Mengenang Sukses The Rollies, Band Indonesia Serba Pertama

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Selasa, 20/03/2018 20:57 WIB
Mengenang Sukses The Rollies, Band Indonesia Serba Pertama Penampilan terbaru The Rollies di Java Jazz Festival 2018, meski tak lagi muda tetap energik. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Musisi Indonesia 'zaman now' yang sibuk bercita-cita go international, mesti menengok cerita The Rollies yang sudah melakukannya sejak 1960-an. Pengamat musik David Tarigan pun mengakui itu.

"The Rollies musisi Indonesia sudah melakukan itu [go international] pada era '60-an. Mungkin band pertama yang go international," kata David di Jakarta, Senin (19/3).

Nama The Rollies mungkin asing di telinga pencinta musik era 2000-an. Namun di era '60-an, '70-an dan '80-an, mereka seakan legenda.



Formasi pertama The Rollies adalah bassis Deddy Stanzah, drummer Iwan Krisnawan, gitaris Tengku Zulian Iskandar Madian dan kibordis Delly Joko Arifin. Baru pada 1967, Bangun Sugito alias Gito Rollies bergabung dengan mengambil peran vokalis.

Kurang lebih tiga bulan setelah terbentuk, The Rollies nekat terbang ke Singapura untuk rekaman album perdana. Album self-titled itu sukses dan laris Singapura pada 1968.

Saat kembali ke Indonesia, The Rollies memutuskan mengajak Benny Likumahuwa bergabung karena mereka ingin mengembangkan musik yang dimainkan. Benny mengaku sebagai orang yang ikut 'memoles' The Rollies. Awalnya, kata dia, The Rollies tak tahu membaca nada.

Benny Likumahuwa merupakan musisi yang digandeng The Rollies untuk 'memoles' musikalitas mereka.Benny Likumahuwa merupakan musisi yang digandeng The Rollies untuk 'memoles' musikalitas mereka. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
"[Tapi] personel The Rollies punya kemauan keras. Saat itu seolah-olah saya suap mereka, sampai mereka bisa menangkap [musik] dan muncul seperti itu," kata Benny bercerita.

Dengan kemampuan musik yang semakin matang, pada 1969 The Rollies kembali ke Singapura untuk merekam album kedua. Judulnya Halo Bandung. Sudah ada Benny di dalamnya.

Sama seperti album pertama, album itu laris manis, bahkan sampai ke Malaysia, Thailand dan Jepang. Sejak itu, The Rollies mendapat label sebagai band pertama yang merekam lagu di Singapura. Secara konsisten nama mereka naik di kancah musik Indonesia.


David menilai The Rollies sebagai band serba pertama dengan banyak terobosan. Selain rekaman di luar negeri, The Rollies juga band pertama yang menjadikan drummer sebagai vokalis, merilis album live, pun yang pertama memakai instrumen gamelan dalam lagu.

"Saya rasa The Rollies juga band pertama yang memakai narkoba," kata Benny sambil tertawa.

Itu bukan hanya candaan. The Rollies yang sukses lewat lagu-lagu bergenre jazz rock, soul dan funk memang pernah tersandung kasus obat terlarang. Itu terjadi pada 1974, setelah The Rollies sukses dengan album-album seperti Let's Start Again (1971), Bad News (1972) dan Sign of Love (1973). Album Let's Start Again dan Bad News digarap di bawah naungan Remaco, sedangkan album Sign of Love digarap di bawah naungan Purnama Records.

Penampilan terbaru The Rollies.Penampilan terbaru The Rollies. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Deddy, Gito dan Iwan adalah personel yang memakai narkoba. Karena tak mau nama The Rollies rusak di puncak kesuksesan, Benny meminta Deddy dan Iwan untuk keluar.

Kejadian itu membuat The Rollies runtuh. Tak lama kemudian bassis Oetje Tekol dan drummer Jimmy Manoppo bergabung menggantikan posisi Deddy dan Iwan. Oetje dan Jimmy masih ingat bagaimana mereka bisa bergabung dengan band yang serba pertama itu.

"Saya biasa main di kelab, lampu gelap dan suka senderan. Pas manggung pertama, dipanggil The Rollies langsung pecah dan terang banget, penggemar berteriak. Baru lagu pertama saya nangis, tidak nyangka," kata Jimmy mengenang masa-masa itu.


Otje menimpali sambil tertawa dan menunjuk diri sendiri, "Jangan lupa, The Rollies juga menjadi band pertama yang bassisnya main dengan teknik slap."

Setelah kasus narkoba, The Rollies kembali bangkit. Pada 1976 mereka merilis dua album lagi, Live in TIM dan Tidak Kusangka. The Rollies bagai raja panggung saat itu. Kota yang mereka kunjungi selalu ramai penonton, terutama di Surabaya dan Malang, Jawa Timur.

Benny menjelaskan, The Rollies memiliki cara promosi unik setiap tampil. Sebelum tampil personel diarak keliling perumahan agar penggemar percaya bahwa The Rollies benar datang.

"Promotor dulu tukang tipu. Selain promosi, kami diarak juga untuk bukti. Penggemar di daerah Jawa Timur kalau mau nonton nabung enam sampai tujuh bulan. Kalau gagal manggung disambitin, mereka udah bawa batu, kaleng dan telor busuk," kata Benny bercerita.

[Gambas:Youtube]

Namun semakin tahun persaingan dalam skema musik Indonesia mulai ketat. The Rollies yang idealis mulai kompromi dengan keadaan pasar, mereka pun pindah ke naungan Musica Studios.

"Kata label, album pertama silakan buat sesuai keinginan. Album kedua 30 persen, pasar 70 persen idealis. Album ketiga 40 persen pasar, 60 persen idealis. Kemudian mereka bilang bisa enggak buat musik seperti Bimbo atau The Mercys," cerita Benny lagi.

"Saya bilang kalau mau seperti itu undang saja mereka," lanjutnya menegaskan.


Meski begitu, mereka sempat menghasilkan Kemarau (1978), Burung Kecil (1978) dan Astuti (1983). Lagu-lagu itu terasa lebih pop dibanding karya sebelumnya yang sangat jazz, rock, funk, dan soul. Tapi gaya musik unik mereka tetap ada, kemauan label tak dituruti penuh.

"Kita berani kok, kami bisa naik karena tampil dari panggung ke panggung, bukan dari rekaman. Di Papua dan Aceh ada penggemar kami, padahal kami belum pernah ke sana. Mereka tahu dari baca majalah," kata Benny. Saat itu, lanjutnya, The Rollies trendsetter.

Apa yang mereka pakai bahkan diikuti penggemar di seluruh Indonesia. Saking bekennya, The Rollies bisa tampil di 30 kota sekali tur. Setiap hari mereka berpindah tempat.

Lebih besar dari Koes Ploes. Cukup kaya, tapi kita buang saja karena gampang [dapat uang].Benny Likumahuwa, The Rollies
"Saya bikin peraturan, promotor harus bayar 25 persen sebelum berangkat dan 50 persen ketika kami sampai sebelum pasang alat. Sebelum manggung kami minta lunas, kalau tidak kami akan pulang, karena kami pernah ketipu tidak dapat bayaran," kata Benny.

Sayang, Benny lupa berapa bayarannya saat itu. Yang jelas, "Lebih besar dari Koes Ploes. Cukup kaya, tapi kita buang saja karena gampang [dapat uang]," Benny sedikit jemawa.

Kesuksesan terus mengikuti The Rollies sampai berdekade-dekade kemudian. Mereka sempat berhenti merilis album pada 1990-an. Sekitar 16 tahun kemudian, pada 2013, mereka merilis album baru dengan genre jazz rock. Return, judul album di usia ke-46 mereka itu.

Yang terbaru, The Rollies tampil di Java Jazz Festival 2018. Meski tak lagi muda, mereka tetap tampil energik. Itu pun sekaligus menjadi bukti bahwa The Rollies eksis hingga kini.


Benny bahkan akan merilis album sebagai penghormatan untuk The Rollies, April mendatang. Album itu akan diisi oleh musisi muda seperti Rhesa Aditya dan Endah Widiastuti. (rsa)