Menurut buku biografi Benyamin Sueb: Muka Kampung Rezeki Kota yang ditulis Ludhy Cahyana dan Muhlis Suaeri cetakan September 2006, Benyamin diketahui membintangi 61 judul film, dan memiliki 165 single dan 147 lagu duet.
Museum itu juga mesti mewariskan semangat Benyamin melestarikan kebudayaan dan kesenian. Museum itu dicita-citakan memiliki laboratorium musik, studio film, pusat kreativitas anak muda, semua yang menjadi semangat Benyamin dalam menjalani kehidupannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Memori Abadi Sang Ikon Betawi Benyamin Sueb |
"Tapi mudah-mudahan bisa terlaksana. Namun secara tertulis belum ada," kata Beno yang juga mengatakan bahwa gedung eks-Kodim ini banyak jadi 'rebutan' berbagai organisasi.
Masih Terseok-seok
Memiliki mimpi mulia memang ada tantangannya. Pun dengan museum Benyamin. Tak mudah untuk mewujudkannya, bahkan untuk mengumpulkan karya-karya Benyamin butuh perjuangan sendiri.
Menurut Benny, saat ini barang-barang peninggalan Benyamin tersebar di berbagai tempat, mulai dari rumah istri pertama Bang Ben, Noni, kemudian rumah mereka di Cinere, kantor Bens Radio di Jagakarsa juga Ciputat.
Bakiak, sepatu, tas, kacamata, lirik masih bertulis tangan, rekaman asli pita kaset, beskap, kendaraan pribadi, adalah sejumlah barang yang disebut Benny tak tahu rimbanya.
Foto-foto jadul Benyamin pun tersebar. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo) |
Beno pun mengatakan hal senada. Bahkan sejumlah benda diniatkan dibuat replikanya meski yang asli tak tahu hilang ke mana, seperti motor Honda 80 dan mobil Fiat 125 yang dimiliki Benyamin Sueb.
"Pasti bikin replika perlu biaya. Body perlu kami cari. Walau tak ada mesinnya, tak apa," kata Beno. "Itu dari mana biayanya? Masa dari keluarga, kalau bukan dari Pemprov?"
Bukan cuma dari koleksi dan lokasi yang masih membuat pusing pihak keluarga dalam menyempurnakan ide museum Benyamin Sueb. Masalah keberpihakan pemerintah daerah dan gonta-ganti kepala daerah disebut Beno juga jadi beban ide museum ini.
Lihat juga:Mencari Sisa Tawa dan Nyanyian Benyamin Sueb |
"Kami sekeluarga minta kepada pemimpin siapa pun yang memimpin," kata Beno yang menyebut masalah klasik "birokrasi" ikut jadi batu sandungan museum Benyamin Sueb.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Tinia Budati mengatakan pihak Pemerintah Provinsi DKI memang tengah mengkaji soal ide pembangunan museum Benyamin Sueb yang telah tertunda beberapa periode Gubernur Jakarta itu.
"Ini kami masih kaji, kan ada beberapa pilihan. Ini kami mau bentuk tim untuk mengkaji. Museum Benyamin tuh [bentuknya] apa? Aktivitasnya apa saja?" kata Tinia, kepada CNNIndonesia.com, Februari 2018.
"Kami harus carikan lahan yang cocok dan sesuai dengan konsep. Kami harus membuat tim dulu untuk membuat konsepnya. Tahun ini kami akan lakukan kajian dulu," lanjut Tinia yang juga mengatakan aspek pembiayaan turut menjadi bahan kajian nantinya.
Namun Tinia enggan menegaskan bahwa gedung eks-Kodim Jatinegara yang disebutkan pihak keluarga Benyamin menjadi calon terkuat museum ini. "Nanti kami akan buat tim dulu untuk menentukan di mana," kata Tinia.
Beno memahami bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membutuhkan kajian. Namun mengingat mimpi keluarga yang sudah tujuh tahun tertunda ini tampak masih menggantung di atas langit.
"Kami paham bahwa semua birokrasi dan perlu kajian. Tapi yang namanya kajian jangan terlalu banyak dikaji-kaji. Kami berharap insyaallah tahun ini tercapai yang kami minta di eks-Kodim, Jatinegara." kata Beno. (end)
Foto-foto jadul Benyamin pun tersebar. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Keluarga dan Reza Rahadian saat berziarah ke makam Benyamin Sueb di Karet Bivak, Januari 2018. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Gedung Eks- Kodim Jatinegara yang saat ini menjadi Pusat Kebudayaan Betawi. (Detikcom/Ibnu Haryanto)