HUT JAKARTA

Yang Tersisa dari Kampung Artis dan Kapal 'Mesum' Tangkiwood

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Kamis, 22/06/2017 08:07 WIB
Di Jakarta Barat dahulu ada kampung artis bernama Tangkiwood. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peta online tidak bisa diandalkan untuk mencapai kawasan Tangki Lio, Mangga Besar, Jakarta Barat. CNNIndonesia.com sempat berputar dua kali, tapi Jalan Bedila I, Tamansari tak kunjung ketemu. Di peta, lokasi itu sudah dekat. Tapi mobil tak bisa masuk.

Kami harus berjalan menyusuri pinggir Kali Beton, melewati permukiman padat penduduk, mengarah ke Pasar Tangki. Gang-gang kecil itu mustahil dilalui mobil. Motor berpapasan pun sulit, jalannya sungguh sempit. Untungnya, tak sulit menemukan rumah yang kami cari.

Siapa orang sekitar yang tak tahu Laila Sari. Ketenaran biduan era 1980-an itu masih dikenal warga sekitar. Bertanya rumah Laila di kawasan Tangki dan Bedila, semua tahu.
Apalagi ia satu-satunya seniman yang masih tinggal di kawasan yang dahulu ramai artis itu.


Mak Laila, begitu kami menyapanya saat pertama bertemu, akhirnya menyambut kami dengan senyum lebar. Rambut yang memutih dan usia yang sudah melampaui 80 tahun tidak membuatnya lesu. Laila juga masih ingat betul masa-masa kawasan tinggalnya jaya dahulu.

Tangkiwood, demikian nama daerah itu dahulu, memang terletak tak jauh dari kediaman Laila di Jalan Bedila. Dahulu itu disebut kampung artis. Banyak seniman tinggal di sana. Namanya saja sudah mirip-mirip pusat industri perfilman Amerika, Hollywood.

Seperti bisa ditebak, itu menggabungkan Jalan Tangki dan ‘wood’ dari Hollywood.
Tangkiwood yang dahulu kampung artis, kini jadi permukiman padat penduduk.Tangkiwood yang dahulu kampung artis, kini jadi permukiman padat penduduk. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Sebagai saksi sejarah Laila masih ingat betul bahwa dahulu lokasi yang sekarang bernama Jalan Tangkiwood I hingga Jalan Tangkiwood V adalah di mana rekan-rekan artisnya tinggal.

Saat itu era 1940 hngga 1950-an. Kata Laila, mereka kebanyakan menempati Gang Tangkiwood II, persis di depan Kali Beton. Gang itu dimulai dengan kedai kecil yang dikenal dengan Warung Sengki. Dinamai begitu karena pemiliknya adalah Babah Sengki, keturunan Tionghoa.

Warung itu masih berdiri hingga kini, diteruskan oleh anak dan menantunya: Neng dan Ayung.

Dari Warung Sengki ke belakang, berjejer permukiman artis yang kerap tampil di panggung Sandiwara Princen Park atau Taman Hiburan Rakyat Lokasari. Laila bercerita, artis banyak tinggal di sana karena Tan Ing Hi, pemilik Princen Park membuatkan kompleks untuk mereka.
Targetnya adalah seniman yang berasal dari luar kota. Kompleks itu dibuat agar para pemain musik, pemeran, penari, penyanyi, hingga para kru tinggal tak jauh dari lokasi pentas.

Salah satu seniman ternama di masa itu adalah Moesa. Ia juga pemilik sandiwara. Rumahnya di samping warung Babah Sengki. Ketenaran Moesa adalah salah satu alasan Tan Ing Hi memberikan pemukiman untuk seniman. Kelak, orang-orang mengenal Moesa sebagai mertua Mak Bibah alias Hadidjah. Anak Moesa, Mas Sardi, menikah dengan Hadidjah.

Mereka lalu menghasilkan Idris Sardi, pemain biola kenamaan. Namanya bahkan masih dikenal hingga kini. Putra Idris juga menjadi aktor, yang tak lain adalah Lukman Sardi.

Dari rumah Moesa, berjejer rumah-rumah seniman lainnya yang berasal dari Sunda, Jawa, Palembang, hingga seniman Filipina yang beristri asli Indonesia. Laila ingat, puluhan rumah petak tempat tinggal seniman berjejer di Gang Tangkiwood hingga Princen Park.
Laila Sari masih setia tinggal di kampung artis Tangkiwood.Laila Sari masih setia tinggal di kampung artis Tangkiwood. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
"Belum begini sih rumahnya, zaman dulu-dulu masih belum pakai bata segala," kata Laila.

Gang Tangkiwood berujung pada rumah lama Laila, yang ayah tirinya merupakan pemusik asal Medan. Laila sendiri berasal dari Padang Panjang, Sumatera Barat. Ia pindah ke Bedila sekitar 1960-an. Ia ingat, artis penuh sesak tinggal di sana. Tua, muda, sampai bayi.

Adalah Bing Slamet yang akhirnya melabelinya dengan nama Tangkiwood. Laila tidak ingat soal sejarah penamaan itu. Yang jelas, para seniman yang tinggal di sana saat itu hidup rukun. Mereka pun punya berbagai kegiatan, mulai gotong royong sampai arisan.
Namun kini permukiman itu sudah tidak ada lagi. Masih padat penduduk, penghuninya pun masih pendatang. Namun alih-alih seniman, pekerjaan mereka beragam. Yang jelas tak ada lagi tanda-tanda seni. Lingkungannya pun jadi tak tertata dan bisa dibilang kumuh.

Menurut Laila, para seniman yang dahulu tinggal di sana kebanyakan pindah rumah atau kembali ke daerah asalnya. Tangkiwood sebenarnya punya rencana matang soal perkampungan artis dahulu, ujarnya. Sayang, itu tak pernah terlaksana hingga kini.

Bersambung ke halaman selanjutnya...
1 dari 2