EKSKLUSIF

Sore bersama Pierre Coffin, Rokok dan Minions di Kepalanya

Rizky Sekar Afrisia | CNN Indonesia
Rabu, 01 Nov 2017 16:40 WIB
Sore bersama Pierre Coffin, Rokok dan Minions di Kepalanya
Pierre Coffin, kreator minions yang berdarah Indonesia. (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)
Terlahir dari orang tua diplomat dan penulis, Pierre banyak membaca sejak kecil. Tapi sang ayah tidak memperbolehkannya menonton televisi. Pierre kecil pun frustrasi. Ia akhirnya mencari kegiatan yang bisa dilakukan saat bosan.

“Saya banyak membaca, saya banyak menggambar,” katanya.

Pria yang menyukai karakter kartun Droopy itu merasa, kondisi yang diciptakan ayahnya sedikit banyak memaksanya mengembangkan bakat yang lain. Di banyak waktu luang yang dimiliki, Pierre mengambil pensil dan mulai menggambar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Awalnya ia tak merasa berbakat. Pierre berharap ia bisa menggambar hal-hal realistis seperti manusia. Namun dibanding kartunis Perancis lain, ia merasa gambarnya sangat jelek. Ia pun mencoba menggambar hewan. Hasilnya lumayan.

Dari tiga garis kecil yang digoreskan pensilnya, Pierre bisa membuat tikus.

“Itu gambar pertama saya,” tuturnya mengenang.

Semakin dewasa, gambarnya semakin matang. Apalagi sejak ia menamatkan pendidikan di sekolah film animasi Gobelins di Paris. Dari situ, Pierre mulai bekerja di rumah produksi Amblimation yang berbasis di London, Inggris.


Di sanalah karya pertama Pierre yang dikenal, lahir. Itu adalah We're Back! A Dinosaur's Story. Karya itu penting, karena sutradara Hollywood terkenal, Steven Spielberg adalah produser eksekutifnya. Dari situ, karier Pierre menanjak. Ia menjadi pekerja lepas di studio CGI Perancis, Ex Machina.

Pings (1997) adalah film pertama di mana ia menjadi sutradara.

Tak hanya mengerjakan film, Pierre juga memproduksi beberapa iklan komersial. Serial pun digarapnya. Yang terkenal berjudul Pat & Stan, yang tayang di TF1.

“Itu serial dengan bintang kuda nil dan anjing. Saya butuh si kuda nil untuk kelaparan dan menggilai sesuatu. Saya melihat orang di kebun binatang memberi makan mereka dengan pisang. Jadi, saya buat itu pisang,” ia bercerita.

[Gambas:Youtube]

Pisang yang sama ia pakai untuk minions. Makhluk bawah tanah anak buah Gru itu dikisahkannya suka sekali pisang. “Itu bisa juga jadi alasan kenapa mereka kuning, karena mereka kebanyakan makan pisang,” ia lalu tertawa.

“Saya juga suka sekali pisang,” imbuhnya bersemangat.

Bersambung ke halaman berikutnya...
Ubud, CNN Indonesia -- Pria tinggi kurus dan berkaca mata itu terlihat seperti orang kebanyakan.

Tampangnya ramah, tak henti tersenyum. Pandangannya beredar ke seluruh ruangan sembari mengangguk-angguk, lalu terhenti pada tiga orang di hadapannya. Salah satunya CNNIndonesia.com, yang disapanya dengan hangat.

“Halo,” katanya bersemangat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pria itu lalu ikut saja ke mana ia diperintah. Duduk di taman pun boleh. “Tapi saya merokok dulu ya,” ujarnya sebelum wawancara, lalu asyik mengebulkan asap. Usai menyundutkan sigaret ke asbak, ia meneguk air putih.


“Silakan, bisa mulai kapan saja,” masih dalam bahasa Inggris.

Sekilas, tak terlihat bahwa pria berambut abu-abu itu adalah sineas kenamaan yang sudah wira-wiri di karpet merah pemutaran layar lebar Hollywood. Orang mungkin lebih mengenal sosok kuning berbahasa ‘alien’ yang diciptakannya.

Stuart, Kevin dan Bob.

Pria yang duduk di hadapan CNNIndonesia.com sore itu di tengah udara Ubud nan sejuk adalah Pierre Coffin, kreator minions. Ia menjadi salah satu pembicara di Ubud Writers and Readers Festival 2017, bersama ibunya sastrawan Nh Dini.


Sebelum si imut minion Bob berkata ‘terima kasih’ kepada Ratu Inggris dalam film Minions, tak banyak orang Indonesia berbincang soal Pierre. Identitasnya sebagai pria berdarah Indonesia baru ‘tepergok’ setelah kata itu muncul.

Padahal aslinya Pierre tidak berbahasa Indonesia.

“Ayah dan ibu saya bercerai terlalu cepat, dan saya ikut ayah saya. Jadi saya tidak bisa bahasa Indonesia,” ia berkata. Ayahnya Yves Coffin, yang menikahi Dini pada 1960 di Jepang. Pierre lahir sebagai anak kedua, pada 1967.

Sebelumnya, sang kakak Marie-Claire Lintang lahir pada 1961.

Nh Dini, novelis Indonesia, ibunda Pierre Coffin.Nh Dini, novelis Indonesia, ibunda Pierre Coffin. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)
Pierre-Louis Padang Coffin, begitu nama yang melekat pada Pierre saat dilahirkan di Perancis, harus menghadapi perceraian orang tuanya pada 1984. Usianya masih 17 tahun. Ia ikut ayahnya, sementara Dini kembali ke Indonesia.

Ia sebenarnya masih sering bertemu ibunya. Entah Pierre yang ke Indonesia atau ibunya yang datang ke Perancis. Tapi hanya beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang dikuasai Pierre. “[Terima kasih] itu mudah, nyantol banget di ingatan saya,” ujarnya, yang lalu menjadikan itu salah satu bahasa minions.

[Gambas:Video CNN]

Tapi kata lain, ia hampir tak paham. “Kebanyakan hanya yang berbasis makanan. Nasi goreng, teh manis, sate,” ia menyebutkan, lalu tertawa. Pierre memang suka makan dan memasak, termasuk makanan Indonesia. Ia bahkan mengaku suka kecap, yang biasa ia bubuhkan jika memasak barbeque bersama keluarga.


“Dimakan sama bumbu sate dan kerupuk, itu yang terbaik,” tuturnya.

Ia juga tak membaca buku-buku ibunya sendiri, yang begitu populer di Indonesia. Dini dikenal dengan buku seperti Sekayu, Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, Hati yang Damai, dan banyak lagi. Tokoh utamanya selalu perempuan.

Pierre menuturkan, banyak orang datang kepadanya dan membanggakan buku ibunya yang mereka baca. Bahkan buku pertama Dini disebut-sebut diajarkan di sekolah-sekolah. Tapi pria 50 tahun itu tak bisa merespons banyak.

Buku-buku karya Nh Dini.Buku-buku karya Nh Dini. (Dok. Koleksi PDS HB Jassin)
“Hampir tidak ada yang diterjemahkan ke bahasa Perancis atau Inggris,” ia beralasan kenapa tidak membaca buku-buku ibunya sendiri. Namun, Pierre ingat betul 20 tahun lalu ia pernah membaca salah satu cerita pendek sang ibunda.

Itu bagian dari antologi. Cerita persisnya Pierre lupa.

“Tapi saya sangat menikmatinya,” komentarnya sambil tersenyum.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Hampir Tak Pernah Nonton TV

Pierre Coffin bersama ibunya, Nh Dini yang menerima Lifetime Achievement Award di UWRF 2017. (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)

Terlahir dari orang tua diplomat dan penulis, Pierre banyak membaca sejak kecil. Tapi sang ayah tidak memperbolehkannya menonton televisi. Pierre kecil pun frustrasi. Ia akhirnya mencari kegiatan yang bisa dilakukan saat bosan.

“Saya banyak membaca, saya banyak menggambar,” katanya.

Pria yang menyukai karakter kartun Droopy itu merasa, kondisi yang diciptakan ayahnya sedikit banyak memaksanya mengembangkan bakat yang lain. Di banyak waktu luang yang dimiliki, Pierre mengambil pensil dan mulai menggambar.


Awalnya ia tak merasa berbakat. Pierre berharap ia bisa menggambar hal-hal realistis seperti manusia. Namun dibanding kartunis Perancis lain, ia merasa gambarnya sangat jelek. Ia pun mencoba menggambar hewan. Hasilnya lumayan.

Dari tiga garis kecil yang digoreskan pensilnya, Pierre bisa membuat tikus.

“Itu gambar pertama saya,” tuturnya mengenang.

Semakin dewasa, gambarnya semakin matang. Apalagi sejak ia menamatkan pendidikan di sekolah film animasi Gobelins di Paris. Dari situ, Pierre mulai bekerja di rumah produksi Amblimation yang berbasis di London, Inggris.


Di sanalah karya pertama Pierre yang dikenal, lahir. Itu adalah We're Back! A Dinosaur's Story. Karya itu penting, karena sutradara Hollywood terkenal, Steven Spielberg adalah produser eksekutifnya. Dari situ, karier Pierre menanjak. Ia menjadi pekerja lepas di studio CGI Perancis, Ex Machina.

Pings (1997) adalah film pertama di mana ia menjadi sutradara.

Tak hanya mengerjakan film, Pierre juga memproduksi beberapa iklan komersial. Serial pun digarapnya. Yang terkenal berjudul Pat & Stan, yang tayang di TF1.

“Itu serial dengan bintang kuda nil dan anjing. Saya butuh si kuda nil untuk kelaparan dan menggilai sesuatu. Saya melihat orang di kebun binatang memberi makan mereka dengan pisang. Jadi, saya buat itu pisang,” ia bercerita.

[Gambas:Youtube]

Pisang yang sama ia pakai untuk minions. Makhluk bawah tanah anak buah Gru itu dikisahkannya suka sekali pisang. “Itu bisa juga jadi alasan kenapa mereka kuning, karena mereka kebanyakan makan pisang,” ia lalu tertawa.

“Saya juga suka sekali pisang,” imbuhnya bersemangat.

Bersambung ke halaman berikutnya...
Jadi ‘Bapak’ Minions BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2 3 4