Kami harus berjalan menyusuri pinggir Kali Beton, melewati permukiman padat penduduk, mengarah ke Pasar Tangki. Gang-gang kecil itu mustahil dilalui mobil. Motor berpapasan pun sulit, jalannya sungguh sempit. Untungnya, tak sulit menemukan rumah yang kami cari.
Siapa orang sekitar yang tak tahu Laila Sari. Ketenaran biduan era 1980-an itu masih dikenal warga sekitar. Bertanya rumah Laila di kawasan Tangki dan Bedila, semua tahu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tangkiwood, demikian nama daerah itu dahulu, memang terletak tak jauh dari kediaman Laila di Jalan Bedila. Dahulu itu disebut kampung artis. Banyak seniman tinggal di sana. Namanya saja sudah mirip-mirip pusat industri perfilman Amerika, Hollywood.
Tangkiwood yang dahulu kampung artis, kini jadi permukiman padat penduduk. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman) |
Saat itu era 1940 hngga 1950-an. Kata Laila, mereka kebanyakan menempati Gang Tangkiwood II, persis di depan Kali Beton. Gang itu dimulai dengan kedai kecil yang dikenal dengan Warung Sengki. Dinamai begitu karena pemiliknya adalah Babah Sengki, keturunan Tionghoa.
Warung itu masih berdiri hingga kini, diteruskan oleh anak dan menantunya: Neng dan Ayung.
Dari Warung Sengki ke belakang, berjejer permukiman artis yang kerap tampil di panggung Sandiwara Princen Park atau Taman Hiburan Rakyat Lokasari. Laila bercerita, artis banyak tinggal di sana karena Tan Ing Hi, pemilik Princen Park membuatkan kompleks untuk mereka.
Salah satu seniman ternama di masa itu adalah Moesa. Ia juga pemilik sandiwara. Rumahnya di samping warung Babah Sengki. Ketenaran Moesa adalah salah satu alasan Tan Ing Hi memberikan pemukiman untuk seniman. Kelak, orang-orang mengenal Moesa sebagai mertua Mak Bibah alias Hadidjah. Anak Moesa, Mas Sardi, menikah dengan Hadidjah.
Mereka lalu menghasilkan Idris Sardi, pemain biola kenamaan. Namanya bahkan masih dikenal hingga kini. Putra Idris juga menjadi aktor, yang tak lain adalah Lukman Sardi.
Dari rumah Moesa, berjejer rumah-rumah seniman lainnya yang berasal dari Sunda, Jawa, Palembang, hingga seniman Filipina yang beristri asli Indonesia. Laila ingat, puluhan rumah petak tempat tinggal seniman berjejer di Gang Tangkiwood hingga Princen Park.
Laila Sari masih setia tinggal di kampung artis Tangkiwood. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman) |
Gang Tangkiwood berujung pada rumah lama Laila, yang ayah tirinya merupakan pemusik asal Medan. Laila sendiri berasal dari Padang Panjang, Sumatera Barat. Ia pindah ke Bedila sekitar 1960-an. Ia ingat, artis penuh sesak tinggal di sana. Tua, muda, sampai bayi.
Adalah Bing Slamet yang akhirnya melabelinya dengan nama Tangkiwood. Laila tidak ingat soal sejarah penamaan itu. Yang jelas, para seniman yang tinggal di sana saat itu hidup rukun. Mereka pun punya berbagai kegiatan, mulai gotong royong sampai arisan.
Lihat juga:Daniel-Day Lewis Putuskan Pensiun Berakting |
Menurut Laila, para seniman yang dahulu tinggal di sana kebanyakan pindah rumah atau kembali ke daerah asalnya. Tangkiwood sebenarnya punya rencana matang soal perkampungan artis dahulu, ujarnya. Sayang, itu tak pernah terlaksana hingga kini.
Bersambung ke halaman selanjutnya...
Kapal 'Mesum' di Pusat Hiburan Princen Park
Tangkiwood kini menjadi permukiman padat penduduk yang cenderung kumuh. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
"Pentasnya di Lokasari, jadi tinggal menyeberang saja, ada pintunya," kata Laila.
Lokasari adalah sebutan lain untuk Princen Park.
Bukan hanya panggung sandiwara, tempat hiburan itu juga dilengkapi bioskop, restoran, hingga kelab malam. Princen Park sudah jadi pusat hiburan Ibu Kota sejak era Belanda.
Laila punya sejarah khusus dengan tempat itu. Untuk masuk Princen Park, termasuk bagi Laila yang kala itu masih remaja, dikenai tarif tertentu. Tapi ia tak mau rugi. Ia sering menyelinap dan main kucing-kucingan dengan penjaga. Laila juga tahu pintu tersembunyi.
Kelurahan Tangki dahulu dikenal dengan Tangkiwood. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman) |
Asal berhasil masuk, ia bisa menikmati bioskop dan layar tancap dengan cuma-cuma. Laila menyebut, ada lima bioskop dan satu layar tancap di lokasi terbuka di dalam Princen Park.
Bapak yang bawa perahu kan menghadap ke sono, nah berduaan deh tuh di dalam gorden.Laila Sari, artis |
Untuk menikmati keindahan danau, warga bisa menyewa perahu yang bakal membawa berkeliling. Perahu itu dilengkapi tirai bahkan kamar tidur. Biasanya para muda-mudi menyewa perahu itu untuk berpacaran. Bahkan ada jasa 'pacar sewaan' untuk menemani di dalam perahu.
“Mau bawa pacar sendiri juga enggak apa-apa. Wah bagus itu, antik. Bapak yang bawa perahu kan menghadap ke sono, nah berduaan deh tuh di dalam gorden,” tutur Laila santai.
Princen Park pun kini sudah tak ada, hanya menyisakan sebuah hotel bernama Prinsen Park dan plaza Lokasari Square di Jalan Mangga Besar 9. Di lokasi itu juga terdapat lahan kosong seluas dua hektar, yang disinyalir merupakan bekas lokasi pementasan terdahulu.
Princen Park kini hanya menyisakan hotel dan sebuah plaza, serta tanah lapang. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman) |
Tangkiwood yang dahulu kampung artis, kini jadi permukiman padat penduduk. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Laila Sari masih setia tinggal di kampung artis Tangkiwood. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Kelurahan Tangki dahulu dikenal dengan Tangkiwood. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Princen Park kini hanya menyisakan hotel dan sebuah plaza, serta tanah lapang. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)