaya kreatifnya dengan saling berbagi ruang di dinding yang memajang sekitar dua meter.

Lagi-lagi, jika diperhatikan dengan seksama, akan tampak gaya kreasi Colorz yang setia dengan permainan warna, Fenx yang bermain-main dengan tiga layernya maskulin, feminin dan anak, Mist menorehkan gaya graffiti yang terinspirasi New York, dan Tilt tak lagi figuratif tapi abstrak.

Saling silang dengan seniman graffiti asal Perancis itu, Soni Irawan kembali menghadirkan sosok Zorro-nya yang begitu mudah dikenali karena menjadi satu-satunya yang figuratif.

Lalu ada Stereoflow yang membagi-bagi ruang dengan garis tegas, Darbotz yang didominasi bulat penuh dan warna gelap, goresan Kongo yang lincah, dan permainan angka dan tumpahan cat Farhan Siki.

Semua tampil berurut. Jika ada warna yang sama, mereka tampak seolah menyatu.

Menariknya, publik diberi kesempatan untuk melihat proses kreatif mereka. Menyaksikan setiap seniman membuat kreasinya ini seperti mengalami semacam orgasme yang menanjak mencapai klimaks, dari dinding kosong, lalu terisi sketsa, hingga menjadi lengkap dengan berbagai torehan aneka warna dan tulisan.

Menghias dinding di Institut Perancis di Indonesia (IFI) Usai menghias dinding di Institut Perancis di Indonesia (IFI). (Foto: CNNIndonesia/Rahman Indra)
Goresan di kanvas

Selain mencoret dinding Yello Hotel Jakarta dan IFI, sepuluh seniman graffiti Indonesia-Perancis itu juga memamerkan karyanya yang dibuat di atas kanvas di dua tempat pameran bergengsi, yakni D'Gallery dan Museum Nasional.

Di D'Gallery setiap seniman memamerkan masing-masing tiga karya. Sementara di Museum Nasional, karya mereka terpampang di pintu masuk museum dan turut dipamerkan juga di bagian dalam.

Lagi-lagi, di kedua tempat pameran tersebut akan mudah mengenali karya setiap seniman dengan gaya graffiti masing-masing yang khas dan identik.

Bedanya mungkin hanya di permainan warna, seperti yang dilakukan Soni Irawan lewat sosok figuratifnya Zorro yang tadinya hitam putih, kali ini berwarna biru.

"Setiap seniman memiliki ciri khas dan karakter yang diusungnya," ujar Tilt bercerita saat ditemui di D'Gallery.

Tilt dengan tiga karyanya di D'Gallery, JakartaTilt dengan tiga karyanya di D'Gallery, Jakarta. (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)
Seniman yang sudah berkiprah kurang lebih 20 tahun di dunia seni itu mengaku sudah menemukan gaya graffitinya. Jika dulu ia kerap bermain dengan aliran figuratif, dan atau bendera negara, beberapa tahun terakhir ia beralih ke abstrak.

"Saya ingin menghadirkan sesuatu yang mungkin sulit dipahami bagi awam, tapi tidak sulit bagi pencinta dan yang bergelut dengan dunia graffiti," ungkapnya.

Misalnya, kata dia, dalam hal warna, atau pilihan cat yang ia gunakan. Buat yang paham graffiti mereka akan mudah memahami apa yang sedang saya hadirkan lewat karya, meski tampak abstrak sekalipun.

Perubahan yang ia lakukan juga merespon akan pergeseran yang terjadi di dunia seni graffiti. Menurutnya, dua puluh tahun yang lalu ia merasa bebas berkreasi dan sedang menemukan gaya graffitinya. Dalam masa itu ia kerap tertangkap polisi, karena mencoret dinding secara ilegal.

Ketika graffiti masuk ke dalam galeri dan museum, Tilt juga tidak menampiknya. Menurut dia, perubahan yang terjadi adalah target audiens. Ketika di jalanan, karya graffitinya bertemu publik langsung, ketika di galeri, seniman akan berhadapan dengan label dan penikmat karya seni.

"Menariknya, setiap seniman akan memiliki gaya berekspresinya masing-masing, seniman Perancis mungkin akan kaget melihat gaya kreasi seniman Indonesia, demikian juga sebaliknya," ujar Tutu.

Perbedaan gaya graffiti inilah yang kemudian menjadikan seni urban ini menjadi lebih bergairah. Ia menjadi bentuk karya seni sendiri, yang seindah lukisan, tapi tetap liar atau bebas berkreasi seperti semangat awal kehadirannya.

‘Off the Wall’: Langkah Besar Seni Graffiti Sepuluh karya seniman graffiti dipamerkan di Museum Nasional, Jakarta. (Foto: CNNIndonesia/Rahman Indra)
Pergeseran seni graffiti ini, bagaimanapun, menjadi menarik untuk diikuti. Ke depan, rasanya tak akan lagi mengherankan jika mendapati goresan graffiti yang menghias dinding-dinding di dalam ruang (tak lagi jalanan), entah itu di galeri, hotel, atau museum. (rah/rah)