Pementasan dibagi dalam dua babak. Babak pertama berlangsung selama hampir dua jam, dan bagian ke-dua selama satu jam 30 menit. Bila sebelumnya Teater Koma kerap menaruh bumbu komedi yang begitu sarkasme, itu terasa kurang di ‘Opera Ikan Asin’ ini.
Pementasan yang disadur Nano dari dari lakon Die Dreigroschenoper atau The Threepenny Opera (1928) karya Bertolt Brecht dengan komposisi musik dari Kurt Weill, agaknya kehilangan jiwa yang biasanya hadir dari setiap pentas Teater Koma.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konflik yang dibangun pun kurang membangkitkan emosi, adegan demi adegan terasa kurang klimaks. Opera kali ini seakan hanya membalut potret realita hukum yang diatur bukan lagi dengan aturan, melainkan uang dan kekuasaan. Namun balutan ceritanya kurang greget.
Foto: CNN Indonesia/Agniya KhoiriDi Opera Ikan Asin, ada sindiran tajam soal uang dan kekuasaan. |
Sosok istrinya yang bernama Lusi itu, lebih menggambarkan realita menarik dari seorang istri yang dikhianati tapi masih luluh dengan buaian mulut manis suaminya. Terlebih, ketika tiba-tiba Poli hadir di tengah kondisi itu. Mekhit bertingkah lucu dengan pura-pura tidur tak mengetahui apa yang diributkan dua istrinya itu.
Secara keseluruhan, refleksi realita kehidupan hari ini dapat dibawa dengan baik oleh Nano dalam pentas tersebut. Detail dari gambaran kondisi kehidupan Jakarta masa Hindia-Belanda tergambar sangat baik. Dari kostum, riasan, juga set lokasi.
Lihat juga: Pentas Drama Kehidupan Keluarga Putu Wijaya |
Hanya saja, sindiran itu kurang diimbangi cerita yang menghibur ala komedi sarkasme Teater Koma. Ada jiwa yang seolah hilang dari pertunjukan ini. Mungkin karena cerita ini saduran, sehingga ada hal yang tak tersampaikan dan terpaku pada cerita aslinya.
Namun semestinya, dengan tindak tanduk Nano, dia punya kuasa sebagai sutradara untuk membawa cerita itu lebih greget. Terlebih, cerita ini telah dipentaskan sebelumnya pada 1983 dan 1999. Dia pun telah menariknya ke konteks yang dekat dengan kehidupan Ibu Kota.
Pementasan yang menjadi produksi Teater Koma yang ke-147 ini digelar di Ciputra Artpreneur Jakarta mulai dari 2 hingga 5 Maret 2017. pukul 19.30 WIB kecuali hari Minggu, pukul 13.30 WIB. Tiket terbagi dalam enam kategori dengan harga mulai dari Rp 150 hingga 850 ribu. (rsa)
Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri
Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri