Mimpi Panjang Keluarga Membangun Museum Benyamin Sueb

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Minggu, 04/03/2018 10:51 WIB
Masih Terseok-seok Beno Rachmat, putra keempat Benyamin Sueb dan ketua Yayasan Benyamin Sueb. (CNN Indonesia/Andito Gilang Pratama)

Masih Terseok-seok

Pihak keluarga memimpikan museum Benyamin Sueb bukan hanya sekadar 'gudang' menyimpan karya sang seniman.

Menurut buku biografi Benyamin Sueb: Muka Kampung Rezeki Kota yang ditulis Ludhy Cahyana dan Muhlis Suaeri cetakan September 2006, Benyamin diketahui membintangi 61 judul film, dan memiliki 165 single dan 147 lagu duet.

Museum itu juga mesti mewariskan semangat Benyamin melestarikan kebudayaan dan kesenian. Museum itu dicita-citakan memiliki laboratorium musik, studio film, pusat kreativitas anak muda, semua yang menjadi semangat Benyamin dalam menjalani kehidupannya.


"Belum ada," kata Beno Rachmat, ketua Yayasan Benyamin Sueb saat ini, ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com di kesempatan terpisah, saat ditanya peran pemerintah daerah untuk mimpi museum itu.


"Tapi mudah-mudahan bisa terlaksana. Namun secara tertulis belum ada," kata Beno yang juga mengatakan bahwa gedung eks-Kodim ini banyak jadi 'rebutan' berbagai organisasi.

Sehingga, Beno mengatakan yayasannya butuh kepastian dukungan untuk mewujudkan museum di gedung tersebut.

Masih Terseok-seok

Memiliki mimpi mulia memang ada tantangannya. Pun dengan museum Benyamin. Tak mudah untuk mewujudkannya, bahkan untuk mengumpulkan karya-karya Benyamin butuh perjuangan sendiri.

Menurut Benny, saat ini barang-barang peninggalan Benyamin tersebar di berbagai tempat, mulai dari rumah istri pertama Bang Ben, Noni, kemudian rumah mereka di Cinere, kantor Bens Radio di Jagakarsa juga Ciputat.

Bakiak, sepatu, tas, kacamata, lirik masih bertulis tangan, rekaman asli pita kaset, beskap, kendaraan pribadi, adalah sejumlah barang yang disebut Benny tak tahu rimbanya.

Foto-foto jadul Benyamin pun tersebar.Foto-foto jadul Benyamin pun tersebar. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
"Padahal Babe punya VW kodok, motor yang digenjot, perlu waktu untuk mengumpulkan itu," kata Benny yang kemudian mengatakan sejumlah foto jadul, barang peninggalan pribadi, beberapa rel film, dan karya musik yang telah digitalisasi siap masuk museum.

Beno pun mengatakan hal senada. Bahkan sejumlah benda diniatkan dibuat replikanya meski yang asli tak tahu hilang ke mana, seperti motor Honda 80 dan mobil Fiat 125 yang dimiliki Benyamin Sueb.

"Pasti bikin replika perlu biaya. Body perlu kami cari. Walau tak ada mesinnya, tak apa," kata Beno. "Itu dari mana biayanya? Masa dari keluarga, kalau bukan dari Pemprov?"

Bukan cuma dari koleksi dan lokasi yang masih membuat pusing pihak keluarga dalam menyempurnakan ide museum Benyamin Sueb. Masalah keberpihakan pemerintah daerah dan gonta-ganti kepala daerah disebut Beno juga jadi beban ide museum ini.


"Kami sekeluarga minta kepada pemimpin siapa pun yang memimpin," kata Beno yang menyebut masalah klasik "birokrasi" ikut jadi batu sandungan museum Benyamin Sueb.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Tinia Budati mengatakan pihak Pemerintah Provinsi DKI memang tengah mengkaji soal ide pembangunan museum Benyamin Sueb yang telah tertunda beberapa periode Gubernur Jakarta itu.

"Ini kami masih kaji, kan ada beberapa pilihan. Ini kami mau bentuk tim untuk mengkaji. Museum Benyamin tuh [bentuknya] apa? Aktivitasnya apa saja?" kata Tinia, kepada CNNIndonesia.com, Februari 2018.

"Kami harus carikan lahan yang cocok dan sesuai dengan konsep. Kami harus membuat tim dulu untuk membuat konsepnya. Tahun ini kami akan lakukan kajian dulu," lanjut Tinia yang juga mengatakan aspek pembiayaan turut menjadi bahan kajian nantinya.

Namun Tinia enggan menegaskan bahwa gedung eks-Kodim Jatinegara yang disebutkan pihak keluarga Benyamin menjadi calon terkuat museum ini. "Nanti kami akan buat tim dulu untuk menentukan di mana," kata Tinia.


Beno memahami bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membutuhkan kajian. Namun mengingat mimpi keluarga yang sudah tujuh tahun tertunda ini tampak masih menggantung di atas langit.

"Kami paham bahwa semua birokrasi dan perlu kajian. Tapi yang namanya kajian jangan terlalu banyak dikaji-kaji. Kami berharap insyaallah tahun ini tercapai yang kami minta di eks-Kodim, Jatinegara." kata Beno. (end)
HALAMAN :
1 2